Hari Jumat, acara seminar nasional di kampus.
Zahra hadir sebagai asisten dosen, bertugas di bagian registrasi dan dokumentasi. Ia tampil anggun dalam blouse soft beige dan rok plisket creamy peach yang jatuh lembut hingga mata kaki. Kerudung nude pink membingkai wajah putihnya dengan manis, warnanya senada dan menyatu sempurna dengan seluruh busana. Penampilannya rapi, hangat, dan feminin cukup satu pandang untuk tahu, inilah sosok dosen muda yang profesional tapi tetap memikat. Name tag kecil bertuliskan "Zahra - Asisten Dosen" tersemat rapi di dadanya, tak mencolok, tapi justru itu yang membuatnya mencuri perhatian.
Di luar dugaan, dua tamu istimewa hadir di acara itu.
Yang pertama: Mas Rajif.
Dia datang sebagai perwakilan dari lembaga militer yang diundang kampus untuk jadi narasumber. Dengan seragam rapi dan wajah serius, dia langsung jadi pusat perhatian mahasiswa.
Zahra yang baru keluar dari ruang panitia hampir menjatuhkan clipboard-nya saat lihat Mas Rajif berdiri di lobi kampus. Tapi lebih kaget lagi ketika...
Yang kedua muncul: Mayted.
Dengan jaket abu, kaos hitam polos, celana tactical dan topi khasnya. Nggak pakai seragam resmi-datang sebagai tamu mendampingi pihak kampus yang ternyata punya kerja sama dengan unit khusus tempat dia bertugas.
Mereka berdua... datang. Di saat bersamaan.
Zahra langsung panik dalam hati. "Ya Allah... ini apaan sih hidupku??"
Reva yang dari tadi ngefoto-fotoin acara dari jauh, langsung ngintip ke Zahra sambil nyeletuk lewat chat:
Reva:
"Cieeee. Duo pangeran turun ke kampus, demi kamu?"
Zahra cuma bisa balas emoji lemas.
-----
Pak Julian, dosen yang suka sama Zahra dari dulu, juga hadir sebagai moderator.
Dan waktu sesi panel berakhir, beliau menghampiri Zahra dan menyapa dengan hangat.
"Zahra. Kamu beresin semua rundown-nya rapi banget. Aku bangga," ucapnya sambil tersenyum tulus.
Zahra membalas, "Terima kasih banyak, Pak. Alhamdulillah, semuanya kerja tim."
Tanpa sadar, baik Mayted maupun Rajif memperhatikan momen itu dari kejauhan dan entah kenapa, masing-masing ngerasa... ada sedikit ketar-ketir di dada mereka.
-----
Di akhir acara...
Pak Julian menghampiri Zahra sambil menyerahkan folder, lalu bicara pelan.
"Nanti setelah semester ini selesai, aku ada info soal beasiswa lanjutan buat kamu. Tapi ya... itu kalau kamu belum punya rencana lain. Aku tahu kamu banyak yang memperhatikan, Zahra."
Zahra bengong. "Maksud Pak Julian...?"
Tapi belum sempat menjawab, langkah dua pria bersahutan mendekat. Mas Rajif muncul dari sisi kanan aula, sementara Mayted muncul dari lorong samping.
Keduanya sama-sama berhenti di depan Zahra dan Pak Julian. Sejenak suasana jadi canggung.
Mas Rajif angkat bicara duluan, suaranya tenang tapi langsung mengarah,
"Zahra, kamu masih sibuk? Aku bantuin beresin area registrasi, ya?"
Baru Zahra mau jawab, Mayted menoleh ke Rajif, lalu ke Zahra. Tatapannya tegas, suaranya pelan tapi dalam.
"Zahra, aku tunggu di luar. Ada hal penting yang mau aku omongin... cuma berdua."
Zahra langsung terdiam. Tangannya masih memegang folder dari Pak Julian, tapi matanya melirik ke Rajif, lalu ke Mayted. Mereka sama-sama menunggu. Dan di belakangnya, Pak Julian masih berdiri, diam, menatap Zahra dengan pandangan yang sulit dibaca.
Hatinya? Berisik.
Kepalanya? Sumpek.
Dan yang ingin dia lakukan sekarang?
Lari ke musholla dan tarik napas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Kamu
FanfictionIni adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :) -kutipan Rini bee ‼️Disclaimer‼️ 📌 ini han...
