Vada sedang menyelesaikan sketsa tapak lokasi yang tadi sore ia survey. Sketsa tersebut merupakan bagian dari laporan singkat yang akan ia serahkan kepada Bagas sebelum menghadiri jamuan makan malam. Sejujurnya Vada cukup lelah dan sangat enggan untuk menghadiri acara tersebut, namun ia setidaknya harus menampakkan dirinya sebentar demi norma kesopanan. Ia juga tidak tahu apakah Bagas mengetahui adanya acara tersebut dan apakah ia akan menghadirinya. Ia memutuskan untuk memberitahunya secara singkat sambil menyerahkan laporan tersebut.
Vada sendiri sudah dalam keadaan rapi dan berdandan. Ia mengenakan gaun panjang berwarna ungu gelap tanpa lengan. Dari depan memang terlihat potongan gaun tersebut biasa saja, namun sebenarnya gaun tersebut memiliki punggung yang rendah dan terbuka. Ia tahu gaun ini akan memicu reaksi berlebihan dari Bagas, namun Vada benar-benar tidak membawa gaun lain yang pantas untuk acara jamuan makan malam. Makanya ia sengaja hanya menggelung rambutnya menjadi ikal-ikal yang cantik dan menggerainya ke belakang untuk menutupi kulit punggungnya yang terbuka.
Vada menarik nafas sebelum memberanikan diri mengetuk pintu kamar Bagas.
-tok tok tok-
"Sebentar," sayup-sayup terdengar suara Bagas. Ia membuka pintu. Vada sedikit terkejut melihat Bagas yang sudah berkemeja rapi meskipun dasi kupu-kupunya belum sempat ia ikatkan.
"Ini.. laporan yang Bapak minta. Hanya laporan singkat dan sketsa kasar, survey tadi hanya sekitar satu jam saja," kata Vada sambil menyodorkan lembaran kertas kepada Bagas.
"Terima kasih," Bagas mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk meletakkan laporan tersebut ke kamar. Ia lalu kembali ke depan kaca yang berada di dekat pintu kamarnya yang terbuka.
"Bapak sepertinya sudah tahu mengenai acara jamuan makan malam nanti. Kalau begitu, saya turun duluan."
"Tunggu sebentar," ujar Bagas," saya kan ikut turun denganmu. Tapi saya harus menyelesaikan dasi sialan ini." Ia terlihat kesulitan mengikatkan dasi kupu-kupu tersebut di lehernya.
Vada awalnya hanya diam menyaksikan Bagas yang bersusah payah dengan dasi tersebut, namun lama-lama ia tak sabar juga. "Sini, saya bantu."
Vada mengikatkan dasi kupu-kupu tersebut dalam waktu sekejap. Puas dengan hasil karyanya, ia merapikan posisi dasi tersebut dan mengakhirinya dengan sentuhan di dada Bagas. Bagas yang hanya bisa diam menunggu, tidak menyadari bahwa lagi-lagi ia mencuri pandang ke wajah Vada. Riasan yang ia pakai malam ini benar-benar menonjolkan warna mata cokelat ambernya. Bagas sudah pernah menemui wanita dengan berbagai warna mata yang berbeda-beda, namun entah kenapa hanya mata cokelat amber Vada saja yang tak bisa ia lupakan.
"Sudah selesai," kata Vada dengan senyuman bangga di wajahnya.
Bagas berdeham. "Ayo kita turun." Bagas mengenakan jas yang tergantung di pintu lemari, kemudian mengambil kartu kunci kamar dan mengunci pintunya. Ketika memasuki lift ia baru menyadari punggung gaun Vada yang terbuka ketika Vada membelakanginya. Ia hendak mengomentari, namun Vada keburu melotot ke arahnya, seakan-akan mengancamnya jika ia berani mengeluarkan komentar sedikitpun tentang gaun Vada. Bagas hendak mengatakan komentar singkat ketika pintu lift tertutup namun tiba-tiba pintu lift terbuka lagi untuk membiarkan sebuah pasangan suami istri yang sudah lansia. Sang istri tersenyum dan menyapa mereka.
"Oh, selamat malam," sapanya ceria. Vada dan Bagas membalas sapaan tersebut dengan sopan. Keberadaan pasangan tersebut mendorong posisi mereka hingga ke belakang lift. Bagas yang mau berkomentar menjadi urung. Ia kembali melirik ke punggung Vada yang terbuka. Entah dorongan darimana, tiba-tiba tangannya tergerak menyentuh punggung Vada yang terbuka.
Vada sedikit terkesiap. Ia melirik ke arah Bagas yang ekspresinya tetap datar. Ia sedikit menggeliat untuk memberi gestur bahwa sentuhan Bagas membuatnya tak nyaman. Namun bukannya melepaskan tangannya, Bagas malah membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan ibu jarinya dipunggung Vada. Tidak ada yang curiga, sebab dari depan posisi mereka hanya terlihat seperti rangkulan sopan antar kolega. Namun Vada yang merasakan sentuhan Bagas tersebut seperti terkena aliran listrik yang membuat tubuhnya panas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ovulation Complex
RomanceVada Kusuma, 24 tahun, seorang arsitek muda, memiliki penyakit Ovulation Complex. Penyakit ini memberikan dorongan seksual yang tak bisa ia kontrol. Bagas Wendell, 27 tahun, atasan sekaligus kakak kelas Vada dulu saat kuliah. Tak mengetahui mengenai...
