#4 : Their Families

75 22 1
                                        

"Rei, jangan kasih tau anak kita tentang hal ini ya. Hari ini, sepertinya aku tidak bisa bareng kalian dulu, karena ada keperluan penting dengan anak saya yang lain" perempuan itu hanya mengangguk pelan.

"Baiklah mas..hati-hati ya" lalu pria itu mencium dahi istrinya dengan lembut, dan berlalu meninggalkan istrinya dengan kekhawatiran yang mendalam.

*****

Cahaya senja yang berwarna merah berubah menjadi gelap gulita. Matahari pun terbenam, hari mulai malam. Derai angin berhembus pelan, menyapu setiap jalanan dibumi.

Seorang gadis bernama Rosita, ia memandangi langit malam hari yang indah ini dibalkon. Bintang dan bulan menyatukan cahaya malam hari. Dengan ketakjuban yang ia lihat, ia tampak sedang berfikir sesuatu.

Sepertinya ayah dan ibu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa? Rosita memejamkan kedua mata nya sambil menghembuskan nafas nya dalam - dalam.

Tok..tok..tok..

Terdengar suara ketukan dari luar pintu, Rosita tersadar dari aktifitasnya, lalu berkata "masuk aja, ga dikunci bu" ujarnya dari dalam ruangan.

Tak lama kemudian, pintu pun terbuka lebar dan menampakkan seseorang wanita paruh baya dibalik pintu tersebut. "Kamu lagi ngapain sayang?" ujar sang ibu kepada Rosita, yang sedang melamun dibalkon.

Rosita menoleh kearah ibu nya yang sedang berdiri disana, lalu berkata "gapapa kok bu" sang ibu pun hanya ber-oh ria.

"Oh iya bu, ayah kemana lagi sih bu? Kok ayah jarang dirumah" sambung Rosita.

Sang ibu pun terdiam, lalu melamun. Rosita yang melihat hal tersebut, makin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibu dan juga ayahnya. Lantas, ia menanyakan kembali.

"Bu, sebenernya ayah itu kerja atau ada hal lain yang disembunyikan sih?"

"Kok aku jadi heran ayah kerja apa, sampe - sampe gaada waktu sama sekali ke keluarga nya sendiri" sambung gadis itu yang masih menatap kearah langit, sembari mengibaskan rambut nya.

Lalu, sang ibu pun menghampiri anaknya yang sedang dibalkon, ia membuang nafasnya dan menghirupnya kembali. Kemudian ia menjawab "ayah gaada waktu untuk kita karena ayah mau memberikan yang terbaik untuk masa depan kamu Ros. Ia berjuang mencari nafkah untuk kita semua, karena ayah sayang sama kita. Dia gamau kalau anak nya nanti jadi kesusahan karena dia yang tak mau berusaha. Coba kalau ayahmu tidak berusaha seperti ini, mau jadi apa kita diluar sana, apalagi ekonomi jaman sekarang sangat limit sekali" ujar ibu nya, sambil mengelus puncak kepala Rosita dengan lembut.

Rosita menoleh kembali "Tapi bu... Yang sebenernya aku pengenin bukan kaya gini. Aku ga pengen tuh punya banyak harta, rumah mewah, mobil mewah, barang mewah, tapi kalo tanpa kasih sayang orang tua, buat apa? Hidup aku ga lengkap kalo kaya gini bu. Mending, aku ga punya apa-apa tapi hidup aku selalu dilengkapi oleh kehadiran ibu dan juga ayah" ujarnya yang tanpa sadar telah meneteskan bulir - bulir air yang jatuh dari kedua mata nya.

"Aku iri bu sama temen - temen aku, mereka mendapatkan kasih sayang orang tua setiap saat walaupun kehidupan nya lebih kurang daripada kita"

Rosita terus mengungkapkan se-isi hati nya yang terdalam, sembari menangis dimalam yang penuh bintang tersebut.

Sang ibu merasa iba terhadap anak nya yang terus - terusan menguraskan air mata nya. Lalu, ia pun mengusap air mata anak nya yang jatuh tersebut dengan seksama.

"Udah sayang.. Jangan berkata begitu la.." belum selesai ibu nya berkata, Rosita telah memotong pembicaraan nya, dengan hati yang sedang mix.

Mars & VenusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang