* 4 *

3.7K 321 12
                                        

Mobil Ali kini sudah memasuki halaman universitasnya. Seperti biasa Prilly selalu ikut turun dari mobil itu setibanya mereka disana. Hari ini mereka cuma ada satu jadwal kuliah pagi, dan selebihnya akan mereka habiskan untuk bersantai dikampus.

Hari ini akan ada kegiatan ekskul kampus yang salah satu kegiatannya sudah Ali ikuti bersama beberapa teman sekelasnya. Basket, itulah salah satu ekskul yang menjadi daya tarik terbanyak dikampus ini. Kampus mereka memang terkenal dengan prestasi pemain basket yang hebat dan sudah sering keluar sebagai pemenang dalam banyak kompetisi. Tidak heran jika orang yang lolos masuk ke dalam tim basket kampus ini membuat popularitasnya naik dengan cepat.

"Lo beneran mau ikut seleksi tim basket kampus?" tanya Prilly yang sudah berulang kali didengar Ali hari ini.

"Iya Pril. Bawel amat sih lo," ucap Ali yang beranjak keluar dari ruang kelasnya setelah mata kuliah mereka berakhir.

"Tapi itu main basket Li. Lo inget kan pesan tante? Lo nggak boleh terlalu capek."

Ali menghentikan langkahnya seraya memutar bola matanya mendengar ucapan Prilly barusan. "Kenapa lo bawelnya sekarang jadi sama kayak nyokap sih?" Gerutu Ali yang menatap serius kearah Prilly disampingnya.

"Gue kan khawatir sama lo. Lagian niat lo ikutan ekskul itu nggak masuk akal banget deh." Prilly masih dengan gigihnya berusaha menghentikan Ali untuk melanjutkan kegiatannya itu. Ali juga sempat mengutarakan alasannya untuk ikut ekskul ini agar bisa menarik perhatian orang yang menjadi incarannya di kampus.

"Udah lah Pril. Lo jangan perlakuin gue kayak orang sakit gitu. Lo liat kan badan gue masih sehat gini?" Ali kembali melanjutkan langkahnya menuju gedung olahraga yang berada di tengah kampus mereka.

"Ta, tapi.... " omongan Prilly kini rasanya sudah tidak berarti apa - apa jika Ali sudah berkehendak. Sahabatnya ini memang sangat keras kepala. Entah kenapa Prilly masih tahan bersahabat dengan Ali hingga saat ini.

Kini Ali sudah tiba di depan gedung olahraga diiringi Prilly di belakangnya. Ali terus berjalan masuk hingga tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sepertinya juga sedang menonton kegiatan hari ini.

"Hai." Sapa Dara yang pertama melihat Ali masuk ke dalam gedung.

"Hai," balas Ali yang terlihat senang dengan pertemuan mereka.

Prilly yang berdiri disamping Ali pun ikut tersenyum kearah Dara. Namun sepertinya Dara masih kesal dengan kejadian tempo hari, karena Dara tidak membalas senyum dari Prilly, hanya melirik sekilas kearahnya dan kembali lagi menatap Ali yang ada didepannya.

"Kamu ngapain? Ikutan seleksi juga?" Tanya Dara lagi.

"I...iya," jawab Ali sambil menggaruk tengkuk kepalanya.

"Wah, semangat ya? Aku juga bakal dukung kamu." Dara terlihat begitu menyenangkan, hingga Ali bahkan tidak sadar kalau Prilly merasa diacuhkan sejak tadi.

"Ya udah, aku kesana dulu ya? Aku harus ganti baju dulu." Ali mengakhiri percakapan singkat mereka setelah mendapat anggukan manis dari Dara. Ali beranjak ke ruang ganti sementara Prilly duduk di bagian paling depan tempat penonton untuk melihat Ali. Prilly sempat berpikir kalau Dara tidak menyukainya, terlihat jelas dari tatapan Dara kearahnya ketika Ali pergi dari hadapan mereka.

Sorakan dan tepuk tangan yang riuh menandakan Ali dan teman-temannya sudah mulai memasuki lapangan. Ali terlihat sangat bersemangat, membuat Prilly juga senang melihatnya. Sudah lama Prilly tidak melihat Ali sesemangat ini bermain basket. Karena sejak kejadian dulu, Ali selalu dibatasi oleh orang tuanya untuk melakukan kegiatan ini. Hanya sesekali Ali mencuri kesempatan untuk bermain basket bersama Prilly di lapangan tempat biasa mereka bermain.

My Heart Is Your Heart (Ali - Prilly)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang