28

272 15 6
                                        

Hari Senin pagi, kampus mulai padat. Mahasiswa lalu-lalang, beberapa menyapa Zahra yang sedang berjalan cepat menuju ruang dosen. Dengan kemeja putih dan rok panjang biru tua, Zahra tampak anggun seperti biasa. Hijab biru pastel yang ia pakai selaras dengan tas selempangnya.

"Zahra, nanti bantu saya ngasih soal kuis, ya," ucap Bu Lely, dosen pembimbingnya, saat mereka berpapasan.

"Siap, Bu," jawab Zahra sopan.

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai asisten dosen, Zahra memutuskan mampir ke ruang baca fakultas. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok tinggi di depan rak buku, membalik halaman jurnal matematika sambil menyesap kopi dari tumbler hitam.

Pak Julian.

Dosen muda yang dikenal tenang, rapi, dan cerdas. Gaya bicaranya kalem, tapi penuh makna. Sejak Zahra masih semester awal S1, beliau selalu memperhatikan Zahra secara profesional tapi penuh ketulusan.

"Hai.. Zahra," sapa Pak Julian begitu melihatnya.

"Eh iya, Pak. Sudah lama di sini?"

"Baru tadi. Kamu kelihatan sibuk sekarang. Asistennya Bu Lely ya?"

Zahra mengangguk, lalu tersenyum. "Iya, Pak. Lagi bantu-bantu ujian juga."

Pak Julian mengangguk pelan, matanya menatap penuh rasa kagum. Tapi tetap menjaga jarak cara beliau menghargai Zahra selalu terasa tulus.

"Zahra..." ucapnya setelah hening beberapa detik. "Saya sempat lihat kamu di TV. Di kampanye Pak Prabowo, ya?"

Zahra tersenyum, agak kaget. "Oh... iya, Pak. Bantu-bantu juga."

"Hebat," ujarnya sambil mengangguk pelan. "Saya bangga kamu tetap aktif, tapi tetap Zahra yang saya kenal-sederhana, santun, dan tetap bersinar."

Zahra sedikit terdiam. Bukan karena malu-tapi karena kalimat itu menyentuh... dan tidak dibuat-buat.

---

Zahra masih berdiri di ruang baca, lalu "pak maaf saya duluan ya"
Zahra membungkuk sopan, pamit. Tapi saat hendak keluar, Pak Julian menyusul, membawa beberapa buku di tangan.

"Zahra, kamu masih pakai motor kampus yang dulu?" tanyanya sambil berjalan sejajar.

"Enggak, Pak. Sekarang lebih sering bawa mobil, kadang naik ojek online atau kadang dijemput..." Zahra menggantung kalimatnya. Wajah Mayted sempat melintas di kepalanya.

"Dijemput... pacar?" Pak Julian bertanya ringan, tidak menekan, tapi cukup membuat langkah Zahra sedikit melambat.

"Enggak, bukan pacar..." jawab Zahra pelan, menunduk.

Pak Julian tersenyum tipis, penuh pengertian. "Siapapun dia, dia beruntung bisa kenal kamu."

Zahra terdiam. Kenapa ya, akhir-akhir ini semua laki-laki di sekitarnya seperti... memperlakukannya berbeda?

Sore harinya, saat Zahra baru saja keluar dari ruang dosen, ponselnya bergetar. Notifikasi dari Mayted.

Mayted:
"Sudah selesai kuliah? Mau saya jemput?"

Ya.. Mayted tau kalau Zahra hari ini ada jadwal ngajar di kampusnya.

Zahra belum sempat membalas, tiba-tiba notifikasi lain muncul.

Mas Rajif:
"Ra, besok ada waktu? Aku mau ngobrol sesuatu. Cuma sebentar."

Zahra terdiam di lorong kampus, di tengah lalu-lalang mahasiswa. Tangannya memegang ponsel, tapi pikirannya terpecah tiga arah.

Mayted yang makin hangat dan perhatian.
Mas Rajif yang belakangan ini sering muncul dan... tatapannya seolah menyimpan sesuatu.
Dan sekarang, Pak Julian-sosok matang yang begitu tenang, tapi kali ini ucapannya menyentuh jauh ke dalam hati.

Zahra menghela napas.

"Ya Allah... ini kenapa hatiku kayak lagi ditanya sidang skripsi ya?"

-----

Dengan langkah cepat Zahra berjalan menuju tempat parkiran ojek online. Tapi dalam kepalanya? Berisik luar biasa.

Sampai di kamar, Zahra rebahan sambil memeluk guling, lalu ngetik ke Reva.

Zahra:
"Reev... kamu free?"

Reva:
"Kalo buat dengerin drama kamu, aku selalu free, Bu dosen ku tersayang."

Zahra:
"Aku bener-bener bingung."

Beberapa detik kemudian, ponsel Zahra langsung bunyi. Reva nelpon.

"Ceritain. Sekarang," suara Reva di seberang, setengah serius, setengah penasaran.

Zahra menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang Pak Julian yang muncul lagi di hidupnya, tentang tatapan Mas Rajif yang akhir-akhir ini... bikin deg-degan, dan tentu saja, tentang Mas Teddy, yang makin hari makin bikin dia merasa dilindungi, tapi juga makin bikin hatinya sulit tenang.

"Aduh, Ra..." Reva langsung heboh. "Kamu tuh ya... beneran kayak karakter utama di drama kampus militer gitu loh! Gila! Tiga-tiganya... berat semua! GABISAA!!"

"Aku juga nggak minta begini," Zahra mengeluh sambil nutup mukanya dengan bantal.

Reva cuma tertawa. "Oke. Sekarang jujur, kalau mereka semua datang bersamaan dan nungguin kamu di depan rumah kamu, kamu keluar dan nyamperin siapa?"

Zahra terdiam. Lalu... malah tambah memeluk bantal.

"Aaaaaaaaakh! Aku nggak tahu, Revaaa!!"

------

Sementara itu, di sisi lain kota...

Mayted duduk di ruang tamu rumahnya, menatap layar ponselnya yang diam. Jemarinya mengetik, lalu menghapus. Berkali-kali.

Mayted:
"Zahra, boleh kita ketemu? Tapi bukan soal tugas."

Belum dikirim. Dia menghapus lagi.

Tapi niat itu tetap ada.

Dan di tempat berbeda, Mas Rajif sedang menatap foto Zahra yang ia ambil diam-diam saat acara kampanye kemarin. Wajah Zahra yang tertutup topi hitam bertulisan Ranger, senyumnya, tatapannya.

Mas Rajif bergumam pelan, "Kalau kamu milih dia, aku masih boleh tetap jagain kamu dari jauh, kan?"

-----


Bersambung...

Gimana? bingung ga tuh🤭

Ada 3 tim sekang!!
1. Tim Mas Teddy
2. Tim Mas Rajif
3. Tim Mas Julian sang dosen muda

Kalian tim yg mana nih🤔🤔

see you di part selanjutnyaa..
di tunggu yaaa🤗

jangan lupa vote dan komenyaa💗

Aku dan KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang