Chapitre Soixante-trois - 63

79 14 4
                                        

Chapter 63 - Runtuhnya Batu, Bangkitnya Jiwa

Asap pekat berwarna kelabu abu-abu menggantung rendah di atas langit Florence, bergulung-gulung bagai kabut kematian yang enggan beranjak. Udara malam itu terasa tebal dan menyesakkan, sarat akan aroma belerang tua, kayu terbakar, dan anyir darah yang menggenang di atas tanah berlumpur. Di bawah lembah, jeritan kepanikan dari sisa-sisa pasukan Ratu Anne masih terdengar samar, bersahutan dengan deru derap langkah pasukan Barat yang bergerak cepat memanfaatkan momentum emas untuk memukul mundur musuh yang kian kocar-kacir.

Namun, di puncak bukit utara, hiruk-pikuk kemenangan di lembah itu seolah teredam oleh kesunyian yang mencekam.

Francis memacu kuda hitam besarnya menembus malam dengan kecepatan yang nyaris gila. Zirah hitamnya berdentang keras di setiap hentakan, bergesek liar dengan ranting-ranting pohon pinus yang menyabet wajah dan tubuhnya. Manik abu-abunya menatap lurus ke atas, mengunci pandangan pada kepulan abu tebal yang membumbung tinggi dari reruntuhan gudang persenjataan kuno. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam rongga dadanya dengan rasa dingin yang mencekam.

Elisabeth.

Nama itu bergaung di kepalanya bagai dentang lonceng kematian. Francis tidak memedulikan teriakan Jaemes atau perintah mundur dari garis depan. Logika seorang Duke dan panglima perang yang biasanya dingin menguap begitu saja, digantikan oleh kepanikan murni. Sumbu meriam api yang disulut istrinya beberapa saat lalu memang berhasil menghancurkan barisan inti musuh, tetapi Francis tahu harga yang harus dibayar. Hentakan dari meriam kuno itu sanggup meruntuhkan seluruh struktur batu yang sudah rapuh di atas bukit.

Kuda hitamnya meringkik keras, kakinya tergelincir pada tanah bukit yang labil dan curam. Tanpa menunggu kudanya stabil, Francis langsung melompat turun dari pelana. Ia mengabaikan rasa perih pada luka panahnya yang kembali berdenyut, membiarkan pedang panjangnya bergoyang di pinggang, dan berlari mendaki sisa lereng terjal dengan napas yang memburu.

Begitu mencapai puncak bukit yang datar, pemandangan di depannya membuat lutut Francis nyaris lemas.

Gudang batu tua itu telah runtuh sepenuhnya, menyisakan tumpukan puing, debu putih, dan batu kapur yang berserakan. Di bawah sebatang pohon pinus yang tumbang tak jauh dari ambang pintu yang hancur, Christer terduduk lemas. Pria baya itu sepucat mayat, tangan kanannya menekan kuat-kuat lengan kirinya yang robek dan bersimbah darah.

"Christer!" Francis menerjang maju, mencengkeram bahu pelayan setianya dengan kasar. Wajahnya kalut, dipenuhi keringat dan jelaga. "Di mana dia?! Di mana Elisabeth?!"

Christer terbatuk, memuntahkan sisa debu yang menyumbat tenggorokannya. Matanya yang meredup menatap ke arah gundukan batu raksasa di bagian tengah runtuhan. "Di bawah sana, My Lord... Tuan Simon... dia mendorong Lady Elisabeth, tetapi runtuhan atap..."

Francis tidak menunggu Christer menyelesaikan kalimatnya. Ia berbalik dan berlari kearah tumpukan puing raksasa tersebut. Bau belerang dan debu kapur yang menyengat menyerang indera penciumannya. Sambil berlutut di atas tanah yang panas, ia menanggalkan pelindung tangan zirahnya dengan terburu-buru, lalu mulai menggali puing-puing batu menggunakan tangan kosong.

Jemarinya mencengkeram pecahan batu batu yang tajam, melemparnya ke belakang dengan tenaga yang lahir dari keputusasaan murni. Ujung-ujung kukunya koyak, kulitnya robek hingga darah segar mulai mengalir dan mengotori bebatuan kelabu di bawahnya, namun Francis tidak merasakan sakit sedikit pun. Yang ada di pikirannya hanyalah wajah istrinya.

"Elisabeth! Jawab aku! Elisabeth!" raungnya ke dalam celah-celah batu.

Beberapa pengintai berzirah hijau lumut yang menyusul dari belakang segera membantu, menyingkirkan balok-balok kayu yang hangus terbakar. Setelah beberapa menit yang terasa bagai keabadian, jemari Francis menyentuh sepotong kain kain sutra pastel yang kotor dan robek.

Parallel [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang