LARASATI #5

52.8K 2.2K 204
                                        

*sorry kalau masih ada typo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*sorry kalau masih ada typo. dan maaf bagi yang kemarin WA aku terus aku jawab agak judes ya, pas masalah Larasati di unpublish, peace waktu itu aku lagi galau. sekali lagi maaf. semoga gak kapok WA aku dan tanya-tanya XD

*bagi yang gagal fokus dan penasaran sama Pak Lek Marji, :3 itu mulmet di atas anggap saja kumpulan abdi dalem Juragan Adrian, Pak Lek yang kumisnya hitam. bagus toh? hahahahaha

___________________________________________________________________________________

            Pagi ini ku tatap pantulan tubuhku di cermin, sambil menyisir rambut panjangku. Aku ndhak tahu, hal-hal yang aku alami beberapa hari ini rupanya sudah banyak merubah diriku. Aku tersenyum lagi, melihat samar-samar pantulan tubuhku yang disinari oleh pelita. Dulu, orang-orang lebih memilih menggunakan pelita (lampu minyak) sebagai alat penerang. Bukan ndhak ada listrik, ada. Tapi, untuk memiliki lampu listrik itu butuh biaya cukup mahal, hanya kalangan orang-orang kaya saja yang menggunakannya. Kalau kami warga kampung menengah sampai miskin seperti keluargaku, harus puas dengan pelita. Bahkan, paling populer dulu adalah lampu teplok, dan lampu petromak, yang dimiliki satu, dan ditaruh di ruang tamu mereka.

DUK!

Setengah melompat ku genggam dadaku, kaget. Siapa toh, yang pagi-pagi seperti ini sudah menganggu. Ini belum subuh, bahkan Simbahku yang bangunnya selalu pagi pun belum bangun. Ku buka jendela kamarku, rupanya ada gulungan kertas yang di dalamnya ada batu kecil. Dari siapa? Ku edarkan pandanganku, takut jika itu adalah santet, tenung, atau semacamnya. Ini jaman di mana ilmu-ilmu seperti itu masih sangat dipercayai dan digunakan sebagai balas dendam.

"Ndhuk," Aku menoleh, di belakang rumahku ada sosok yang memeluk tubuhnya. Aku yakin, sosok itu kedinginan, karena di kampungku sangatlah dingin, apalagi menjelang pagi seperti itu. Tapi, siapa sosok itu? Apakah weden? (setan). "Ndhuk." Panggilnya lagi, duh Gusti, aku takut. Sosok itu mendekat, mataku membulat saat tahu siapa orangnya.

"Kang Mas!?" Tanyaku kaget, beliau tersenyum lebar, bibirnya membiru, sementara tubuhnya menggigil, sedang apa? Ndhak, apa yang dilakukan Juragan Adrian pagi-pagi seperti ini, di sini?

"Sudah 2 jam, aku di sini. Nunggu kamu, kok ya ndhak buka-buka jendela toh. Ndhak peka sekali kalau aku datang." Beliau marah, lha siapa yang tahu kalau beliau ada di sini, bilang saja ndhak kok.

"Maaf Kang Mas, aku ndhak tahu jika Kang Mas datang. Lagi pula, masak ada toh warga kampung bangun sepagi ini, ini masih bisa dikatakan malam lho."

"Ini, ada." Katanya, sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ngapain toh Kang Mas ini berdiri di sana? Apa ndhak dicari istri-istri Kang Mas?"

"Aku tadi sembunyi-sembunyi ke sini, namanya juga rindu. Kok ya ndhak seneng toh aku datang, mbok ya disuruh masuk ke kamar. Menghangatkan diri, diajak kelon." Ketusnya, aku ingin tertawa, kok ya ada orang tua nekat seperti beliau.

LARASATI ( Simpanan Terindah)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang