Bab 10

103K 2.9K 115
                                        

Author's POV

Bagas terbangun dari tidurnya dan segera mencari sosok yang sudah berbaring di sebelahnya selama beberapa jam terakhir.

Kosong.

Entah mengapa dan bagaimana ia merasakan sensasi panik yang berlebihan dan langsung tersentak bangun dari tempat tidurnya. Dengan tubuh yang masih telanjang bulat ia menyalakan lampu kamar dan mendapati bahwa ruangan itu kosong. Ia pun segera menuju ke kamar mandi, dan hatinya mencelos ketika hasil yang ia dapatkan sama. Ia pun mengambil asal celana boxer dan kaus yang tergeletak di lantai dan keluar dari kamarnya untuk mengetuk pintu kamar sebelah.

-tok tok tok-

"Vada!"

-tok tok tok-

"Vada, apakah kau ada di dalam sana?"

-tok tok tok-

"Vada! Vada!"

Mungkin terkesan berlebihan bagi Bagas untuk bereaksi seperti itu, namun saat itu ia sedang berada dalam keadaan yang rentan. Bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Vada adalah wanita yang paling ia benci di dunia ini, dan dalam satu malam keyakinan tersebut berubah dalam sekejap mata. Ia telah mencurahkan perasaannya kepada Vada melalui kata dan perbuatan, sesuatu yang jarang ia lakukan termasuk kepada orangtuanya terlebih mantan-mantan pacarnya. Tetapi seorang Vada yang notabene ia cap sebagai nemesis, bisa membuatnya mengekspresikan perasaannya. Dan wanita itu, sekarang Bagas tidak bisa menemukannya.

Tidak, tidak. Bagas butuh lebih dari satu malam dengan Vada untuk mengubah dirinya.

Ia bergegas menuju ke depan lift dan memencet tombol turun dengan intensitas tinggi. Ketika lift itu datang ia langsung masuk dan memaki dalam hati betapa lambatnya lift tersebut. Kemudian lift pun terbuka, dan Bagas langsung berlari keluar mencari Vada di lantai dasar. Ia memberhentikan hampir semua wanita yang berambut ikal kecokelatan dan memohon maaf ketika tidak menemukan iris cokelat amber milik Vada saat mereka menatapnya. Ia beranjak lari menuju restoran, melewati meja resepsionis dan sepasang lelaki dan perempuan yang sedang berpelukan.

Bagas memperlambat langkahnya. Lelaki dan perempuan tersebut melepas pelukan singkat mereka. Si lelaki tersenyum simpul dan mengacak rambut perempuan tersebut, rambut ikal kecokelatan yang tadi Bagas cari-cari..

Setelah menerima kartu nama dari si lelaki, mereka berdua mengucapkan selamat tinggal. Si lelaki langsung beranjak pergi, dia terlihat terburu-buru. Bagas mengenalnya, ia adalah Angga, seseorang yang tak pernah lagi ingin ia lihat. Perempuan berambut ikal kecokelatan berbalik, dan tentu.. Tentu saja itu adalah Vada Kusuma, dengan mata melebar yang terlihat terkejut melihat keberadaan Bagas. Iris cokelat amber yang sejak tadi ia cari akhirnya ia temukan. Seharusnya ia merasa tenang.

Namun tidak, yang ia rasakan justru sangat jauh dari ketenangan.

Imaji-imaji dua insan manusia yang sedang bersetubuh di studio perancangan kembali menghantui pikiran Bagas. Kepalanya berputar, perutnya mual, dan tubuhnya memanas. Amarah menguasai tubuh Bagas.

Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia tidak begitu saja kalah hanya karena percintaannya dengan Vada, yang mungkin saja hanya sebuah strategi yang Vada gunakan untuk mendekatinya, entah apa motifnya. Seharusnya ia percaya denganpikirannya yang selalu menyarankannya untuk menjauhi Vada. Seharusnya ia sudah melupakan Vada seutuhnya, sebagaimana yang ia usahakan selama berada di London. Seharusnya, seharusnya, seharusnya.. Seharusnya ia tidak jatuh cinta kepada Vada.

Karena saat ini, Vada membuatnya begitu sakit hati.

Vada merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Bagas. Ia mendekati Bagas perlahan lahan, menyisakan jarak sejauh tiga langkah diantara mereka. Insting Vada memberitahunya untuk memberi jarak aman diantara diri mereka berdua.

"Kak.. Bagas?"

Bagas memandangnya dengan penuh amarah.

"Kau.. tidur denganku, lalu meninggalkanku untuk menemuinya?" tanya Bagas dengan suara pelan tetapi tajam.

Mata Vada terbelalak mendengar pertanyaan Bagas.

"Aku tidak sengaja bertemu dengannya di lobby lalu-"

"Kau.Tidur denganku. Lalu meninggalkanku. Untuk menemuinya?" tanya Bagas semakin geram.

"Aku hanya meninggalkanmu sebentar untuk memesan-"

"Lalu menemuinya?" potong Bagas dengan nada yang sedih.

Vada membuka mulutnya untuk berbicara, kemudian menutupnya kembali dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Mengapa keadaan mudah sekali menjadi runyam hanya karena sebuah kesalahan kecil? Mengapa sulit sekali bagi mereka untuk berdamai?

"Rupanya kau sudah kembali ke dirimu yang semula, Pak Wendell," jawab Vada kemudian, dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan wajah memerah menahan amarah.

"Aku tidak mengerti apa yang kau anggap tentangku dan apa yang kau benci dari diriku," lanjutnya, "Namun sepertinya aku salah untuk mencoba meyakinkanmu bahwa aku tidak seperti yang kau kira. Apapun usahaku sepertinya tidak dapat merubah pendapatmu tentang diriku," sambung Vada dengan berapi-api. Ia menghentakkan kakinya kemudian beranjak pergi keluar hotel dan menaiki sebuah taksi.

Bagas yang terdiam di lobby hotel pun menggeram dan menghapus air mata yang sejak tadi tidak ia biarkan menetes.

*****

Bagas berdiri menyender di depan pintu kamar hotel Vada. Setelah Vada pergi, Bagas mengirim orang untuk mengikutinya, dan barusan saja ia mendapat laporan bahwa Vada pergi ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi. Bagas ingin tertawa mendengarnya. Tentu saja, Vada pasti cukup professional untuk langsung melakukan tindakan pencegahan segera setelah melakukan hubungan seksual. Bagas sudah terjebak dalam pikiran yang kelam mengenai Vada ketika suara lift terdengar dan Vadapun terlihat melangkah gontai.

Sejak melangkah keluar dari lift Vada sudah menyadari keberadaan Bagas. Sejujurnya Vada sudah malas berurusan dengan Bagas lagi. Ia tidak mau mengeluarkan sepatah katapun kepada Bagas, bahkan untuk menyuruhnya minggir karena Bagas menghalangi pintu Vada. Namun Bagas sendiri menyingkir sambil tetap memperhatikan Vada lekat-lekat. Vada mengeluarkan kunci dari kantongnya dan membuka pintu kamar hotelnya. Ketika Vada hendak masuk, ia tertahan karena Bagas mengatakan sesuatu.

"Kau tidur denganku lalu meninggalkanku untuk menemuinya," yang dikatakan Bagas sebagai sebuah pernyataan.

Vada sebenarnya masa bodoh dan ingin langsung menutup pintu, namun perkataan Bagas selanjutnya membuatnya terkaget miris.

"Dulu kau tidur dengannya disaat aku ingin menemuimu," lirih suara Bagas tetap terdengar.

Bagas langsung membuka pintu kamarnya sendiri dan masuk.

Vada membeku di depan pintu kamar. Ia merasakan dingin menyelimutinya. Ternyata Bagas tahu. Bagaimana ia bisa tahu? Sejak kapan ia tahu?

Vada tertawa ironis, tentu saja, sejak awal dia tahu. Dia pasti menyaksikan kejadian laknat tersebut bertahun-tahun yang lalu, Bagas pasti tidak sengaja melihat mereka saat ia berniat menjemput Vada. Vada merasa begitu bodoh karena langsung menyimpulkan bahwa Bagas membencinya hanya karena ia membatalkan janji nonton mereka. Namun yang membuat Vada marah adalah, bahwa Bagas langsung mengasumsikan yang terburuk tentangnya tanpa mengklarifikasi sendiri ke Vada mengenai apa yang ia lihat saat itu. Dan lihatlah, bertahun-tahunkemudian, mereka berdua semakin tenggelam dalam kemarahan akan satu sama lain.

Vada menggelengkan kepala. Terserah, pikirnya. Biar kebencian itu mendaging di tubuh Bagas. Biarlah Bagas berkeras memupuk kemarahan pada dirinya, biarlah begitu jika memang Bagas tak mau repot-repot mendengarkan penjelasan Vada, tentang penyakit sialan itu, tentang apa yang Vada harus lalui seumur hidupnya akibat penyakit itu.. Vada tidak mau lagi berusaha menjelaskan apapun kepada Bagas.

Dan malam itu, tak satupun dari mereka tertidur barang sekejap pun.


A/N: Hai, here's a short update, mudah-mudahan ga bikin tambah gereget ya yang nyimak perkembangan Bagas dan Vada :D


Ovulation ComplexTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang