"Cklekk" suara pintu terbuka"Hai Lexa"
Mendengar suara itu aku langsung menoleh.
"Cavin? Apa itu kau ?"
Dia mendekat dan langsung memelukku, akupun membalasnya.
"Aku merindukanmu"
"Aku juga" Aku menangis dan memeluknya lebih erat.
"Jangan menangis, aku disini"
"Semua telah berakhir cavin, semua pergi meninggalkanku , aku takut kau juga"
"Semua akan baik-baik saja xa, aku disini bersamamu"
Aku menatapnya lekat, ia tersenyum mencoba meyakinkanku aku mulai ikut tersenyum, dia selalu membuatku merasa lebih baik.
"Bukankah kau terlihat lebih cantik seperti ini Lexa?"
Ia tersenyum menggoda, aku memukul dadanya pelan dan kami tertawa. Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini, aku dapat melupakan bebanku sejenak. Cavin adalah sahabat kecilku, aku menyayanginya seperti kakak ku sendiri.
"Cavin sebenarnya kita dimana ?"
"Kau disini bersamaku" Ia tertawa pelan.
"Aku serius"
"Nanti kau akan tau sendiri , ayo kita keluar dan jangan lagi sedih atau menangis"
Tiba-tiba cavin menarik tanganku keluar, kami berjalan melewati lorong yang cukup panjang dan menuruni beberapa anak tangga menuju sebuah pintu berukuran sedang tapi cukup tinggi. Diluar aku melihat sebuah taman, tidak begitu luas tapi cukup indah, taman ini ditanami bunga tulip warna merah dan putih , beberapa pohon akasia dan ada sebuah bangku panjang berwarna putih, cavin menarikku dan duduk disana.
"Rasanya aku lama tidak keluar" Aku menghirup udara segar dalam-dalam.
"Kau memang mengurung dirimu dikamar selama 3 hari Lexa"
"Bagaimana kau tau?"
"Tentu saja, aku yang membawamu kesini"
"Lalu kenapa baru menemui ku?"
"Kupikir kau butuh waktu sendiri"
"Hmmm, benar juga,oh ya. kau tau semuanya ?"
"Iya"
"Menyedihkan bukan ?" Aku tertunduk , memori itu terngiang di otakku.
"Lexa". Ia menangkup kedua pipiku dan menatapku.
"Dengarkan aku baik-baik, kau tidak seharusnya seperti ini, kau harus bangun, kau tidak boleh jatuh, perjuangkan hidupmu untuk keluargamu, untuk ayah, untuk mom, untuk nenek. Kau harus bangkit ! Lenyapkan dia, lenyapkan orang yang membuat semuanya hancur ! Setelah itu buka hatimu, mulailah hidup baru dan mulailah menerima semuanya."
Ia mencium keningku, aku tertegun mendengar penuturannya, kenapa aku tidak berfikir sperti itu?! Kenapa aku begitu bodoh!
"Terimakasih cavin!" Aku memeluknya,ia membalas pelukanku.
"Kau tau? Aku seperti memeluk kayu"
"Maksudmu?" Aku melepas pelukanku.
"Badanmu kecil, kurus, saat aku memelukmu hanya tulangmu yang terasa"
"Kau saja yang besar dan gendut !"
"Enak saja! Tubuhku itu atletis, sixpack, tinggi, tidak sepertimu kurus, kecil, pendek lagi" ia tertawa mengejek.
"Puas ? Puas membuly ku?!"
"Hahaa.. Okey-okey ehemm, tapi aku serius, kapan terakhir kau makan ?"
"Entah, mungkin 4hari yang lalu"
"Ya tuhan ! Kau tidak makan sejak malam itu sampai sekarang?"
"Ya" jawabku singkat
"Lalu makanan dari pelayan ?"
"Aku tidak menyentuhnya"
"Astaga! Jika kau manusia biasa pasti kau sedang sekarat"
"Kau tau aku bukan manusia biasa?"
"Tentu saja, apa kau tidak sadar kau dimana?"
"Tidak, kau tidak memberi tahu"
"Kita di negri Ren Lexa!"
"Apa ? Benarkah ?"
"Apa kau tidak sadar orang-orang disekitarmu berbeda ? Kau menatap keluar jendela setiap hari dan kau tidak tau?, astaga!"
"Aku menatap keluar, tapi tidak memperhatikan mereka" Ia menepuk jidatnya saat mendengar perkataanku.
"Astaga kau ini- ahh..sudahlah , kita bahas ini besok!" Ia menarikku pergi.
"Mau kemana?"
"Makan, kau tetap harus makan"
Ia membawaku masuk menuju suatu ruangan.
Hai readers? Aku telat lagi ya?? Maf ya..aku janji setelah ujian ku selesai aku ga bkal telat lagi ! Tapi kalian juga harus janji, terus ikuti cerita dan vote,jangan jadi pembaca gelap! Happy read! ^_^

KAMU SEDANG MEMBACA
"A-Mess"
FantasySaat bulan biru datang saat itulah takdir ditentukan,saat daun pertama menguning dan jatuh,saat itulah bayangan hitam muncul dan merenggut kebahagiaan seseorang, mampukah ia melawannya ??. Simak dan baca cerita ini,beserta vote anda!