Hallo berhubung awal bulan author mau kasih cerita gratis jika suka Silakan dukung ke Karyakarsa botythestar sekian terimakasih janlup follow votr and komen happyreading all
Malam Minggu di alun-alun kota mendadak terasa seribu kali lebih panas dari biasanya bagi Rian. Festival tahunan yang seharusnya jadi ajang santai menikmati jajanan malam berubah menjadi mimpi di siang (atau lebih tepatnya, malam) bolong. Rian hanya berdiri terpaku di dekat gerbang masuk, memegang es teh manis yang sedari tadi mencair tanpa sempat ia teguk.
Bagaimana tidak terkejut? Di tengah lautan manusia yang berdesakan, tepat di panggung utama festival yang meriah, berdiri sosok yang selama ini hanya bisa ia dambakan dalam diam: Kak Dimas.
Kak Dimas adalah legenda hidup di SMA mereka. Ketua OSIS kharismatik, kapten tim basket, pintar, berprestasi, dan punya senyuman maut yang sanggup membuat satu koridor sekolah berbisik-bisik. Di mata Rian, Kak Dimas adalah definisi kesempurnaan berjalan-selalu rapi dengan seragam putih-abu-abunya, berkerah kaku, dan wangi parfum maskulin yang khas.
Namun, pemandangan di hadapan Rian saat ini sama sekali tidak sesuai dengan standar kesempurnaan itu.
Kak Dimas, sang idola sekolah, kini sedang berdiri di atas panggung-tanpa mengenakan baju, hanya berbalut celana dalam boxer warna merah menyala dengan motif pisang kartun, sambil memegang mikrofon dengan penuh percaya diri.
Festival "Bebas Ekspresi" yang Misterius
Rian yang kebingungan langsung menarik kerah jaket temannya, Bayu, yang sedang sibuk mengunyah telur gulung.
"Bay, tunggu. Mataku nggak salah kan? Itu... itu Kak Dimas, bukan?" bisik Rian dengan suara bergetar, menunjuk ke arah panggung dengan jari yang gemetar.
Bayu melirik sekilas, lalu tertawa terbahak-bahak hingga tersedak saus sambal. "Oh, iya benar! Itu si Dimas. Lu nggak tahu? Kan malam ini ada acara Puncak Kebebasan Seni Spontan di festival ini. Siapa pun yang kalah taruhan antarklub sekolah harus naik panggung dengan dress code paling absurd."
Rian menelan ludah. Otaknya berputar cepat. Kak Dimas yang terkenal jaim, dingin, dan penuh wibawa itu kini sedang melompat-lompat di atas panggung mengikuti irama musik dangdut remix, dengan otot perut six-pack yang terekspos jelas dan celana dalam bergambar buah pisang.
Bukannya ilfil, jantung Rian justru berdetak sepuluh kali lebih kencang. Ini adalah sisi paling absurd, paling konyol, sekaligus paling tidak terduga dari sang idola yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun di sekolah.
Mata yang Bertemu di Tengah Keramaian
Di tengah teriakan penonton yang menyoraki aksi kocak tersebut, tiba-tiba mata Kak Dimas menyapu area penonton. Dan sialnya, tatapan itu terkunci tepat ke arah Rian yang berdiri mematung di barisan depan.
Rian ingin lari. Kakinya terasa lemas. Ia yakin Kak Dimas akan merasa risi atau malu karena adik kelas yang paling pendiam di sekolah melihatnya dalam kondisi "setengah telanjang" yang memalukan ini.
Namun, reaksi Kak Dimas di luar dugaan. Alih-alih menutup wajah atau panik, sang idola justru menyunggingkan senyuman mautnya-senyuman yang sama persis seperti saat ia memenangkan trofi juara basket, namun kali ini ditambah kedipan mata genit khusus ke arah Rian.
Dari atas panggung, Kak Dimas bahkan berteriak lewat mikrofon, "Eh, yang pegang es teh di depan, jangan bengong aja! Joget bareng sini!"
Penonton disekitar Rian langsung bersorak dan mendorong-dorong pelan tubuh Rian ke arah depan.
Malam itu, di bawah tembakan lampu panggung festival yang berwarna-warni, Rian akhirnya melangkah maju. Membuang jauh-jauh rasa canggungnya, ia menyadari satu hal: terkadang, sosok yang kita impikan menjadi jauh lebih sempurna di mata kita ketika kita melihat sisi mereka yang paling nyata, paling konyol, dan tidak jaim sama sekali.
