Matamu mengerjap, kini perlahan mulai terbuka. Kamu hampir lupa kalau sedang sekarat. Masih malam, jelas. kamu tidak mungkin bisa tidur nyenyak dalam kondisi seperti ini.
Rasa sakit kembali menggerayangi tubuhmu. Erangan demi erangan kamu munculkan lewat bibir yang setengahnya sudah hancur, kocar-kacir menyatu dengan tanah. Apapun yang kamu lakukan sekarang, tidak ada gunanya. Semakin kamu melawan, semakin sakit kamu rasakan.
"Ampuni aku, siapapun itu. Kau, gadis yang pernah kujahati, ampunilah aku!" itulah yang ada dalam pikiranmu saat ini. merengek seperti bayi. Tak malukah kamu pada dirimu sendiri yang selalu terlihat sok tinggi dan berwibawa? Padahal pekerjaan yang kau lakukan adalah hal paling hina di muka bumi ini?! Enak saja meminta maaf seperti itu!
"Aku tak akan mengulanginya lagi. kumohon," hatimu terus memohon.
Dalam keadaan hati yang manangis itu, sesosok makhluk muncul di depan matamu. Kamu nampak sangat terkejut melihatnya. Rambut pirangnya terjuntai ke bawah, dia bertudung, anak rambutnya sedikit menutupi mata dengan iris hitam itu.
Tubuhmu sontak bergetar hebat. Ada gejolak di mana kamu ingin sekali berdiri lalu berlutut di hadapannya. Kamu ingat jelas wajah siapa itu. dan kamu tahu dia adalah penyebab semua ini terjadi. Kamu sangat ingin menangis di hadapannya, memelas meminta untuk dimaafkan.
"Hai," sapa gadis itu padamu. Nada suaranya lembut bak seorang putri. "Bagaimana keadaanmu? Kau sakit? Ah tidak, sepertinya memang sudah tidak sakit, kau bakahn tidak bisa merasakan tubuh bagian kananmu lagi. Aku jadi sedih," tutur gadis itu. kata-katanya lembut, tapi senyumannya mematikan. Senyum seringai yang menunjukkan akan kepuasan.
"Mohon satukan hamba dengan laki-laki ini. Buatlah pikiran kami menyatu, perasaan kami menyatu, semua fungsi indera kami juga menyatu."
Kalimat itu kembali teringat olehmu. Jika benar dugaanmu, maka harusnya dia bisa mendengar kata hatimu saat ini. kalian berdua pada dasarnya sudah saling menyatu. "Maafkan aku. Aku minta maaf. Minta maaf. Kumohon ampuni aku," mohonmu dalam hati.
"Kau bahkan tak mengenaliku sama sekali! Masih berani kau meminta maaf padaku, hah?!" bantak gadis itu dengan suara yang keluar melalui rongga mulutnya.
Benar. Dia bisa mendengar kata hatimu! Kalian memang benar-benar menyatu.
Setelah bentakan itu, anak rambut gadis itu semakin jatuh ke bawah, menutupi wajahnya. Dengan tangan kirinya, ia menyibak anak rambut ke belakang telinga. Wajahnya kini terpampang jelas, matanya yang hitam melotot ke arahmu. "Kau jahat! Menjualku demi kepuasan dirimu sendiri, kamu tak pernah mengerti bagaimana perasaanku sesungguhnya." Gadis itu kini mengerjapkan mata, menahan airmata yang akan keluar. Kau pasti melihat matanya, kan? Hanya sebelah kiri yang berkedip dan berkaca-kaca. Sebelah kanan kaku dan tak bergerak.
"A-aku minta maaf, Sheryl," katamu dalam hati.
Apa? Kau mengatakan apa? K-kau baru saja menyebut namaku? Bagaimana bisa?
"Bangsat!"
"Erghhh!!!" kamu mengerang setelah menerima tusukan di perutmu.
"Jadi sekarang kau ingat namaku, ha?"
Perlahan kamu mulai mengangguk. Lewat hatimu kamu mengatakan sesuatu, "Aku meminta maaf padamu, jujur saja, aku memang salah. Maafkan aku, Sheryl."
JANGAN BERCANDA!!!
Berapa kali pun kau meminta maaf padaku, tak akan mudah bagiku memaafkan orang sepertimu. Kau tega mempermainkan hidupku, menjualku layaknya barang yang pantas diperjual-belikan. Kau sangat keji, kau tak tahu betapa tersiksanya aku di sana. Jadi boneka pemuas nafsu, pekerja rodi, aku juga dijadikan bahan taruhan oleh mereka ketika mereka berjudi. Aku seperti boneka atau peliharaan bagi mereka! Kau tak pernah mengerti itu! dan sekarang apa? Setelah aku menjual raga dan jiwaku pada Iblis hanya untuk balas dendam. Kau pikir aku akan memaafkanmu dengan mudah? Hahaha, tunggu sampai bedebah sepertimu merasakan rasa sakit yang lebih dari yang aku rasakan!
"Hahaha," tawaku melengking membelah sunyinya malam. "Kalau kau mati, baru akan aku maafkan!"
Aku bersiul, memanggil sebuah boneka yang kuciptakan dari bayangan burung elang Iblis Kematian. Sesosok wanita yang sangat kau kenali mendekat, berjalan tertatih-tatih. Setiap kali kakinya menapak ke tanah, jejak darah merah membekas di sana. Rongga mulutnya yang robek terbuka, muncul sesuatu berwarna hitam dari dalam mulutnya: kepala burung elang dengan matanya yang tajam. "Kau akan merasakan sakitnya, sebentar lagi." aku mnyeringai.
"Kau akan merasakannya. Kupastikan itu!" Burung elang tadi sudah keluar, mengepak sayapnya, terbang ke arah tangan kiriku. Dan berubah menjadi sebilah pisau besar. "Aku ingin ucapkan satu hal sebelum kau marasakan siksaan dariku. Kau tahu, dunia ini aku yang membuatnya. Aku yang berkuasa, dan, kalau kau berpikir aku tidak bisa menggerakkan tangan kananku karena merasakan sakit yang sama seperti dirimu. Kau salah! Lihat ini." aku mengangkat tinggi tangan kananku ke atas, memindah pisau besar dari tangan kiri ke tangan kanan. Setelah terangkat cukup tinggi, aku mengayunkannya ke bawah, tepat ke arah dadamu.
"Errghhhh... erghh... egghhrr... eghhrr..."
"Apa yang mau kau katakan sih? Aku tidak mengerti!" Aku mencabut pisau ini dari dadamu yang telah dilumuri darah, lalu aku mengoyak isi perutmu dengan pisau ini, lagi. kutusukkan berkali-kali ke perutmu. Hingga lukanya menganga lebar, aku sekarang bisa melhat bagian di dalam sana seperti kubangan lumpur berwarna merah. Sangat kental. Sangat merah. Aku terawa puas setelah mengetahuinya. Seiring nafasmu yang naik-turun, sesuatu dalam kubangan itu menggeliat. Hahaha. Sangat menarik!
"Oh, iya. Aku sangat ingin melihat cincin yang tadinya mau kau berikan padanya." Tunjukku ke boneka gadis itu. "Keluarkan cincin itu!" Kemudian gadis itu menjulurkan lidahnya. Di sana ada cincin itu.
"Cium dia. Jatuhkan cincin itu ke mulutnya!" perintahku lagi. Boneka gadis itu mendekatimu, lalu menundukkan kepala dan menciummu. Tapi terhenti karena mulutmu tak cukup lebar untuk memasukkan cincin itu ke dalamnya. "Sialan. Mulutmu hanya separuhnya yang masih tersisa, terlalu sempit untuk memasukan cincin itu jadinya. Hmmm...."
Aku berpikir. "Robek saja mulutnya!" Boneka gadis itu menurut. Dia menjulurkan jari telunjuknya, kuku hitam tidak terlalu panjang miliknya kemudian berubah menjadi kuku panjang yang sangaatttt tajam. Kulihat, matamu meliriknya, seluruh otot rahang dan tubuhmu menegang kuat ketika kuku itu masuk ke mulut, lalu mengiris perlahan-lahan ujung bibirmu.
"Errhhhh," erangmu. "Hentikan, kumohon hentikan! Maafkan aku, Sheryl!" Imbuhmu dalam hati.
"TIDAK AKAN!" Bentakku. Saat sudah cukup lebar. Boneka gadis itu langsung menciummu, seraya memasukkan cincin dimulutnya ke sana. "Wah, enak sekali ya, dicium oleh gadis cantik ini," sindirku padamu.
Gadis itu selesai menciummu dan memasukkan cincin ke dalam mulutmu. Aku langsung memukul dadamu yang berdarah dengan keras. Sampai tak sengaja kau meneguk saliva beserta cincin itu masuk ke dalam kerongkonganmu. "Yeay," teriakku girang.
"Permainan kita mulai!" Dengan nada nyaring, aku berteriak. Sejurus kemudian, mengikuti aturan permainan yang kubuat sendiri. Aku harus menutup mata. Oke, aku menutup mata sambil memasukkan tangan melalui perutmu yang menganga itu. Taruhan, aku bisa menemukan cincin itu dengan cepat atau tidak di dalam tubuhmu? Pasti aku bisa sangat cepat.
Setelah kumasukkan tanganku, kurasakan ada pergerakan detak-detak menggelitik kulit tanganku. Susah sekali menemukan cincin itu jika seperti ini. Semakin susah lagi, karena kamu terus mengerang tidak jelas. Kau tahu, eranganmu berisik dan mengengguku.
Masih dengan menutup mata. "Jahit mulutnya, cepat."dan yang kudengar berikutnya hanyalah suara erangan yang tertahan. Ah, boneka ku pasti sedang menjahit mulutmu sekarang.
karena masih belum ketemu juga, aku terpaksa mengobok-obok isi dada dan perutmu. Kamu mengerang sangat kuat, kurasakan lagi jantungmu yang makin benderam, dan otot-otot di sekujur tubuhmu mengejang. Dan... ah, aku dapat.
Aku menarik tanganku keluar dari tubuhmu seperti menarik pancingan ikan. Begitu cepat, sampai-sampai ada beberapa organ tubuhmu yang membuyar keluar. "Yeay... aku dapat cincinnya!"
END.
Oke, entah kenapa aku menulis seperti ini. Hanya ada adegan seperti ini untuk endingnya. Dan maapkan aku telah mengecewakan kalian yang sudah mau baca.
Masih banyak plothole dan ya, aku tidak mampu merevisinya. Maapkan aku, sekali lagi. Terima kasih yang sudah mampir.

KAMU SEDANG MEMBACA
Black Bird (End)
RandomMungkin terlalu aku mencintaimu, aku jadi mudah tertipu.