Ini adalah kisah perjalanan saya. Kisah yang mungkin juga tentang kamu, dia ataupun mereka. Kisah yang terekam di hati saya. Sebuah karya sederhana untuk cinta yang luar biasa. Sebuah perjalanan hati.. :)
-kutipan Rini bee
‼️Disclaimer‼️
📌 ini han...
Suasana makin ramai. Musik kampanye menggema, bendera-bendera biru muda berkibar di mana-mana. Orang-orang mulai berkerumun dekat panggung. Mayted sempat kehilangan pandangan Zahra beberapa detik karena harus bantu koordinator lapangan.
"Zahra mana ya?" batin Mayted, mulai celingukan.
Di sisi lain, Zahra yang lagi nyari tempat teduh malah kejebak di antara kerumunan ibu-ibu yang antusias goyang bareng lagu dangdut kampanye.
"Aduh... kenapa jadi nyasar ke sini sih?" gumam Zahra panik, coba keluar dari kerumunan.
Tiba-tiba, ada tangan menarik pergelangan tangannya-lembut tapi cukup kuat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zahra langsung noleh.
Mas Rajif. Matanya tenang, suaranya jelas meski ribut-ribut.
Rajif: "Ra, sini. Ikut aku. Kamu keseret kerumunan."
Zahra cuma bisa mengangguk kecil, setengah malu setengah lega. Dia mengikuti Rajif melewati lautan manusia, tangannya masih dipegang. Hangat. Aman.
Sampai akhirnya mereka sampai di tempat yang agak sepi, dekat barisan relawan. Rajif melepaskan tangannya perlahan, tapi matanya nggak lepas dari wajah Zahra.
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Mas Rajif
"Iya... makasih ya, Mas..." jawab Zahra dengan suara pelan
Belum sempat suasana kembali normal, Mayted muncul dari arah berlawanan. Wajahnya sempat berubah saat lihat Rajif dan Zahra berdiri berdua.
"Zahra. Kamu tadi ke mana aja? Aku sempat nyariin..." tanya Mayted
Mereka bertiga saling pandang, tapi nggak ada yang melanjutkan percakapan. Ada jeda. Ada udara yang mendadak tebal.
Zahra menarik napas. Dalam hati, "Tolong... jangan bikin aku salah langkah di antara dua tatapan itu..."
-----
Di tengah terik matahari yang menyengat, Zahra berdiri sendirian di pinggir lapangan. Meski sendirian, hiruk-pikuk massa pendukung Pak Prabowo masih ramai terdengar di sekelilingnya-teriakan semangat, kibaran bendera, dan suara toa yang tiada henti. Ia menghapus peluh di keningnya, mencoba bertahan di tengah suasana yang panas, baik oleh cuaca maupun semangat kampanye.
Tiba - tiba...
"RAAAAA!!" Empat suara familiar terdengar kompak. Lia, Pia, dan Reva muncul dari kerumunan, langsung nyamperin Zahra yang lagi sendiri.
Lia: "Duh cantik banget sih kamu hari ini, fix kalah deh kita semua!"
Pia: "Tapi... bentar. Itu topi? Kayak... bukan topi kamu deh."
Lia: "Iya! Serius, Zah. Itu bukan gaya kamu banget. Kok cowok banget gitu..."
Zahra langsung gelagapan, buru-buru copot topi dan nyelipin ke belakang tasnya.