Dari pesan singkat yang dikirim Stefan, mereka berakhir dengan janji bertemu di sebuah restoran Italia. Restoran Italia yang dimaksud, bukanlah restoran murah. Terletak di lantai paling atas, dari hotel mewah yang berada di kawasan elite. Sekarang, Vero berdiri di depan restoran tersebut, lengkap dengan peralatan perangnya. Gaun merah dengan panjang selutut, dan heels berwarna hitam. Wajah yang sudah dipoles, dan topeng yang sudah terpasang rapih. Sementara dia mengikuti pelayan ke tempat duduk yang sudah dipesan, fikirannya berkelana ke kemungkinan kemungkinan yang bisa terjadi.
"Hestia!" Stefan berkata dengan seyum di wajahnya. Vero membalas senyuman Stefan, dan duduk di kursi di depan Stefan. "Aku kira kau tidak akan datang" Tambahnya.
"Hei, aku tidak telat. Kau saja yang datang kepagian" Vero menjawab dengan nada main-main.
"Ah, hanya terbiasa. Apa kau mau memesan sekarang?" Stefan bertanya.
"Boleh saja" Aku mengangguk. Kemudian dia mengodekan seorang pelayan untuk menerima pesanan.
"Apakah anda sudah siap untuk memesan?" Pelayan tersebut tersenyum, dan memegang note kecil.
Stefan memesan entah apapun yang dia suka. Sesuatu yang berbahasa italia, dan terdengar seperti sesuatu yang tidak jauh dari pasta. Vero melihat buku menu dengan kosong, tanpa mengetahui apapun yang ada di menu. Vero hanya menyebutkan makanan yang ada di menu dengan asal, berharap dia tidak memesan sesuatu yang terlalu aneh.
"Aku berharap aku tidak memesan sesuatu yang terlalu aneh. Aku bukan penggemar masakan Italia" Vero berkata, lalu menopang dagunya.
"Ah, harusnya aku membawamu ke tempat lain" Stefan berkata.
"Tidak, tidak. Masakan Italia memang bukan favoritku, tapi bukan berarti aku menyukainya" Vero berkata, dan menaruh lengannya. "Berbicara tentang makanan, aku jauh lebih suka makanan tradisional Jepang"
"Oh, ya. Makanan tradisional Jepang memang enak. Aku juga menyukainya. Kenapa juga aku tidak memikirkannya sore tadi?" Stefan berkata.
"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan belakangan ini? Hobi?" Vero berkata, mencoba untuk mengalihkan perhatian dari topik makanan.
"Ah, tidak banyak. Aku lumayan suka krav maga, tapi aku benar-benar dalam level bawah" Stefan berkata dan mengangkat bahu. "Kau?"
"Entahlah? Aku banyak mengabiskan waktuku dengan teman, atau di kantor. Aku tidak banyak menghabiskan waktu untuk hobi" Vero berkata.
"Kau harus mencoba memancing kapan-kapan. Aku bisa membawamu kesana. Itu cukup menyenangkan jika dilakukan dengan teman" Stefan menyarankan. "Atau mungkin kau bisa mencoba kelas dansa. Aku tidak pernah melakukannya sih. Tapi saudaraku sepertinya sangat menikmati kelas dansa"
"Mungkin kapan-kapan kau bisa membawaku memancing. Kadang aku juga tidak memiliki banyak kegiatan yang bisa dilakukan" Vero berkata lagi. "Tentang kelas dansa, entahlah. Aku tidak begitu lentur, dan aku tidak pernah berdansa" Vero menambahkan.
"Rasanya itu tidak begitu sulit. Mungkin itu bisa menantangmu?" Stefan berkata lagi.
"Entahlah, aku jenis orang yang menyukai musik rock. Tapi mungkin aku akan cocok dengan sedikit musik klasik, atau apapun itu yang berhubungan dengan dansa" Vero mengangkat bahu.
"Rock? Bad Company? Nirvana? atau Slayer?" Stefan berkata, dan dia terlihat tertarik dengan arah pemicaraan kami.
"Alice in chains, Avenged Sevenfold?" Vero berkata dan meringis.
"Ha! Aku juga suka mereka. Meskipun rock bukan genre favoritku, tapi mereka lumayan" Ucap Stefan.
Vero dan Stefan menghabiskan sepuluh menit selanjutnya berbicara tentang musik. Mulai dari rock, kemudian Stefan mulai membicarakan tentang Jazz, indie, kemudian entah bagaimana mereka mulai berbicara tentang politik. Sampai pelayan datang, dan mengantarkan makanan mereka. Vero untungnya tidak memesan sesuatu yang aneh, hanya pasta dengan bumbu yang rasanya sedikit pedas. Satu jam setelah makanan dihidangkan, mereka melanjutkan pembicaraan mereka tentang politik. Mulai dari current issue, sampai dengan kejadian yang bahkan sebagian besar orang sudah lupa.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Shadow : Lily
Mystery / Thriller(WRITER'S BLOCK, BAKAL GAK UPDATE LUMAYAN LAMA) Veronica Wood adalah campuran dari hal-hal yang dihindari oranglain. Dengan ayahnya yang pembunuh bayaran, serta ibu yang bahkan tidak dia kenal Veronica tumbuh dengan penjahat di sekelilingnya. Adonis...