3rd: Ancestor

133 9 4
                                    

PART III: ANCESTOR

    Langkah kaki Nana terdengar cukup nyaring di malam yang sunyi itu. Terlihat kedai kecil-kecilan yang dibuat ibunya di depan rumah sudah tutup. Biasanya ibu Nana bisa buka hingga jam 12 malam, kenapa sekarang baru pukul 10 kedai itu sudah tutup? Bahkan meja dan kursi sudah disusun rapih.

    "Aku pulang, Ayah, Ibu." Ucap Nana ketika tangannya mendorong gagang pintu rumah.

    Wajah tegas serta menyeramkan milik Ayah Nana menyambut kepulangan Nana. Ayah Nana terlihat menunjukkan ekspresi marah serta khawatir dalam waktu yang bersamaan. Jika sudah seperti ini, bisa-bisa Nana tidak diberi jatah bulanan.

    "Darimana saja kau, Yoon Nana?" Tanya Yoon Kihoo-ayah Nana-dengan nada marah.

    "A-aku..."

    "Kenapa tidak mengangkat telepon? Apa kau pikir kau sudah tidak mempunyai orang tua, hah?" Chongmi-ibu Nana-menghampiri Kihoo dan mengelus tangan suaminya dengan sabar.

    "Ponselku..."

    "Kau pikir kami bisa tenang di rumah jika anak semata wayang kami berada di luar dan sama sekali tidak memberikan kabar? Apakah otakmu masih berfungsi dengan baik Nana? Kami sudah menelpon teman-temanmu dan yang mereka katakan tidak tahu keberadaan kau. Ibumu bahkan menutup kedainya lebih awal!" Sembur Kihoo pada Nana yang sekarang hanya dapat menunduk takut.

    Untuk apa Nana memberikan penjelasan, ayahnya tidak pernah memberikan waktunya untuk Nana berbicara. Selalu seperti itu. Nana tidak habis pikir pada orang tuanya, ia bahkan sudah menginjak usia 19 tahun! Apakah mereka tidak tahu jika anak muda seusianya ini seharusnya diberikan kebebasan yang cukup tetapi tidak berlebihan? Ini lah hal yang paling Nana tidak suka dengan sikap ayahnya, Kihoo terlalu over-protective.

    Rasanya Nana juga ingin merasakan bagaimana berpesta di ulang tahun temannya hingga fajar menjemput. Nana ingin merasakan masa muda yang sebenarnya. Paling tidak ayahnya dapat mengizinkannya untuk pulang tengah malam saja Nana sudah bersyukur. Ia sekarang bukanlah lagi anak kecil yang harus kemana-mana dengan pantauan orang tua. Bahkan Nana sudah mempunyai kartu identitas diri, kenapa ia tidak bisa melakukan yang orang dewasa lakukan?

    "Ayah..."

    "Nana kau itu sudah cukup dewasa seharusnya-"

    "Ayah, kumohon dengarkan aku," kali ini Nana menatap mata tajam milik ayahnya dalam-dalam. "Ponselku rusak karena diinjak oleh orang tadi. Aku minta maaf atas segala kecerobohanku. Tapi tolonglah Ayah, bayi Yoon Nana yang dulu kau gendong-gendong sekarang sudah berumur 19 tahun." Nana memberi jeda sejenak.

    "Aku bahkan sudah mempunyai kartu identitas, bukan kah sudah saatnya ayah lebih memberikanku kebebasan? Aku ingin menggunakan masa mudaku sebaik mungkin," Kali ini mata Nana mulai berkaca-kaca.

    "Ayah, biarkan aku bertanggung jawab atas diriku sendiri."

    "Tidak! Kau masih tanggung jawab kami sampai kau mempunyai seorang suami."

    "A-aku ingin merasakan masa muda."

    "Kami tahu kau kesulitan mendapatkan teman yang bisa benar-benar kau percaya. Mungkin kali ini ada Hwasun yang menjadi teman baikmu. Tapi apa ia dapat menjagamu? Ia bahkan sama lemahnya denganmu!"

    "Jadi apa jika aku mempunyai seseorang yang dapat menjagaku dengan baik, kau dapat memberikanku sedikit kebebasan?" Tanya Nana dengan nada harapan yang kental.

    "Tapi kau masih dalam tanggung jawab kami." Jawab Kihoo tegas.

    "Baik aku akan mendapatkan orang itu secepatnya."

OURS [EXO Sehun Fanfiction]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang