Cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui tirai jendela kamar. Suasana tenang. Arya masih tertidur di ranjang, wajahnya tampak tegang, alisnya mengernyit, dan napasnya memburu.
[Mimpi dimulai – Dalam alam bawah sadar Arya]
Suasana berubah menjadi suram. Awan hitam menggantung rendah. Hujan deras mengguyur. Suara gemuruh terdengar sayup.
Arya berdiri di tengah jalan yang gelap. Hujan membasahi tubuhnya. Di kejauhan, suara Gendis menangis histeris memanggil namanya.
“Arya! Tolong… jangan tinggalin aku… Arya!!” Ucap Gendis
Tiba-tiba, Arya melihat Gendis tergeletak di tanah, bersimbah darah, tubuhnya lemah, dan di sampingnya berdiri sosok Kevin, dengan senyum licik di wajahnya.
“Haha… akhirnya lo kehilangan dia juga, Arya. Sekarang rasain rasa sakit yang dulu aku rasain.” Ucap Kevin
Dari bayangan kabut, muncul lagi satu sosok pria asing—bermata tajam dan berambut panjang, mengenakan jaket kulit hitam. Wajahnya terlihat seperti siluet, tapi Arya mengenalnya dengan pasti.
"Nathan."
“lo bisa menyelamatkan banyak orang, tapi bukan Gendis. Dan lo tahu kenapa? Karena pada akhirnya… semua orang yang dekat dengan lo akan menderita.” Ucap Nathan
Gendis mengulurkan tangannya dengan sisa tenaga, bibirnya bergetar.
“Maaf... Arya…” Ucap Gendis
[Darah menyebar di sekitar tubuh Gendis. Suara detak jantung Arya dalam mimpi mulai melemah, seperti tercekik.]
“GENDIS!!!”
[Mimpi langsung pecah. Arya terbangun.]
Kamar – Pagi, Realita]
Arya langsung duduk dengan terkejut. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya kosong dan penuh trauma.
“Arya?! Sayang, kamu kenapa?!” Ucap Gendis
“Gendis... darah… kamu… Nathan… dia kembali…” Ucap Arya
Gendis buru buru mengambil air dari meja dan menyodorkannya ke Arya. Arya menerima dengan tangan gemetar dan meminumnya perlahan.]
“Sssttt… pelan-pelan. Kamu mimpi buruk, ya? Aku di sini, ya. Nggak ada yang nyakitin aku. Aku masih sama kamu…” Ucap Gendis
“Semua terasa nyata… suara kamu pas kamu ditusuk… darahmu… Nathan muncul… dan Kevin juga… kayak semuanya nyatu jadi satu… kayak masa lalu balik…” Ucap Arya
“Aku di sini, Arya. Kamu nggak sendiri. Kamu udah selamatkan aku. Kita berdua udah lewatin semuanya. Mimpi itu cuma bayangan, bukan kenyataan.” Ucap Gendis
“Tapi kenapa aku masih takut kehilangan kamu? Bahkan dalam mimpi, aku gak bisa lindungi kamu…” Ucap Arya
Gendis (menahan tangis, lalu mengusap pipi Arya)
“Denger aku… Kamu udah ngelakuin segalanya. Kamu udah jadi pelindung yang luar biasa buat aku. Sekarang giliran aku yang jaga kamu…” Ucap Gendis
[Mereka saling memeluk dalam hening. Matahari pagi mulai masuk ke kamar, menciptakan cahaya hangat di antara mereka.]
Gendis dan Arya duduk di atas kasur
Arya masih terlihat gelisah, meskipun sudah sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan teman-temannya. Tatapannya kosong menatap ke depan, seolah pikirannya masih tertinggal dalam mimpi buruk tadi.
Gendis perlahan menoleh, lalu menaruh tangannya di pipi Arya.
Sentuhan itu lembut, hangat. Membumi.
“Aku tahu kamu masih ada di sini…” Ucap Gendis
KAMU SEDANG MEMBACA
Valkrie S2
AksiSetelah arya dan teman temannya yang sebelum nya mereka yang awalnya adalah lawan sekarang menjadi kawan dan mereka harus bersiap untuk lawan selanjutnya karna nampaknya Valhalla bukan lah ancaman terbesar mereka ,kita saksikan sendiri Cuman fiksi...
