Chapter 66 Epilog: Paralel Waktu
Dingin. Rasa dingin itu adalah hal pertama yang merayap maju, merengkuh kesadarannya yang perlahan-lahan mengapung dari dasar jurang kegelapan yang tak berdasar. Namun, itu bukanlah dinginnya angin malam di bukit utara Florence yang membawa aroma mesiu, bukan pula hawa beku dari danau kastel tempat jiwanya seolah dihempaskan oleh Diane dari atas jembatan batu. Ini adalah jenis dingin yang berbeda—kaku, hampa, dan teramat steril.
Di sela-sela kesadarannya yang masih berpendar rapuh, sebuah suara asing mulai mengetuk dinding kepalanya. Bukan ringkikan kuda perang, bukan denting pedang zirah yang beradu, dan bukan pula lolongan keputusasaan para prajurit yang terbakar wabah.
Beep... beep... beep...
Suara itu berbunyi konstan, monoton, dan ritmis. Seperti detak jarum jam mekanis yang mengurung waktu ke dalam sangkar besi. Bersamaan dengan suara itu, indera penciumannya yang semula mati rasa mendadak diserang oleh kombinasi aroma yang teramat tajam—bau karbol yang menyengat, antiseptik yang pekat, dan bau udara buatan dari mesin pendingin yang berputar malas di atas kepala. Tidak ada wangi rempah-rempah, tidak ada bau cuka pekat pembasuh luka, dan tidak ada aroma tubuh Francis yang maskulin bercampur wangi kayu pinus.
Sonya mencoba menggerakkan jari-jemarinya. Kelopak matanya terasa seberat timbal, menolak untuk membuka meskipun ia tahu kesadarannya telah kembali seutuhnya. Ketika ia memaksa ujung jari telunjuk kanannya bergerak, rasa kaku dan ngilu langsung menjalar, namun itu bukanlah rasa sakit dari tulang rusuk yang retak akibat runtuhan batu gudang persenjataan. Tubuh ini terasa berbeda. Lebih panjang, lebih bebas dari kekangan korset sutra yang menyesakkan, namun terasa begitu lemah seolah seluruh energinya telah habis diperas oleh waktu.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan dari seluruh nadinya, Sonya memaksa kelopak matanya terbuka.
Serbuan cahaya putih neon yang benderang seketika menghantam retinanya, memaksa Sonya mengernyitkan dahi dan memejamkan mata kembali. Matanya berair. Butuh waktu beberapa detik yang menyakitkan bagi manik birunya untuk menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya terang yang terasa begitu artifisial itu.
Saat pandangannya tidak lagi memburam, hal pertama yang ia dapati adalah langit-langit berpanel persegi sewarna putih bersih. Tidak ada kanopi tempat tidur berukiran emas, tidak ada lukisan dewa-dewi di atas awan, dan tidak ada jalinan lilin yang menggantung rendah. Hanya ada sebuah lampu tabung yang tertanam rapi, memancarkan cahaya dingin yang konstan.
Sonya menolehkan kepalanya ke sisi kiri. Otot lehernya memprotes dengan rasa kaku yang luar biasa. Di samping ranjang besi tempatnya berbaring, sebuah kantung cairan transparan menggantung pada tiang logam, mengalirkan tetes demi tetes kehidupan melalui selang plastik kecil yang menancap di punggung tangan kanannya. Masker oksigen transparan bertengger di atas hidung dan mulutnya, mengembuskan udara dingin yang terasa kering di tenggorokannya.
"Sonya...?"
Suara itu pecah, bergetar hebat di udara ruangan yang sunyi.
Sonya mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Di sana, duduk di sebuah kursi lipat besi di samping ranjangnya, berdiri seorang wanita paruh baya. Rambut tembaganya tampak acak-acakan, mencuat liar seolah tidak pernah tersentuh sisir selama berhari-hari. Wajahnya dipenuhi gurat-gurat keletihan yang mendalam, dengan kantung mata yang membengkak besar dan memerah akibat air mata yang telah terkuras habis.
Ruth. Ibunya.
Di dunia abad pertengahan sana, wanita dengan wajah yang sama adalah Ratu Niccola—wanita agung yang mengorbankan segalanya demi rahasia kerajaan. Namun di sini, wanita itu kembali menjadi ibunya. Ibu yang selalu memasak sup camilan hangat di dapur krem rumah mereka, ibu yang selalu mengomelinya setiap kali ia pulang terlambat dari sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parallel [TAMAT]
FantasyAkibat kecelakaan yang menimpa dirinya, Sonya terbangun di tahun 1540 sebagai Elisabeth de Poitiers yang terikat pernikahan dengan Francis de Montmorency. Lalu apa yang harus Sonya lakukan? ===========================================================...
![Parallel [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/146203830-64-k870668.jpg)