Chapitre Soixante et Un - 61

124 16 4
                                        

Jika Francis dapat memilih dengan siapa ia berperang, mungkin ia akan memilih berperang dengan sang raja dibandingkan dengan pasukan sang ratu. Karena demi apapun, sang ratu berperang tidak mengenal siapapun.

Baru saja ia berkuda menerobos pasukan dan mengambil alih komando di medan perang dekat Pusat Kesehatan, kini ia mendapatkan kabar jika pasukan ratu membumihanguskan desa perbatasan. Hal itu membuat kekacauan masif di area perang. Beberapa prajurit berlari menuju desa perbatasan tersebut, dan beberapa kembali menuju Pusat Kesehatan. Sial! Runtuknya ketika dengan enggan ia memutar balik kudanya menerobos pasukan inti miliknya dan bertemu Alex dengan keadaan mengenaskan.

"Kupikir kau sedang bercinta dengan istrimu," ucap Alex. Rasa-rasanya, ia ingin menjungkirbalikkan pria yang kini sedang duduk di atas kudanya itu.

"Dimana Jeames?" tanya Francis seraya turun dari kudanya. "Kau terlihat kacau," lanjutnya.

Alex tertawa sarkas. "Kaupikir karena siapa aku seperti ini," balasnya. "Dan pria-tinggimu membantu Giyana mengurus hal-hal kekalahan kita."

"Berapa prajurit yang tersisa?" kini Francis mulai mengedarkan pandangan melihat beberapa prajurit yang masih bertahan walau dengan wajah kelelahan.

"Kurang dari tiga ratus, dengan sebagian berada di bangsal."

"Menurutmu, apa kau bisa mengambil alih desa perbatasan?"

"Jika Simon datang, kita bisa mengambil kembali Florence dengan sedikit usaha."

"Kalau begitu, aku serahkan desa perbatasan padamu," ucap Francis seraya menepuk pundak Alex, dan setelah itu kembali menaiki kuda miliknya berputar pergi meninggalkan Alex dengan sumpah serapah siap meluncur dari bibirnya.

Alex tidak akan melupakan kesialan dirinya menerima permintaan ayahnya untuk membantu di perbatasan. Persetan dengan mengabdi, lebih baik ia bercinta dengan Liliana atau beberapa gadis di rumah bordil. Itu lebih menantang adrenalin, ketimbang berada di tengah perang dengan peluang nyawa selamat sangat kecil. Alex menghembuskan napas. Melirik bejana yang teronggok bersama dengan mayat prajurit terinfeksi. Mungkin saja nyawanya bukan hilang karena perang melainkan infeksi itu.

Langkahnya berputar melewati hiruk pikuk jalur evakuasi menuju sebuah tenda samping Pusat Kesehatan seraya mengencangkan sabuk pedang miliknya. Jika Arthur menyuruhnya memenangkan Florence, Alex harus berpikir gila untuk menyusun strategi melawan pasukan ratu. Jadi, dengan segala sisa kewarasannya, ia menyibak tenda samping Pusat Kesehatan, menarik keluar mayat prajurit yang telah terinfeksi, dan melemparnya ke atas kuda. Sedangkan ia menaiki kuda lainnya. "Semoga Tuhan masih mengasihaniku. Amin," ucap Alex seraya menghentakkan saggurdi miliknya dan menarik kuda yang membawa mayat terinfeksi.

Alex berniat memberikan kejutan pada pasukan ratu.

@@@

Desa Perbatasan.

Satu-satunya hal yang terlintas di pikiran Sonya, dan itu cukup untuk mengartikan bahwa pasukan musuh sudah mendekat.

Asap hitam membumbung tinggi memenuhi langit sore. Bahkan dari pintu rahasia di balik bukit utara, Sonya masih dapat mendengar gema samar teriakan dan dentingan logam dari arah kastil. Bau kayu terbakar bercampur angin dingin membuat perutnya terasa mual.

Christer segera menutup kembali pintu besi itu hingga suara deraknya menghilang di balik tanah. Setelah memastikan pintu tersamarkan sempurna oleh semak liar, pria baya itu menoleh pada Sonya.

"Kita harus segera pergi, milady."

Sonya tidak langsung menjawab. Manik matanya masih tertuju pada kepulan asap di kejauhan. Jantungnya berdegup cepat. Walau ia berkali-kali mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah dunia lain dan saat ini ia berada di tubuh orang lain, tetapi melihat kastil terbakar secara langsung terasa sangat mengerikan.

Parallel [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang