Chapitre soixante-quatre - 64

92 10 5
                                        

Chapter 64 – Runtuhnya Skandal

Angin musim dingin yang selama berbulan-bulan membekukan daratan Perancis perlahan mulai menyerah, digantikan oleh embusan hangat musim semi yang membawa aroma petrichor dan tunas pinus. Namun, bagi barisan prajurit yang berjalan gontai memasuki gerbang utama Ibukota, musim semi tidak membawa serta kegembiraan yang utuh.

Panji-panji serigala perak dan lambang bunga lili yang mereka bawa tampak terkoyak, hangus di beberapa sisi, dan berlumuran noda kecokelatan yang menjadi saksi bisu atas neraka di Florence dan kengerian Wabah Hitam. Kemenangan ini dibayar dengan harga yang teramat mahal. Ribuan nyawa ksatria terbaik telah tertinggal di tanah yang kini menjadi abu. Suara tapal kuda dan denting zirah penyok yang bergesekan menggema di sepanjang jalanan berbatu Ibukota, disambut oleh sorak-sorai rakyat yang bercampur dengan isak tangis para janda dan anak yatim yang mencari wajah suami serta ayah mereka di barisan yang tersisa.

Dari balik jendela kereta kuda berlapis beludru gelap, Sonya menatap nanar pemandangan di luar. Jari-jemarinya yang masih terbalut kain sutra putih saling bertaut. Tulang rusuknya yang retak telah berangsur pulih, meski sesekali masih menyisakan denyut nyeri jika kereta terguncang oleh lubang jalan. Di luar kereta, menunggangi kuda hitam besarnya dengan zirah yang telah dibersihkan namun tetap menyisakan goresan pertempuran, Francis berkuda tepat di samping jendela Sonya.

Pria itu menoleh, manik abu-abunya yang tajam kini memancarkan kehangatan yang hanya diperuntukkan bagi wanita di dalam kereta. Francis memberikan senyum tipis yang menenangkan. Sonya membalas senyuman itu. Ada sebuah pemahaman tanpa kata yang terjalin di antara mereka. Kengerian yang mereka lewati di bukit utara dan bangsal medis telah meleburkan batas antara Sonya Mitchelle dari masa depan dan Lady Elisabeth sang Duchess. Di titik ini, Sonya menyadari bahwa ia tidak lagi hanya meminjam tubuh ini; ia telah sepenuhnya berakar di dunia ini, terikat oleh darah, air mata, dan cinta seorang pria yang rela meruntuhkan dunia demi dirinya.

Perjalanan berakhir di pelataran Istana Utama. Pintu-pintu raksasa kastil terbuka lebar, menyambut sang panglima perang dan istrinya yang kini dielu-elukan sebagai pahlawan yang menghentikan wabah.

Namun, di balik dinding-dinding marmer dan pilar-pilar emas Istana Utama, sebuah pertempuran lain telah menanti. Pertempuran yang tidak menggunakan pedang atau meriam, melainkan kata-kata beracun, intrik, dan rahasia yang disimpan di balik gaun-gaun sutra mahal.

Balairung Istana terasa lebih dingin dan mencekam dari biasanya. Jalinan lilin yang menggantung di lampu gantung kristal raksasa memantulkan cahaya pucat ke wajah para bangsawan yang hadir. Raja Henry duduk di singgasananya, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua, digerogoti oleh beban laporan kematian dan krisis ekonomi akibat perang. Di sisinya, Ratu Niccola duduk dengan punggung tegak, wajahnya mengeras seperti pahatan es.

Di tengah ruangan, Francis berdiri dengan postur sempurna, memberikan laporan akhirnya. Sonya duduk di barisan depan kursi faksi, didampingi oleh Igritte yang berdiri setia di belakangnya. Tidak jauh dari Sonya, Arthur de Poitiers berdiri dengan wajah tegang, sementara di seberang ruangan, Liliana dan kakaknya, Pangeran Louis, hadir sebagai delegasi sekutu.

"Kau telah membawa kembali kemenangan yang nyaris mustahil dari lembah Florence, Duke Montmorency," suara bariton Raja Henry menggema, memecah kesunyian yang menekan. "Kerajaan berutang besar pada taktikmu, dan juga... pada kebijaksanaan istrimu yang telah memutus rantai kematian sebelum wabah itu menelan seluruh prajurit kita."

Raja Henry menatap Sonya sejenak, memberikan anggukan kecil yang sarat akan penghormatan. Para bangsawan di ruangan itu seketika menoleh ke arah sang Duchess. Bisik-bisik kekaguman menguar. Elisabeth yang dulu dikenal sebagai pajangan rapuh kini dihormati sebagai wanita berhati baja.

Parallel [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang