*20*

5K 394 28
                                        

Dua hari berlalu sejak pertemuan singkat Ali dan Prilly yang disertai perdebatan kecil mereka. Mereka bertengkar? Entahlah, tetapi malam itumereka berdua cukup dapat saling bicara, mengeluarkan apa yang ada dipikiran mereka tentang satu sama lain, walaupun dengan situasi yang tidak baik. Dan, dua hari ini menjadi dua hari terburuk pada akhir pekan Ali, dimana Ali tidak memiliki alasan lagi untuk bertemu Prilly. Jika biasanya ia dapat melihat Prilly di kampus, atau menghabiskan waktu bersama Prilly di akhir pekan mereka, maka kini mereka seperti membuat sendiri dinding pemisah dengan saling diam tanpa berusaha memperbaiki keadaan.

"kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu tuh berubah!" bentak Dara dari balik panggilan di ponsel Ali.

"Ra, tolong kamu ngertiin aku. Aku cuma lagi nggak pengen ke--"

"Kamu itu pacar aku, dan udah seharusnya dong bikin aku seneng. Aku ajak ke sini nggak mau, aku ajak ke situ kamu nolak. Kamu itu sebenernya kenapa?!"

"Aku capek, Ra. Kamu tau sendiri 'kan aku latihan terus. Dan besok latihan terakhir, aku juga perlu istirahat," jawab Ali yang mulai kesal.

"Terserah deh! Aku nyesel ngomong sama kamu."

"Ya udah ya, aku tutup dulu."

"A-Ali, aku belum selesai ngomong, Ali--"

Panggilan itu terputus. Ali melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya juga di tempat itu. Ali menjambak rambutnya sendiri dengan prustasi. Satu sisi Ali mulai tidak betah dengan semua tuntutan Dara padanya. Dara seperti tidak pernah puas dengan apa yang sudah Ali lakukan hanya untuk menuruti kata-katanya. Dan di sisi lain, Ali ingin segera menuntaskan masalahnya dengan Prilly. Ia ingin kembali seperti dulu, kembali pada keadaan normal mereka berdua. Namun, ketika Ali mengingat percakapan ketika Revan menyatakan cinta pada Prilly, perasaan marah itu selalu timbul dari benak Ali. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, bahkan ketakutan akan emosinya sendiri membuat Ali mengurungkan niatnya untuk menemui Prilly lagi.

***

Aktivitas kampus diliburkan selama seminggu penuh dimulai pada hari ini. Semua warga Universitas Bina Bangsa dengan antusias menyiapkan semua keperluan untuk menyambut Pekan Olahraga yang akan diselenggarakan tiga hari lagi di kampus mereka. Sesuai kesepakatan, setiap prodi yang ada di kampus itu membuat sebuah bentuk kegiatan untuk mendukung kemeriahan acara tersebut. Mulai dari Bazar, Pentas Seni, dan yang lainnya akan dilakukan sambil mengiringi berbagai pertandingan yang berlangsung.

Prilly, salah satu orang yang cukup disibukkan dengan acara itu. Bukan karena ia ikut serta menyiapkan pameran yang akan dibawakan oleh mahasiswa di program studinya, tetapi Prilly mendadak jadi bala bantuan untuk panitia kegiatan tersebut. Sejak mendapat telpon dari Revan kemarin siang, kini Prilly nampak sibuk berkutat dengan tumpukan kertas di samping Revan dan beberapa orang lainnya.

Revan memundurkan kursi sedikit ke belakang untuk mensejajarkan duduknya dengan tempat duduk Prilly. Ia memandangi Prilly yang nampak serius menyusun berkas yang keluar dari mesin printer di atas meja.

"Pril," panggil Revan.

"Iya?" Prilly menoleh. Ia menghentikan aktifitasnya yang sejak tadi ia lakukan.

"Maaf ya, kamu jadi ikut-ikutan repot. Aku terpaksa minta bantuan kamu, karena temen yang biasa bantuin aku lagi sakit."

"Iya, nggak papa. Lagian aku juga nggak ada kerjaan, jadi mending bantuin kamu di sini."

"Makasih ya," ucap Revan sambil mengelus pucuk kepala Prilly. Revan sangat suka melakukan itu padanya, dan Prilly tidak merasa keberataan selama tidak ada perasaan yang terbawa dengan kebersamaan mereka ini. "Kamu udah makan? Dari tadi kamu belum makan apa-apa loh."

My Heart Is Your Heart (Ali - Prilly)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang