Kening Angky berkerut heran begitu dia memasuki ruang kerjanya dan mendapati berkas-berkas di mejanya tak ada disana. Dia ingat kalau hari ini dia harus menandatangani beberapa berkas yang kemarin diberikan oleh sekretarisnya. Mejanya terlihat lebih rapi tanpa tumpukan berkas-berkas file. Hanya komputer dan foto berbingkai miliknya yang ada disana.
"Boss..." panggilan Elena, sekretarisnya, membuat dia berhenti terheran-heran. Perempuan cantik yang lebih tua darinya itu, memandang gugup.
"Ohya El, kemana berkas-berkas yang ada di mejaku?"
"Itu—udah dipindahin ke ruangan Pak Galang"
Angky terperanjat. Dia sungguh tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Pekerjaannya dipindahkan ke meja sepupunya yang selama ini menjadi wakilnya? Kenapa?! Angky sadar, pasti ada sesuatu yang serius.
"Apa?" sekali lagi Angky mengerutkan keningnya sambil melihat pada sekretarisnya.
Elena menganggukkan kepalanya, pelan.
"Pak boss Yoga yang minta. Beliau bilang, mulai saat ini semua persetujuan harus melalui Pak Galang. Aku juga gak tahu apa ini bersifat sementara atau tidak..." jelas Elena.
Wanita itu memandang boss nya merasa bersimpati, dia menduga pasti ada masalah serius diantara ayah dan anak penguasa perusahaan Prajaya itu. Ah dia tak mau ikut campur.
"Tapi aku tetap sekretaris anda, boss. Jangan segan untuk minta bantuan apapun padaku" tambahnya sambil tersenyum tulus, walau masih terlihat gugup.
Tanpa menunggu Angky mengatakan apapun, dia berpamitan untuk keluar.
"Tunggu" panggil Angky, sebelum Elena keluar dari pintu. Dia melihat lagi pada boss tampan itu.
"Tolong buatkan segelas teh hangat"
"Oh baik, boss" sahut Elena cepat.
Dia segera melesat keluar dan nyaris merasa tak enak karena tak menawari boss nya itu minuman. Dia menduga kalau Angky pasti sangat membutuhkan untuk sendiri sekarang. Angky memandang nanar pada meja kerja di hadapannya. Dia terduduk di kursi kerjanya sambil menghembuskan nafas berat. Dia mengerti ini. Ayahnya pasti sudah mulai bereaksi karena pengakuannya kemarin malam. Dia memang tidak begitu siap, tapi dia sudah menduga semua ini. Perlahan, mungkin keluarganya, akan membuat dia tersisih. Dia mungkin tak seharusnya langsung berprasangka buruk. Benarkah ibu dan kedua kakak perempuannya ingin menjauhinya juga? Tak mencintainya lagi?
Angky mengusapkan telapak tangan ke keningnya, hingga rambut kecilnya disana agak berantakan. Dia memang merasa lebih lega, tapi apa gunanya jika hal yang dia takutkan benar-benar terjadi Dijauhi oleh keluarganya, akan menjadi bencana besar baginya. Angky mengalihkan matanya ke arah jendela yang langsung memperlihatkan suasana di tempat para pegawainya. Dia melihat Galang ada disana sedang berbicara dengan salah seorang pegawai. Sepupu sekaligus wakilnya itu terlihat lebih sibuk. Tentu saja, karena sekarang dia lah direkturnya.
Sial. Semua ini karena Angky terjebak oleh perasaannya sendiri. Gara-gara seorang Ezra yang dengan anehnya malah dia harapkan, namun malam kemarin justru sudah mematahkan hatinya.
. . . . . . .
"Mereka ngediemin gue, Kak" Angky menyebutkan kesimpulan dari pembicaraan panjang lebarnya.
Dia mendesah pelan, lalu mengambil cangkir kopi di hadapannya. Dia dan Kak Tony memang sedang sarapan bersama di sebuah café, di kawasan Kemang. Kak Tony terdiam sesaat memandang juniornya itu, dia bisa merasakan apa yang Angky rasakan sekarang.
Meski wajah tampan itu berusaha menunjukkan senyuman, tapi dia tahu pikiran kalut macam apa yang dimiliki Angky sekarang. Dia juga pernah melewatinya. Jangan sampai Angky ingin berpikir yang tidak-tidak juga sepertinya dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE HOOK UP [END]
General Fiction❌Cerita repost bertema gay ❌Writer : @rieyo626 ❌HOMOPHOBIC SILAHKAN MENJAUH!
![THE HOOK UP [END]](https://img.wattpad.com/cover/56125155-64-k287358.jpg)