Author's POV
Bagaskara Wendell terlihat sedang merokok di balkon penthousenya. Ia menghembuskan asap putih sambil mengerutkan dahi. Ia kesal karena setiap harus bertatap muka dengan Vada, mulutnya selalu terdorong untuk mengeluarkan kata-kata tajam, yang tentunya dibalas dengan lebih tajam oleh Vada. Orang-orang di sekelilingnya mungkin tidak mengerti, termasuk Vada sendiri, mengapa selalu ada kebencian diantara mereka. Bagas juga bukan bermaksud menyulut api permusuhan dalam setiap pertemuannya dengan Vada, tetapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak membayangkan pemandangan menyakitkan yang ia saksikan 6 tahun yang lalu. Mengapa ia masih belum move on dari kejadian itu, ia sendiri belum bisa menjawab. Itu karena kau masih memiliki perasaan kepadanya, bodoh, celetuk suara hatinya yang paling dalam. Bagas menggeleng berusaha menolak pikiran tersebut.
Bagas mematikan rokoknya yang masih panjang. Ia mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"Kristin, kau sudah mengirimkan tiket dan itinerary ke email Nona Kusuma? Bagus. Kau juga sudah mencetak bahan-bahan risetku kan? Sempurna. Sekarang tolong telepon supir kantor dan minta dia jemput Nona Kusuma di apartemennya jam 5 pagi. Aku tidak mau ia terkena macet dan sampai ketinggalan pesawat. Kau kan libur selama aku di Bali? Nah, besok aku mau kau menelepon Nona Kusuma jam 4 pagi untuk membangunkannya. Sekalian juga kau telepon aku setelah itu. Baik. Tidak ada lagi. Terima kasih, Kristin."
Kristin adalah wanita yang sejak remaja telah menjadi babysitter Bagas. Ketika Bagas sudah cukup besar untuk tidak lagi diasuh, orangtuanya mengirimnya untuk sekolah dan memberinya berbagai macam pelatihan, hingga sekarang menjadi sekretaris Bagas merangkap personal assistant. Kristin sudah Bagas anggap sebagai ibu keduanya. Kristin menutup teleponnya dan mencari alamat Vada di database kantor untuk disampaikan ke supir kantor nanti. Mendengar permintaan Bagas yang ini itu untuk 'Nona Kusuma', Kristin mendengus lucu. Ia tahu dibalik berbagai macam alasan yang Bagas utarakan kepadanya, sebenarnya Bagas ingin Vada diperlakukan secara istimewa.
Bagas akhirnya masuk ke kamar tidur dan merebahkan badannya di atas kasur. Suasana malam yang hening membuatnya semakin mengantuk. Namun sebelum ia benar-benar tertidur, suara hatinya dengan lancang berkata, bahkan kau masih memikirkan betapa seksinya Vada meskipun dengan blus berkancing rapat dan celana panjang, bodoh.
Jam 4 tepat, ponsel Vada berdering. Vada yang masih tertidur di atas kopernya pun bangun dengan terkaget-kaget.
"Halo, ya Bu Kristin? Ya Tuhan, sudah jam 4 pagi ya? Terima kasih telah membangunkanku, Bu. Supir kantor? Menjemput saya satu jam lagi? Oh Tuhan bahkan koperku masih belum beres! Sudah dulu ya, Bu, terima kasih banyak!"
Vada pun berlarian kesana-kemari mengambil barang-barangnya yang belum masuk koper. Pakaian dalam, peralatan mandi, handuk, sepatu cadangan, semua ia lempar sembarangan ke dalam koper. Karena isinya yang berantakan, koper itu tidak dapat menutup dengan sempurna. Vada harus menduduki koper tersebut agar retsletingnya bisa tertutup rapat. Kemudian ia buru-buru mengambil pakaian dengan asal dan lari ke kamar mandi.
Setelah mandi ia harus berdandan, tidak mungkin ia bertemu Bagas Wendell tanpa riasan. Ia menyapukan eyeshadow berwarna cokelat natural di kelopak matanya, kemudian membubuhi matanya dengan garis eyeliner sehingga warna coklat amber iris matanya terlihat menonjol. Ia mengisi alisnya dengan pensil alis sehingga terlihat rapi. Kemudian ia menyapukan secara tipis blush on berwarna pink pada pipinya. Terakhir ia memakai lipstik berwarna merah terracotta, merah yang tidak terlalu mencolok namun tetap membuatnya terlihat sensual.
Ia mengambil handphone, tablet, berkas-berkas, serta beberapa makeupnya dan ia masukkan ke dalam handbagnya. Kemudian ia menuju ke dapur dan mengambil selembar roti, kemudian ia panaskan di dalam toaster. Sambil menunggu, ia mengambil tabung berisikan pil-pil obat dan hendak ia simpan di handbagnya setelah makan roti. Roti tersebut akhirnya melompat, diikuti harum yang menggoda selera. Baru saja ia menggigit roti, tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ovulation Complex
RomansaVada Kusuma, 24 tahun, seorang arsitek muda, memiliki penyakit Ovulation Complex. Penyakit ini memberikan dorongan seksual yang tak bisa ia kontrol. Bagas Wendell, 27 tahun, atasan sekaligus kakak kelas Vada dulu saat kuliah. Tak mengetahui mengenai...
