Common room asrama 2A, U.A.
"Jadi... Kau tak pernah bertemu orang-orang? Benar-benar terkurung?"
Kotoha mengangguk sebagai jawaban. Kirishima, si penanya, menjatuhkan rahangnya.
"Serius? Sejak umur enam tahun?!"
"Itu... Entahlah, keren dan mengerikan secara bersamaan," Denki Kaminari menimpali sambil menggaruk dagunya dengan jari telunjuknya. Kyoka Jirou di sampingnya menabok punggungnya, membuat si pemilik punggung mengaduh.
"Apanya yang keren?! Itu mengerikan, tahu!"
Kotoha hanya tersenyum. Sejak tadi kepalanya diam-diam menjerit memperingatkannya untuk berhati-hati dengan orang-orang disekitarnya, bahwa mereka tidak bisa dipercaya, bahwa mereka bisa saja membahayakannya kapan saja. Tapi ada sesuatu di sorot mata mereka yang membuat Kotoha ingin di sekitar mereka. Tatapan itu, tatapan yang tidak pernah Kotoha lihat sebelumnya. Tatapan hangat nan polos yang membuat hatinya merasa aman.
Bagaimana mungkin ada orang-orang yang memiliki sorot mata sehangat itu? Setelah semua yang mereka lalui, bagaimana bisa sorot mata itu seakan tidak pernah melalui apapun?
Sorot mata hangat itu berbanding terbalik dengan sorot mata yang sering ia pandang saat ia sedang bercermin. Sepasang mata yang ia pandang di cermin memancarkan sorot dingin dan hampa, trauma yang ia lalui seakan selalu terbayang di pelupuk matanya. Ia bertanya-tanya bagaimana bisa mereka tetap mendekatinya, mengajaknya mengobrol, walaupun ia terkesan tidak bersahabat.
"Soraniji-san... Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
Suara itu membuat Kotoha tersadar dari lamunannya, memandang si penanya, gadis berwajah bulat berambut coklat pendek bernama Ochaco Uraraka.
"Eee... Boleh," Kotoha memandangnya. Mendengarkan.
Uraraka tersenyum, senang dengan perhatian yang Kotoha tujukan demi mendengarkan pertanyaannya.
Sepertinya dia pendengar yang baik.
"Ini tentang quirkmu, apa itu baik-baik saja untukmu?"
Bahu Kotoha menegang mendengarnya. Tentang quirk? Topik tentang quirk selalu membuatnya teringat dengan traumanya.
"Tergantung," Kotoha akhirnya menjawab, para murid yang lain beringsut mendekat demi mendengarnya, "akan kujawab sebisaku."
Uraraka menyatukan kedua tangannya, "baiklah... Hmm... Beritahu aku jika pertanyaannya tidak membuatmu nyaman, oke?"
Kotoha mengangguk. Tentu.
"Ceritakan tentang quirkmu, boleh?"
Kotoha tidak langsung menjawab. Gadis itu menghela nafas pelan untuk menguatkan dirinya.
"Dilihat dari ekspresi kalian, sepertinya kalian sudah tahu beberapa hal," ucapannya membuat beberapa temannya bergerak tidak nyaman. Kotoha tersenyum tipis, "tidak apa-apa, aku tak masalah dengan itu."
"Yah... Aizawa-sensei memang menyebutkan beberapa hal..." Kirishima menggaruk bagian belakang kepalanya, kikuk, "tapi rasanya akan beda dengan mendengarkan langsung darimu."
"Tapi jika kau tidak nyaman dengan itu, kau tidak perlu menceritakannya," ini suara lembut Izuku Midoriya, menyikut Kirishima pelan, "kita mengerti."
Kotoha terdiam, menimbang keputusannya. Di satu sisi, dia sangat ingin ada orang yang mendengarkan ceritanya, berbagi rasa sesak dan berat yang selama ini ia tanggung sendirian. Tapi di sisi lain, alam bawah sadarnya menjerit melarangnya, berusaha melindunginya dari rasa sakit yang mungkin akan datang saat dia mempercayai orang lain. Orang-orang ini mungiin terlihat baik, tapi pengalamannya berkata orang-orang ini juga bisa berubah menjadi sebaliknya kurang dari satu malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
SORA : The Lost Prodigy
FantasiaWith great power comes great responsibility. Kotoha Soraniji lahir dengan quirk yang terlalu kuat, masa kecilnya yang tidak baik-baik saja membuatnya terjebak di laboratorium penelitian keji yang haus akan kekuasaan dan kekuatan. Setelah perang besa...
