22 | Sweetie

1.7K 93 114
                                        

.

.
.
.

_______________

22. SWEETIE

 SWEETIE

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

. . . .

"Buat dia bangun."

Sarada berdiri membatu, melirik pria di depannya dengan rasa ragu. Tangannya perlahan mengepal di samping tubuhnya. Sarada tidak langsung menuruti perkataan Boruto, meskipun Boruto sebelumnya melakukan ancaman, tapi ia juga masih memiliki sepenggal ego.

Sarada adalah wanita berumur 28 tahun, mustahil Sarada tidak mengerti maksud dari perkataan Boruto. Selama rentang usianya, Sarada sudah tidak asing dengan beberapa sentuhan antara pria dan wanita atau hal-hal dewasa lain, oleh karena itu saat Boruto pertama kali menciumnya, reaksinyaa tidak berlebihan. Hanya saja, Sarada masih memiliki batasan tertentu.

Dan batasannya sedang berusaha di jamah oleh Boruto.

Sarada mendengus sambil menahan senyumnya.

"Kau tersenyum?"

Sarada menutup mulutnya dengan tangan, meskipun sia-sia karena bibirnya semakin tertarik ke atas. Apakah dia sudah gila?

Asap dari tembakau mengepul ke udara dan ujung batang di mulut Boruto tekan diantara giginya. Mata biru itu tertuju pada wanita yang berdiri di depannya. Baru kali ini Boruto melihat Sarada tersenyum, namun, bukan terpesona, ia justru membenci senyuman itu.

Boruto mencodongkan tubuhnya. "Meremehkanku, Sarada?"

Bibir yang melengkung itu turun kembali, Sarada menggeleng. "Tidak, tapi—apa kau seputus asa itu sampai mengancamku untuk hal seperti ini?"

Kalimat tersebut di ucapkan oleh Sarada dengan penuh kesadaran, baginya Boruto harus menyadari posisinya saat ini. Pria itu terlalu memaksa dan seolah merasa bisa mengendalikan dirinya sesuka hati.

Lihat saja saat ini, tatapan dan raut wajah kesenangan Boruto berubah meskipun masih terdapat jejak hasrat dimatanya.

Sarada mendengus, ia menyapu rambutnya ke belakang dan memalingkan pandangannya ke arah lain. Bagaimana pun ia tidak bisa mengabaikan situasi di luar, di mana teman-temannya terancam saat ini. Sarada harus membuat sebuah kesepakatan.

"Baiklah, aku menerima penawaranmu, tapi bukan untuk menjadi budak seks atau apa pun itu, aku lebih berguna dari pada harus melayani orientasi seksual seorang pria yang tidak puas dengan satu wanita. Jadi, lebih baik tarik semua anak buahmu dari teman-temanku dan kita diskusikan hal lain." Jari jemari Sarada bergerak cepat sampai terdengar suara dari sentuhan jari-jarinya.

"Oke."

Boruto kembali bersandar sambil menghisap tembakaunya, namun masih mengamati Sarada.

Sarada mematung, alisnya bahkan mengkerut. Cukup terkejut mendengar jawaban Boruto. Wajahnya bahkan terlihat lebih santai seolah tidak mempermasalahkannya. Sarada kira akan ada penolakan atau paksaan dari Boruto, dia bahkan tidak marah dengan perkataan merendahkan sebelumnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Lady Voice [Boruto x Sarada]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang