*16*

3.7K 320 10
                                        

PRILLY POV

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana waktu bisa berjalan begitu cepat. Dulu aku hanyalah anak-anak, yang tidak bisa mengartikan sebuah perasaan selain senang, sedih dan marah. Namun, tidak ada amarah yang pernah terbersit di benakku sejak dulu, sejak awal pertemuanku dengan Ali.

Masa kecilku selalu dipenuhi dengan tawanya, kejahilannya, juga perhatiannya. Ali tidak pernah membiarkan apapun terjadi padaku. Itu bisa kusimpulkan saat di sekolah baru. Aku pindah ke sekolah Ali, karena sejak saat papaku bekerja di kantor orangtuanya, mereka yang menanggung semua kebutuhanku.

Sebagai anak baru yang masih duduk di kelas 3 SD, aku mendapat banyak ejekan dari teman-temanku karena pakaian ataupun kondisi sepatuku yang sudah mulai rusak. Aku bisa menerimanya, karena ejekan mereka memang benar. Namun, aku tidak lagi bisa menahan rasa sedihku ketika harus mendengar semua temanku menyebutku tidak punya ibu. Saat sekolah mengadakan acara dengan semua orangtua, hanya papa yang datang sebagai orangtuaku.

Aku sedih, ya, benar, saat itu untuk pertama aku mengetahui perbedaannya mempunyai orangtua yang lengkap dan yang hanya mempunyai satu orangtua. Namun, itu tidak berlangsung lama. Ketika Ali mengetahui ada anak yang sudah membuatku menangis, Ali membalasnya. Ali tidak terima ketika ada orang yang berlaku buruk padaku, hingga ia harus terlibat adu mulut dan saling dorong, serta dihukum oleh guru karena pertengkarannya.

Dan juga, pernah ketika aku harus berurusan dengan beberapa anak laki-laki yang saat itu duduk di kelas 6. Mereka meminta uangku secara paksa, tetapi aku berusaha merebut uangku kembali dari mereka. Hingga Ali datang, dan tanpa peduli bahwa lawannya lebih besar, Ali membelaku, harus berkelahi dengan anak laki-laki itu hingga Ali mengalami luka di sikut dan lututnya.

Itu hanyalah sedikit hal dari Ali yang selalu ada untukku sejak dulu. Saat aku tersenyum, itu karena dialah pembuat tertawa. Ketika aku bersedih, dia ada sebagai penghibur dengan segala kebawelannya.  Ali menepuk pundakku,  mengelus rambutku, atau membuatku akhirnya jengkel dan melupakan kesedihanku dengan tingkah jahilnya. Namun, aku tidak benar-benar marah, tidak ada hal yang bisa membuatku marah. Ia hanya Ali, seseorang yang setiap hari mengajarkanku caranya memasukkan bola basket ke dalam ring. Menemaniku bermain monopoli hingga akhirnya bangkrut kehabisan uang kertas warna-warni. Mengajariku menaiki sepeda walaupun itu sepeda barunya. Memperalatku dengan berpura-pura sakit agar aku bisa mengerjakan soal matematikanya (itu berlaku hingga sekarang), juga menjadi samsak tinjuku kala harus bertengkar dengannya (yang pada akhirnya aku tetap kalah dan dia menjepitku dibawah ketiaknya).

Sekarang, Ali sudah dewasa, bukan seorang anak berusia sembilan tahun seperti pertama aku mengenalnya. Hari-hari yang kuhabiskan, tumbuh bersama dirinya, membuatku tidak pernah berpikir bagaimana aku jika tanpanya. Aku hanya memikirkan zona nyamanku didekatnya, tanpa peduli perasaan apapun yang mulai timbul selain marah, sedih dan bahagia.

Ali tetaplah Ali, sahabat yang mengisi penuh seluruh hidupku dengan hadirnya. Namun perlahan, hidupku tidak lagi terisi penuh, berkurang, semakin kurang, hingga akhirnya aku bisa mengerti arti sebuah kehilangan. Tidak, aku tidak kehilangan Ali. Ia masih berada di hadapanku, tetapi tanpa mengisi lagi relung terdalam di dadaku. Ia seakan memudar, seperti hembusan angin yang tak pernah bisa kugapai. Ia menjauh, dan aku tak lagi merasa berarti walaupun kutahu Ali tetap berusaha peduli.

Aku selalu bicara pada diriku.

"Lo harus sadar, Pril. Nggak selamanya Ali akan ada buat lo. Ali punya kehidupan yang cepat atau lambat akan ia bagi dengan orang lain, dan lo nggak harus selalu berjalan disampingnya."

Tapi, itu tak memberikan arti banyak, karena aku terbiasa dengannya.

Hingga, aku kembali menyadari arti sebuah perasaan yang sejak dulu bersemayam, tetapi dulu tak pernah aku pedulikan. Perasaan nyaman, tenang, bahagia, senang, bergabung jadi satu hingga membentuk sebuah wujud yang biasa orang sebut 'Cinta'.

My Heart Is Your Heart (Ali - Prilly)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang