Chapitre Soixante-deux - 62

81 13 4
                                        

Chapter 62 - Api di Langit Florence

Angin malam berhembus liar, melolong di antara pepohonan pinus dan membawa serta aroma anyir darah bercampur kayu terbakar yang menyesakkan paru-paru. Di bawah sana, di lembah Florence yang seharusnya tertidur dalam pelukan musim dingin, neraka sedang berlangsung. Gema benturan pedang, ringkikan kuda yang meregang nyawa, dan teriakan penderitaan terdengar samar layaknya paduan suara kematian yang tidak berujung.

Langkah kaki Sonya tersaruk-saruk menaiki jalan setapak berbatu yang curam di lereng bukit utara. Napasnya memburu, terasa panas dan membakar tenggorokannya. Gaun sewarna pastel yang sebelumnya menjuntai indah nan elegan kini telah robek di bagian bawah, menyisakan kain kotor berlumur lumpur dan noda tanah. Sepatu bertumit rendahnya beberapa kali tergelincir, membuat kakinya tergores akar-akar pohon yang menonjol liar dalam kegelapan.

"Anda harus berhenti, milady," ucap Simon dengan nada tegas yang memotong deru napas mereka. Pria bersurai cokelat gelap itu memutar tubuhnya, menghalangi jalan Sonya. Jubah hijau tuanya berkibar, menampilkan lambang serigala perak yang memantulkan cahaya pucat rembulan.

"Kita tidak punya waktu untuk berhenti, Simon," balas Sonya. Ia bertumpu pada lututnya, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin. Tubuh Elisabeth memang lebih tangguh dari tubuh aslinya, namun pendakian bukit terjal ini menguras habis setiap tetes staminanya.

Christer yang berjalan tertatih di belakang mereka memegangi lengan kirinya yang terus mengeluarkan darah. Pria baya itu mengernyit menahan sakit, namun tidak sedikitpun mengeluarkan keluhan. "Tuan Simon benar, milady. Jalur ini terlalu curam. Jika kita terus memaksakan diri, Anda bisa terjatuh ke jurang. Kita harus mencari tempat berlindung dan menunggu hingga fajar."

Sonya menegakkan tubuhnya, menatap tajam kedua pria itu bergantian. Manik biru langitnya berkilat di bawah temaram cahaya bulan. "Mencari tempat berlindung? Dan membiarkan Francis mati di bawah sana?" Suaranya bergetar, perpaduan antara kelelahan, rasa takut, dan amarah yang meluap. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Simon terdiam. Manik matanya yang tajam menelisik setiap inci wajah gadis di depannya. Ia telah mengabdi cukup lama di Kastil Barat untuk mengenal siapa Lady Elisabeth de Poitiers. Wanita yang ia kenal adalah sosok rapuh, anggun, dan selalu menghindari segala bentuk kekerasan atau kotoran. Wanita yang akan menangis hanya karena melihat pedang terhunus. Namun, gadis yang berdiri di hadapannya saat ini—dengan gaun robek, wajah penuh coretan lumpur, dan sorot mata yang menyala penuh tekad—terasa seperti orang asing yang meminjam wajah sang Duchess.

"Jika kita terus ke atas, kita akan mencapai reruntuhan gudang persenjataan kuno," ucap Simon perlahan, menguji reaksi Sonya. "Tetapi saya tidak bisa menjamin keselamatan Anda. Bangunan itu sudah rapuh, peninggalan perang utara ratusan tahun lalu. Dan jika pasukan ratu menyadari pergerakan kita di atas sini, kita tidak memiliki jalan keluar."

"Aku tidak peduli," potong Sonya lugas. "Selama ada sesuatu di sana yang bisa kita gunakan untuk menghancurkan formasi musuh, aku akan terus mendaki. Jika kau tidak ingin ikut, kau bisa kembali dan menjaga Christer."

Sonya melangkah maju, memaksa Simon untuk menyingkir. Pria itu menghembuskan napas kasar, lalu mengangguk singkat. "Saya adalah pengintai Anda malam ini, milady. Saya tidak akan membiarkan Anda mendaki sendiri."

Simon mengambil alih posisi di depan, membabat semak belukar dan ranting berduri dengan belatinya, membuka jalan untuk Sonya dan Christer. Perjalanan terasa memakan waktu seumur hidup. Setiap detik yang terbuang membuat jantung Sonya berdebar semakin liar. Di kepalanya, bayangan Francis yang terdesak di tengah lautan musuh terus berputar seperti kaset rusak. Pria dingin yang selalu menatapnya dengan iris abu-abu yang tajam, pria yang baru saja mengecupnya dengan penuh kehangatan, pria yang... tanpa Sonya sadari, telah mengunci hatinya erat-erat.

Parallel [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang