Adonis Archers part 2

94 5 1
                                    

“Sampah macam apa ini, Wood?” Evans membanting rancangan rancangan Vero dengan marah.
“Rancangan yang kau inginkan?” Vero menjawab dengan ragu. Matilah kau, Evans..
“Ini sampah, Wood! Remaja tidak menginginkan baju ataupun aksesoris semacam ini! Rancanganmu hanya akan berakhir di tempat sampah!” Evans meremas kertas tersebut dan melemparnya ke tempat sampah.
“Aku sudah berusaha, Evans! Aku bukan desainer!” Vero berseru dan bangkit berdiri.
“Pergilah dari hadapanku. Aku tidak menginginkan semua ini, buat sepuluh lagi, dan jika aku memutuskan itu adalah sampah, demi Himeros, aku akan meyakinkan Loki untuk memecat-“ Evans membeku sejenak dan melihatku dengan tatapan membunuh. “Pergilah dari sini. PERGI!” Dia melempar buku terdekatnya ke ujung ruangan.

    Vero menggerutu sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut. Manusia macam apa si Evans itu. Atau jangan jangan itu senjata robot buatan entah siapa yang sengaja dibuat untuk menghancurkan Shadow. Segala kemungkinannya ada!
    Vero berfikir dua kali untuk tujuannya berikutnya. Kemana dan apa yang akan di lakukan dengan kebebasannya yang entah tinggal berapa lama. Empat hari yang lalu dia sampai. Lalu sepuluh hari menuju acara.
   
“Miss.Brooke?” Vero menoleh dan melihat gadis remaja yang memanggilnya.

Vero mengangkat alis. Dari mana juga gadis ini tahu namaku..

“Oh, maaf mengganggu. Aku hanya ingin memberi tahu pria itu menunggumu dari tadi” Gadis itu tersenyum malu dan buru buru pergi.
“Oh, Great!” Vero mengerang dan melihat ke arah yang ditunjuk gadis tersebut.

    Siapa lagi kalau bukan Adonis freaking Archers. Tentu saja itu dia. Vero menghela nafas panjang dan menatap Adonis dengan tidak percaya. Disambut dengan senyum ramah dan tidak bersalah yang dilemparkan Adonis.
    Vero menggerutu sejenak sebelum mengambil langkah untuk mendekati Adonis. Percaya tidak percaya hari ini Adonis berpakaian rapih. Entah pakaian siapa yang dia pakai dan dia ambil dari mana.

“Halo Adonis. Senang bertemu denganmu. Oh, baju yang bagus sekali! Ternyata kau mempunyai selera yang bagus. Aku bertanya tanya, dari mana kau mengambil baju tersebut? Sangat disayangkan aku tidak bisa ikut melihat tokonya” Vero berkata dan tdiak mengizinkan Adonis menyelanya.
“Ah, sudah selesai rupanya?” Adonis berkata sambil tersenyum malas.
“Belum. Sepatu yang bagus juga, Adonis. Aku jadi tersanjung melihatmu berpakaian seperti ini. Untukku? Atau kau hanya sengaja berpakaian seperti ini karena memang kau ingin?” Vero melanjutkan sambil melemparkan senyum palsu.
“Brooke, percayalah ini baju temanku. Tidak, aku tidak mengambilnya dari rumah terdekat..” Adonis tersenyum kecil. “Aku bosan, dan kau tidak ada kerjaan. Jadi bolehkah..?” Adonis mengangkat alisnya dan menatap Vero dengan aneh.
“God, Adonis! Kau kenapa? Kemaren Adonis adalah orang yang kasar, dan sekarang kau bisa begini..” Vero menyerit dan menjauh selangkah dari Adonis.
“Ayolah, woman. Aku tidak menggigit..” Adonis memutar mata dan menatap Vero dengan bosan. “Kau sendiri yang mengikutiku kemarin dan entah bagaimana kita bisa bertemu lagi. Sekarang kau akan pergi begitu saja?”
“Memanya apa yang kau rencanakan?” Vero berkata sambil melangkah ke lobby.
“Tidak banyak..” Adonis mengangkat bahu dan mengikuti arah langkah Vero.
“Kau tahu, Adonis? Papa berkata aku tidak boleh mengikuti pria yang tidak dikenal” Vero berkata dengan nada menyindir. Adonis memutar mata.
“Yeah, dan mungkin itulah alasannya dia membekalimu jarum pisau, dan entah apa lagi yang tersimpan di balik bajumu itu. Aku menebak ada pemandangan indah dibaliknya..” Adonis menjaga wajahnya tetap datar. Sementara Vero memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kau lancang, My Lord..” Vero tertawa. Disusul dengan tawa renyah Adonis.

    Vero mengirim pesan singkat kepada Richard dan kembali mengikuti langkah Adonis. Entah kemana pria itu membawanya. Vero tentu saja tidak berfikir jauh jauh. Memangnya kemana juga dia bisa membawa Vero dengan jalan kaki.
    Adonis sendiri tidak pusing pusing menjelaskan kemana dia akan membawa Vero. Cukup yakin dengan tujuannya. Adonis berhenti didepan parkiran dan menoleh menatap Vero.

The Shadow : LilyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang