LARASATI #1

98.4K 3.4K 502
                                        

Juragan Adrian, please jangan tertawa 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Juragan Adrian, please jangan tertawa 

Berhubung yang nge-riview cerita ini, Bang Adnan sudah menghapus akunnya dan membuatku bingung untuk me-review sendiri. Yok review bareng-bareng ya, kita sama-sama belajar. Untuk Pov ataupun untuk Alur sengaja aku gak kasih penjelasan ya, biar readersku pinter wehehehe.

Dan lagi, bahasa jawanya udah aku minimkan, meski aku rasa masih banyak juga yang bertebaran. Kemarin aku kasih fotenote kalian malah bingung, jadi sekarang artinya aku taruh samping, biar kalian gak bingung. Happy reading, semoga gak membosankan yang versi barunya. Sangkyu. 

____________________________________________________________________________________


Malam ini adalah tanggal 16, bulan 10 Tahun 1997. Tepatnya 30 Tahun yang lalu kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan itu di mulai. Kejadian yang merubah hidupku secara berkala oleh seorang lelaki yang saat kini fotonya ku bingkai manis dan ku letakkan di atas meja kerjaku. Aku tersenyum, mengenang kenangan indah itu. Seolah aku tengah bernostalgia lagi dengannya, lelaki dewasa dengan arogansinya yang selalu menjadikanku Ratu di dalam hatinya.

Kini akan ku kenang lagi hal manis itu untuk kalian, sambil menikmati kopi hitamku, dan setelah melihat jika puteri kecilku terlelap dengan tenang, aku mulai merangkai kata-kata ini.

Hari ini, kawan-kawanku berlomba-lomba untuk mendaftar kuliah, di tempat-tempat Universitas ternama. Aku tahu, terlalu besar mimpiku jika aku menginginkannya juga. Siapa toh aku ini, hanya gadis desa biasa, yang bahkan untuk melanjutkan sekolah saja harus dibantu biaya sama Pak Lek Marji. Kehidupan keluargakupun ndhak seperti keluarga-keluarga di kampungku. Meski memang, kemuning merupakan kampung yang sangat primitif. Bisa dibilang, keluargaku itu paling miskin.

Aku berdiri di balik jendelaku yang terbuka lebar, subuh sudah mulai pergi, dan berganti dengan pagi. Pagi ini, aku harus pergi ke pasar, untuk membeli beberapa keperluan rumah. Walaupun toh itu hanya sayur-sayuran saja, kalau ndhak begitu, kadang aku sengaja pesan sama salah satu Simbah yang ada di desa Berjo, untuk membawakan wortel dan juga tembakau. Maklumlah, Simbahku memang paling suka sekali kalau nginang*.

"Ndhuk, ndhak ke pasar toh kamu? Sudah mulai pagi lho. Nanti kamu telat pergi ke kebun." Simbahku Minten, mengingatkan.

Ku sisir rambutku agar sedikit rapi, kemudian ku ambil tas belanjaan yang terbuat dari mambu, kemudian mengambil obor dan berjalan keluar.

Setelah aku lulus sekolah, rutinitasku sebulan ini, pergi ke pasar, kemudian ikut kawan-kawanku memetik teh di kebun. Meski, banyak sindiran yang ku dengar karena gadis sekolahan memetik daun teh.

"Anak dhemenan (simpanan), anak sekolahan lewat."

Aku bisa mendengar ketika beberapa pemuda kampung yang kebetulan berpapasan denganku bersiul-siul nakal sambil menyebutku anak simpanan yang bahenol, biarkan. Itu sudah menjadi hal biasa untukku, hampir ndhak diterima oleh orang-orang kampung, selalu dicela sebagai anak haram ataupun anak simpanan, bahkan karena tubuhku ini banyak orang yang suka mengataiku sebagai pelacur kampung. Tapi aku ndhak perduli, ketahulah ndhak semua pelacur itu busuk. Pelacur melakukan semua hal sampai menjual tubuhnya dan merayu banyak pria bukan hanya karena mereka ingin, atau mereka perempuan murahan. Namun, kadang kalanya sebuah keadaan yang memaksa mereka seperti itu. Jadi aku mohon, hilangkan pemikiran buruk kalian tentang pelacur. Karena mereka juga manusia yang memiliki hati, marah jika disakiti dan terluka bila di caci maki.

LARASATI ( Simpanan Terindah)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang