Apa yang kamu fikirkan tentang 'simpanan'? Wanita jalang penengah dalam keluarga orang? Mari baca sedikit kisahku, agar kalian tahu apa itu simpanan. Semoga setelah membaca cerita ini, kalian memiliki pandangan beda setelahnya. -LARASATI-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saya edit nanti ya, mau istirahat dulu. ohya sudah saya bilang, logout dan masuk lagi jika ceritanya sama, atau refresh. okeh. sangkyu. dan maaf jika ceritanya tidak sebagus dulu, meski aku sudah berusaha keras untuk membuatnya bagus. PEACE
Ku hirup kopi hitamku dalam-dalam. Rasanya begitu nikmat sampai ke dalam rongga hidung. Ku lihat puteri kecilku sedang tidur terlelap, aku tahu dia sudah sangat lelah, apalagi menginjak tahun ajaran baru di sekolahnya. Maklum saja, dia bukanlah anak yang mandiri, bisa dibilang dia adalah puteri yang manja. Terlebih, jika Romonya pergi ke Ngragoyoso. Memang, aku masih menjunjung tinggi adatku dulu, jadi tidak heran, jika puteriku memanggil kami dengan sebutan Romo dan Biung. Sudah jam setengah dua pagi, dan di luar hujan masih rintik-rintik. Membuatku semakin rindu dengan suamiku, biasanya ketika hujan seperti ini, beliau akan memelukku dari belakang, sambil berkata 'ingatkah kamu saat dulu?' sungguh, aku tidak pernah lupa, secuil kenangan apapun saat dulu bersamanya, marah, emosi, sakit hati terlebih bahagia, semuanya aku rasakan, bersama dia, suamiku.
Ku mulai lagi mengetik rangkaian kata-kata ini, aku ingat jika hari ini adalah hari di mana selalu membuat jantungku berdebar ketika mengingatnya, hari di mana, semua rasa maluku harus terampas dari diriku secara berkala, hari di mana, pengakuan hal bodoh yang disebut dengan cinta.
"Laras, ayok berangkat sekarang." Amah berseru di depan rumah, aku berpamitan dengan Simbah juga Bulek, jika aku akan pergi ke kebun. Jujur saja, sekarang ini aku semakin rajin ke sana, mungkin karena ada Juragan. Yang ndhak tahu sudah berapa hari ini ketika kami berdua, ku sebut beliau dengan 'Kang Mas' bodho memang.
"Sekarang giliran Saraswati untuk mendapatkan hati Juragan Adrian." Saraswati? Aku tahu gadis berusia 15 tahun itu sungguh ayu, kepribadiannya lemah lembut dan bertata krama, sungguh cerminan seorang perempuan desa yang digandrungi lelaki kampung, ndhak seperti aku, anak haram.
"Pasti dia yang menang, lihat saja kemarin, Juragan saja sudah berbincang dengan dia, lama pula. Pulang juga berdua." Ku tundukkan wajahku, bukan karena malu, tapi dadaku rasanya kok bergemuruh hebat, panas sekali. Aku segera pergi menjauhi mereka, ndhak mau mendengar lagi, kata apapun, tentang Juragan Adrian ataupun Saraswati, ndhak tahu hatiku ndhak enak mendengarnya.
"Juragan!" Ku tatap dari kejauhan, Saraswati berhalan cepat, mengiringi Juragan Adrian berjalan, keduanya berbincang cukup akrab. Duh Gusti, kok aku seperti ndhak rela yo melihat keakraban mereka, kok aku merasa kalau hanya aku yang boleh dekat-dekat dengan Juragan. Mikir apa toh aku ini.
"Inggeh Juragan, terimakasih banyak. Nanti saya tunggu Juragan di sana lagi." Saraswati berhenti ndhak jauh dariku.
Aku pura-pura ndhak melihat ataupun mendengar percakapan mereka, ku sibukkan diriku dengan daun-daun teh itu, meski telingaku terus saja mencari-cari tentang percakapan mereka.