*19*

4.1K 334 18
                                        

Dari dalam gedung Olahraga yang masih nampak sepi, terdengar suara hentakan bola basket cukup keras. Ali sudah mengganti bajunya dengan baju latihan, memainkan bola basket yang memantul didepannya dengan cukup kasar. Sudah hampir setengah jam Ali bermain sendiri, mencoba memasukkan bola itu tapi selalu gagal. Ini bukanlah dirinya, ia pasti akan selalu berhasil memasukkan bola itu ke ring apalagi dalam jarak dekat seperti ini. Namun, Ali merasa kacau, lebih parah dari sebelumnya. Napas Ali terdengar memburu, dan dengan kesal ia menghentakkan bola basket yang ada ditangannya sembarang.

Ali berjalan menuju bangku panjang di pinggir lapangan di mana Ali meletakkan perlengkapannya. Ali membuang napas kasar melalui mulutnya sambil duduk di bangku itu.

'Prilly, aku cinta sama kamu.'

Sejak tadi, kata-kata Revan yang ia dengar beberapa saat lalu selalu terngiang di benaknya. Itu semakin membuat emosinya meledak, hingga Ali mencengkram dan mengacak rambutnya kesal untuk menghilangkan kata-kata itu dari pikirannya.

"Gue kenapa sih? Kok gue jadi kesel gini!" seru Ali seakan bertanya pada dirinya sendiri. "Pril, gue cuma mau perbaiki hubungan persahabatan kita, dan lo malah... lo malah pacaran sama cowok itu!"

"Kenapa lo, Li?! Ngomong sendiri aja dari tadi. Kesambet lo?"

Ali terperanjat kaget, ia tidak menyadari kehadiran seseorang selain dirinya di tempat itu.

"Nggak papa!" jawab Ali berusaha meredamkan kembali emosinya.

"Muka lo nggak santai banget. Lo ada masalah?" tanya laki-laki bernama Zaky itu lagi. Ia adalah teman satu tim Ali di ekskul basket ini, dan juga satu jurusan dengannya. 

"Nggak, gue cuma lagi pusing aja."

"Nih buat lo!" Zaky memberikan sebuah botol air mineral yang sejak tadi dibawanya pada Ali.

Sejenak Ali menatapnya bingung, bingung bagaimana dengan Zaky, jika Ali menerima botol air yang pasti Zaky bawa untuk bekalnya latihan.

"Udah, lo bengong aja. Ayo ambil! Gue masih punya satu botol lagi di dalam tas gue nih," ucap Zaky seakan mengerti arti tatapan Ali padanya.

"Thanks ya!"

'Makasih lo bukan buat gue, tapi seharusnya buat Prilly,' batin Zaky sambil mengangguk-anggukkan kepalanya merespon ucapan terima kasih dari Ali.

Sebelum Zaky memasuki gedung olahraga tadi, Prilly memanggilnya. Zaky sudah tahu apa yang akan Prilly bicarakan padanya, dan itu selalu membuat Zaky tersenyum heran.

"Kenapa lo nggak ngasih nih minum sendiri aja sih sama si Ali? Lo udah tiga kali loh nitip beginian mulu sama gue!"

"Udah deh, lo nggak usah banyak nanya. Pokoknya lo kasihin aja minuman ini buat Ali, Oke?! Trus, inget, jangan bilang itu dari gue."

Kenapa?" tanya Zaky heran. "Bukannya lo berdua deket banget ya? Bahkan semua orang ngiranya lo berdua itu pacaran ketimbang sahabatan. Ya... sebelum akhirnya Ali sama si Dara sih."

Zaky cukup tahu bagaimana kedekatan Ali dan Prilly. Mereka sama-sama memasuki kampus ini dengan kegiatan ospek dan mereka bertiga satu kelompok. Apalagi sekarang Ali dan dirinya satu tim. Zaky pernah melihat Prilly mendampingi Ali untuk seleksi dan latihan. Namun, Zaky tidak tahu kenapa saat ini mereka jadi terlihat merenggang.

"Hhhmmm... ceritanya panjang deh, tapi yang pasti lo harus sampein titipan gue sama Ali," ucap Prilly lagi.

"Iya... Iya!"

"Ok, Thanks ya Ky!

"Oh ya, kenapa lo jadi perhatian sama gue? Lo udah sering bawain gue botol minuman kayak gini," tanya Ali.

My Heart Is Your Heart (Ali - Prilly)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang