Part 26

7 1 0
                                        

Pagi hari – Jam 04.00 – Villa Valkrie

[Suasana masih hening. Jam menunjukkan pukul 04.00. Lampu kamar remang-remang. Arya perlahan membuka matanya. Nafasnya teratur. Ia menoleh ke samping, melihat Gendis masih tertidur dengan posisi menghadap ke arahnya.]

[Gendis tampak damai, wajahnya tenang, sesekali napasnya terdengar lembut. Tangannya masih menggenggam selimut.]

"Tidur aja dulu... Kamu butuh tenang setelah semua ini." Batin Arya

[Arya perlahan bangkit dari ranjang, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun. Ia berdiri sejenak di sisi tempat tidur, lalu berjalan ke arah pintu balkon dan membukanya perlahan.]

[Udara pagi menerpa wajahnya. Suara air kolam renang yang tenang terdengar lembut. Langit masih gelap, tapi garis oranye samar mulai terlihat di ufuk timur. Arya melangkah keluar dan berdiri di tepi kolam renang.]

[Ia menatap langit. Di balik pandangannya, ada banyak hal yang berkecamuk. Tapi kali ini, semua terasa tenang.]

"Setelah semuanya yang kita lewati... aku masih di sini. Kami semua masih di sini. Tapi… sampai kapan? Apakah ini akhirnya, atau baru permulaan?"

[Angin pagi berhembus lembut. Pantulan cahaya bulan yang memudar masih terlihat di permukaan kolam. Perlahan langit mulai berubah warna, dari kelam ke ungu kebiruan.]

[Arya menghela napas panjang dan menutup mata sebentar. Dalam keheningan itu, ia hanya mendengar suara alam, dan jantungnya yang berdegup tenang.]

"Semoga hari ini membawa jawaban..." Ucap Arya

Tepi Kolam Renang – Pagi Hari – Menjelang Sunrise

[Arya masih berdiri diam memandang langit yang perlahan berubah warna. Hembusan angin pagi menyejukkan. Ia memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam. Suasana hening.]

[Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari arah dalam villa. Rakha muncul dari balik pintu kaca sambil menguap kecil, memakai baju hitam dan menyapa Arya.]

"Pagi arya, gak biasanya Lo bangun sepagi ini." Ucap Rakha

"Pagi, Rak......"

"Setelah semua ini... setelah perang, luka, bahkan hampir kehilangan lo—apa Valkrie bakal tetap diem, atau bakal balik lagi ke jalan yang dulu? Ngelawan orang-orang jahat, jadi pelindung yang menakutkan?"

[Arya menunduk sebentar. Ekspresinya serius. Angin kembali berhembus.]

"Gue juga masih mikir soal itu, Rak. Kita semua udah capek. Tapi kadang... dunia ini terlalu bengis buat didiemin." Ucap Arya

"Tapi kita juga butuh hidup tenang. Temen-temen kita butuh istirahat. Gue... lo... Gendis juga." Ucap Rakha

[Arya mengangguk pelan.]

"Gue nggak janji kita bakal selalu diem. Tapi untuk sekarang… biarin Valkrie hidup damai dulu. Nggak cari masalah, tapi tetap siap kalau dunia lagi-lagi ngajak ribut." Ucap Arya

"Jadi… kita bukan berhenti. Cuma rehat sebentar." Ucap Rakha

"Iya. Rehat buat semua luka. Tapi kalau ada yang ganggu… Valkrie bakal bangkit lagi."

[Keduanya menatap langit yang kini mulai memancarkan cahaya keemasan dari arah timur. Matahari pagi mulai muncul.]

"Kayak sunrise ini ya… awal baru." Ucap Rakha

"Awal baru… buat Valkrie." Ucap Arya

[Arya berjalan perlahan ke halaman depan villa. Suasana pagi masih sunyi, embun masih menggantung di dedaunan. Ia berdiri tepat di depan air mancur, menatap langit yang mulai berwarna keemasan. Matahari perlahan muncul dari balik pegunungan jauh di sana. Wajah Arya terlihat damai, tapi ada sedikit keraguan di matanya.]

Valkrie S2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang