5

11 2 0
                                    

Aku memutuskan untuk tidak menghadiri acara pernikahan Ayu dan Gery. Aku tahu ada jebakan yang siap menungguku jika aku datang. Aku punya masalah yang lebih penting ketimbang memikirkan dua orang penipu itu. Dina, gadis itu belum menghubungiku dari kemarin. Jadi, hari ini aku akan pergi ke rumahnya untuk meminta maaf padanya.

Susana kampung rumah Dina sangat sepi dan saat sampai di depan rumahnya Dina aku sangat kaget. aku menemukan Dina di tempat yang sama saat kami mengunjungi tempat ini kemarin. Jangan bilang ia belum bertemu dengan keluarganya.

"Din.." panggilku. Ia menoleh dan tersenyum. Di saat aku telah menyakitinya ia masih tersenyum.

"Maafkan aku telah bicara kasar padamu. Semua ucapanmu benar."ujarku. Dia hanya menatapku sambil tersenyum.

" aku bersyukur kamu tidak mengambil keputusan yang salah."ujarnya.

"Sekarang katakan kenapa kamu tidak mau bertemu keluargamu?" tanyaku.

"Sudah kubilang kondisiku berbeda sekarang. Kamu akan tahu nanti alasanku." ujarnya.

Seperti kemarin, adiknya keluar dan bermain sepeda di perkarangan. Kalau dia tidak mau bertemu adikknya baiklah aku saja yang menghampirinya.

" kalau gitu biar aku saja yang bertemu adikmu." ujarku

Saat aku akan menghampiri anak itu keluarlah seorang gadis. Gadis itu mirip sekali dengan Dina. Apa itu kembarannya?

"I..an.. A.o ma..m du..lu.!! (Iyan ayo makan dulu)" ujar gadis itu dengan bahasa gagu.

"Dia, dia kembaranmu?" tanyaku pada Dina. Tapi gadis itu menggeleng. Aku menatapnya heran.

"Lantas siapa dia?" tanyaku lagi.

"Dia diriku Ryan. Itu adikku, Ryan Putra Dirgantara." ujarnya yang membuatku terkejut.

Dirinya? Dan nama adiknya sama persis dengan nama lengkapku. Aku bingung dengan ucapannya. Apa maksudnya.

"Kau gila?" tanyaku lagi. Dia menggeleng.

"Cobalah mendekat dan kau akan tau semuanya." ujarnya.

Aku menurut mendekat ke rumah itu. Benar anak kecil itu mirip denganku waktu kecil. Aku berdiri di depan rumah itu dan diam melihat mereka. Aku seperti menonton sebuah film.

Dina yang berbicara gagu sedang bermain bersama anak itu. Saat sedang berlari mengejar Dina anak itu terjatuh dan lututnya berdarah. Aku ingin menolong tapi entah kenapa tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Anak tadi menangis kencang dan Dina mencoba menenangkannya.

"A..ngan na..is an..ti ma..ma ma..ah (jangan nangis nanti mam marah)" ujar Dina kesusah. Apa benar itu dirinya? Lantas siapa yang bersamaku selama ini? Aku menoleh kebelakang dan tidak menemukan Dina yang tadi berada di belakangku. Aku merinding dan ingin kabur tapi tubuhku kaku.

Aku melihat ke rumah itu lagi. Kali ini aku melihat hal yang membuatku terkejut. Anak laki laki tadi di gendong oleh seorang wanita berumur akhir kepala tiga dan Dina di cambuki oleh seorang pria bengis.

"Liat gara gara kamu anak saya luka." ujar wanita itu.

"A..mpun.. Pa.. Ma.. Di..na min..a.. Ma..af" ujar Dina gagu. Dia kesakitan. Aku menjerit tertahan saat lagi lagi tubuhnya di cambuki dan di pukuli hingga di ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.

"Papa jangan sakitin Mbak Dina.. Iyan yang salah pa." ujar anak laki laki itu membela Dina. Suara itu, wajahnya. Ia diriku. Anak laki laki itu diriku. Apa maksudnya ini semua?

Tiba tiba aku berada di sebuah kamar tidur yang penuh dengan mainan khas anak laki laki. Aku melihat diriku sewaktu kecil terbaring di kasur sambil mendengarkan dongeng dari Dina, walaupun gadis itu kesusahan mengucapkannya diriku yang di sana sangat menikmatinya. Lalu Dina menyanyikan tembang dolanan khas jawa seperti yang ia lakukan waktu di rumah sakit.

Semakin ke sini aku semakin bingung siapa sebenarnya diriku dan siapa Dina sebenarnya. Apa ini hanya mimpi? Tapi aku sedang terbangun.

Suasana dan tempat tiba tiba berubah. Aku melihat mereka tertidur tapi dengan tiba tiba ada sebuah api yang sudah merembet ke seluruh rumah. Aku berada di dalamnya dan melihat api itu tapi aku tidak merasakan panas apapun. Aku seperti melihat film 3D.  Dina yang menyadari adanya asap langsung bangun dan panik menyelamatkan diriku yang di sana.

"I..yan angun.. Ke..a..a..ann..(Iyan bangung. Kebakaran)" ujarnya setengah berjerit. Iyan kecil tidak bangun juga akhirnya Dina menggendongnya dan berusaha menyelamatkan mereka. Tapi telat api sudah menjalar ke seluruh ruangan. Iyan kecil terbangun dan langsung menangis kaget.

"Mbak, Iyan takut.."ujarnya menangis. Dina hanya tersenyum menenangkan. Aku menangis melihat mereka. Dina yang ada di hadapanku berbeda dari Dina yang kulihat kemarin.

"I..yan.. Angan..a.kut.. Mba..aka..lan...in..u..ngin a..mu i..et.. Mba..e..lalu a..yang a..mu.( iya jangan takut mbak bakalan ngelindungin kamu. Inget mbak selalu sayang kamu.)" ujarnya sambil tersenyum.

Brak.. Tiang atap rumah yang terbuat dari kayu mulai berjatuhan. Salah satu kayu itu menimpa kaki Dina. Iyan kecilpun semakin pecah tangisannya. Aku ikut mengangis karena aku tak bisa berbuat apa apa, sekali lagi aku hanya bisa menonton adegan menyedihkan itu.

Tak beberapa lama datang seorang petugas pemadam. Dan memberikan masker kepada keduanya seraya berkata.

"Maaf saya hanya bisa menolong salah satu dari kalian. Tapi tenang saya akan memanggil petugas lainnya." ujar sang petugas.

" a..wa a..dik a..ya pak.(bawa adik saya pak.)". Ujar Dina cepat. Iyan kecil masih bisa menangi dan tidak mau lepas dari pelukan Dina.

"I..yan i..ut ba..pak i..u ya mba a..nti u..sul( iyan ikut bapak itu ya nanti nyusul)" iyan kecilpun menurut. Dina mengecup dahi Iyan sayang dan mngucapkan 'i love u' dengan gerakan bibir. Aku menangis melihatnya.

Aku tahu gadis itu sudah kehabisan napas dan luka kakinya semakin parah. Aku menjerit miris saat lagi sebuah kayu meniban tubuh gadis itu.

"Mbaa ayang I..yan mbaa in..ta I..yan ( mbak sayang iyan, mbak cinta iyan.)" ujarnya berulang. Aku menangis dan tubuhku luruh ke lantai. Tubuhku lemas saat melihat gadis itu menyerah akan hidupnya. Aku merasakan ia menyatakan sayang dan cinta untukku.

"Iya juga sayang mbak.. Maafin Iyan mbak.." ujarku tiba tiba. Aku merasa Dina adalah kakakku.

Aku menangis. Aku ingat dia kakakku. Selama ini aku memimpikan kejadian kebakaran itu dan Mbak Dina tapi aku tak pernah jelas melihat siapa gadis yang bersamaku saat itu. Aku melupakan seseorang yang telah mencintai dan menyayangiku. Dan kemarin aku telah membentak bahkan menyebutnya gadis gila. Sunggu bodoh kau Iyan. Aku menagis mengingat itu semua.

"Iyan." panggil seseorang di depanku. Aku pun memdongak. Dina, gadis itu tersenyum menatapku yang berlutut di hadapannya.

Ia ikut berlutut dan memelukku. Aku membalas pelukannya. Ini pelukan yang sudah lama tidak aku rasakan. Aku laki laki lemah yang menangis dihadapannya. Ia mengecup puncak kepalaku.

"Mbak Dina sayang Iyan" ujarnya lancar.

"Iyan juga sayang mbak.. Maafin Iyan mbak." pintaku.

"Lupakan kenangan pahit ini. Di depan sana ada keluarga yang menyayangimu. Inget apa yang udah mbak ajarin ke kamu. Hiduplah dengan damai mbak juga akan hidup damai di dunia mbak. Jangan sia siakan orang yang telah menyayangimu." ujarnya saat masih memelukku. Aku merasakan diriku seperti anak kecil. Aku mengangguk mengiyakan permintaannya. Dia sekali lagi mengecup dahiku dan melepaskan pelukannya.

"Sekarang kembalilah. Bangun dan tunjukkan pada mbak kalo kamu dapat hidup bahagia." ujarnya. Lalu ia berdiri dan aku ikut berdiri.

"Iyan" panggil seseorang di belakangku. Aku melihat ibu ayah, dan kakakku.

"Kembalilah Iyan. Biarkan kenangan Iyan kecil pergi bersamaku." ujar Dina yang di sebelahnya ada diriku sewaktu kecil. Aku mengangguk yakin dan berjanji dalam hati untuk membuatnya melihatku  bahagia dari dunia ini. Aku semakin yakin kalo ini buknnlah duniaku. Ini dunia alam bawah sadrku. aku tak tau bagaimana ini bisa terjadi.

Seperti perintah Mbak Dina aku mengejar keluarga baruku dan meninggalkan orang yang dulu sangat mencintai ku. Aku terus berlari kedepan dan sesekali melihat ke belakang melihat kilasan masa laluku bersama Mbak Dina. Walaupun hidupnya penuh derita oleh kekejaman papa dan mama dulu ia adalah kakakku yang selalu mencintaiku. Semakin aku berlari kedepan kilasan itu semakin menghilang dan buram. Sekarang satu titik cahaya menjadi tujuanku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 12, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

INCEPTIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang