"Maaf ya, kau jadi harus menemaniku," Kotoha tersenyum canggung, "aku sudah banyak merepotkanmu, lho, Yaoyorozu-san."
"Sudah kubilang, panggil aku Yaomomo saja," Yaomomo melambaikan tangannya, "aku tidak keberatan kok."
Jalan yang mereka lalui cukup legang. Mungkin orang-orang lebih memilih untuk menghabiskan dinginnya musim gugur di rumah mereka daripada kedinginan di luar. Bahkan konbini yang mereka masuki tadi terasa sepi, dengan kasir yang memakai syal yang cukup tebal padahal ruangan itu berpenghangat.
Kotoha menggenggam erat tas belanjaannya. Aizawa, sebagai ayah angkatnya, mengizinkannya untuk belanja keperluannya ke luar area sekolah untuk pertama kalinya (setelah selama ini selalu melarangnya dan menyuruhnya untuk belanja melalui online shop), dan karena Aizawa tahu Yaomomo adalah teman pertama Kotoha, ia meminta Wakil Ketua Kelas itu untuk menemaninya.
Awalnya Kotoha menolak, tapi pelototan-satu-mata Aizawa berhasil membungkamnya.
Saat mereka berdua menunggu bus menuju halte sekolah, seekor anjing shiba merah menghampiri mereka, menggonggong antusias pada Kotoha sambil mengendus-endus sepatunya.
"Waaaaah, lucu sekaliii," Kotoha berjongkok untuk melihat anjing itu lebih dekat. Ia tak bisa menyentuhnya karena kedua tangannya penuh. "Apakah dia tersesat? Dia tampak terurus untuk anjing jalanan."
Yaomomo melihat sekitarnya, "sepertinya tersesat..." Ia menyipitkan matanya, menangkap sesosok pria bermantel sedang berlari mendekat, "ah, sepertinya dia pemiliknya."
Pria bermantel coklat itu datang sambil terengah. Wajahnya ramah, dan sepertinya sudah menginjak akhir kepala tiga. Kerutan halus di wajahnya tampak jelas, apalagi di sekitar mata dan bibirnya. Tampaknya pria itu sering tersenyum... Atau merengut.
"Aduh, maafkan anjingku. Dia memang selalu tertarik pada sekitarnya," ucap pria itu hangat. Kotoha terdiam mendengar suaranya. Caranya merangkai kata, berbicara, hingga tatapannya... Membuat gadis itu merinding karena terasa sangat familier.
"Tidak apa-apa," Yaomomo tersenyum ramah, belum menyadari perubahan raut wajah Kotoha, "kita tidak terganggu, kok."
Kotoha bangkit berdiri. Familiaritas yang dirasakannya tidak membawa rasa nostalgia, ia tak merasakan kehangatan ataupun rasa lega. Ia malah merasa sesak, dadanya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa tak terlihat.
Menyadari raut wajahnya, pria itu memandangnya dengan khawatir.
"Apa kau tidak apa-apa, Nona?"
Kotoha tersentak, melangkah mundur. Yaomomo meliriknya, baru mendeteksi ketidaknyamanannya. Ia berdehem.
"Ayo, Kotoha, busnya akan segera-"
"Kotoha?" Pria itu menyela. Raut wajahnya berubah menjadi terkejut, kedua alisnya terangkat, tapi di sorot matanya ada binar ketidakpercayaan dan... Harapan?
"Kotoha? Kotoha Soraniji?"
Bahu Yaomomo menegang mendengarnya. Pria ini mengenal Kotoha. Dan hal pertama yang muncul di kepalanya adalah: kabur.
"Permisi, Tuan, sepertinya anda salah orang..." Yaomomo meraih lengan Kotoha, yang sejak tadi terdiam dengan bahu tegang. "Dia bukan-"
"Tidak, tidak," pria itu menyela lagi. Menggeleng. "Aku benar, ini Kotoha-"
"Oi, Pak Tua."
Suara kasar itu tiba-tiba terdengar. Yaomomo dan pria itu sontak menoleh ke sumber suara.
Katsuki Bakugo, dengan wajah mengerut khasnya, melangkah menghampiri mereka. Dia menggendong tas di bahu kirinya, memakai mantel tebal dan syal yang belum pernah Yaomomo lihat sebelumnya, dan ada bekas lipstick samar di pipinya. Sepertinya baru selesai mengunjungi orangtuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SORA : The Lost Prodigy
FantasyWith great power comes great responsibility. Kotoha Soraniji lahir dengan quirk yang terlalu kuat, masa kecilnya yang tidak baik-baik saja membuatnya terjebak di laboratorium penelitian keji yang haus akan kekuasaan dan kekuatan. Setelah perang besa...
