New Story

20 0 0
                                    

Ca lu pacaran ya sama Adi?

------------------------------------------

Setelah 3 bulan pertama di sekolah aku berpacaran dengan kakak kelas XII bernama Ary. Namun masa pacaran kami singkat, hanya sekitar 3 bulan saja. Awal-awal kami putus, yang kulakukan hanya melamun di sekolah. Hingga akhirnya Adi, teman Ary, mulai menghiburku. Dia selalu ada untukku dan membantuku. Apapun yang aku minta, dia selalu penuhi. Apapun yang aku suka dan tidak suka, ia selalu ingat. Di dekatnya membuatku merasa seperti seorang putri.

Setiap hari kami selalu berkirim pesan, bahkan ia sampai membelikan ku hp cdma agar ia mudah menghubungiku. Hanya untuk sekedar berbagi cerita dan bercanda. Kami saling bercerita banyak hal bahkan aku tak sungkan bercerita siapa saja yang dekat denganku dan minta pendapatnya. Ia pun demikian terhadapku. Tapi setelah beberapa bulan sikapnya berubah setiap aku bercerita ada yang dekat denganku. Dan aku menyadari bahwa dia memiliki 'perasaan khusus' padaku.

Tapi sialnya, perasaan ku padanya hanya sebatas sahabat. Hanya sebatas adik kepada kakaknya. Betapa baiknya pun ia kepadaku, tapi perasaan ku padanya tetap tak berubah. Karena sejak awal, aku menganggap kehadirannya sebagai teman. Teman dari mantan kekaksihku. Hingga akhirnya perasaan itu terpaku di dinding hatiku dan tak berubah meski begitu keras usahanya.

Oke, balik lagi ke sms Alvin tadi. Akupun langsung membalas sms nya,

Hahahahahaha, emang keliatannya Kayak begitu ya ?, send.

Tak lama kemudian masuk lagi balasannya,

Hmm, udah jawab aja.

Dingin banget sih ini orang pikirku, ga ada basa-basi sama sekali.

Enggak kok. Cuma sahabat aja. Emang kenapa ?, ketik ku pada keypad hp sambil senyum-senyum sendiri.

Zzz, sms masuk. Oh gitu, syukur deh. Lo lagi apa ca ?.

Sejak malam itu, hari-hariku berubah seperti lagu yang sedang melantun di earphoneku.

~Semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya. Semenjak kau ada disini, tak ingin melupakanmu.

---------------------------------------------------------

Pagi ini aku bangun dengan perasaan bahagia. Entah kenapa aku senang dengan kejadian tadi malam ketika aku dan Alvin berkirim pesan. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, aku langsung mengambil air wudhu dan sholat subuh. Setelah itu aku langsung mandi dan bersiap-siap sekolah. Hari ini aku lebih dulu mandi dibanding Anton, adik lelaki ku yang baru duduk di kelas enam SD. Biasanya setiap pagi kami selalu berebut kamar mandi meskipun pada akhirnya ia yang harus mengalah karena aku selalu mengancamnya untuk tidak mengantarnya ke sekeloh. Akhirnya ia hanya cemberut dan menurut pada kakak cantiknya ini.

Setelah mandi dan sarapan segelas susu hangat yang selalu mama siapkan untuk kami, aku pun berangkat dengan mengantarkan adikku terlebih dahulu. Sesampainya aku di sekolah, aku memarkirkan motor tak jauh dari pintu gerbang. Ketika aku turun dari motor tiba-tiba ada sebuah motor berhenti tepat di depanku dan hampir saja aku menabraknya. Baru aku mau memarahinya karena tidak hati-hati, tetapi mulutku langsung terdiam ketika lelaki itu membuka helmnya dan berbalik ke arahku tanpa ekspresi. Itu Alvin. Dia melewatiku begitu saja tanpa tersenyum bahkan menyapa. Aneh.

Aku pun tak tau bagaimana ekspresiku saat itu. Antara malu untuk menegur dan kebingungan melihatnya tak menghiraukan aku yang persis di depannya. Bukankah tadi malam ia mengirimiku pesan mengajak aku berkenalan? Aku pun berjalan ke kelas dengan perasaan bingung dan penuh tanda tanya sambil terus memperhtikan Alvin yang berjalan menuju kelasnya di lantai 3.

Di kelas sudah ada Intan dan Julia. Sedangkan Nisa pasti sedang sarapan di kantin dan Feti, pastilah ia terlambat lagi hari ini. Menurutnya bangun pagi itu adalah hal tersulit yang ia lakukan seumur hidupnya. Aku langsung menaruh tas di kursi lalu menghampiri Intan dan Julia. Aku langsung bercerita pada mereka apa yang terjadi kemarin siang sampai tadi malam saat Alvin mengirimiku pesan.

"Lo yakin itu Alvin ?", Intan langsung bertanya setelah aku menyelesaikan ceritaku.

"Maksud lo ?" Ya jelaslah itu Alvin. Dia berdiri tepat 2 meter di depan gw tan."

"Bukan itu maksud gw, lo yakin ga kalo yang sms lo tadi malam adalah Alvin ? Bisa aja kan itu hanya orang yang ngaku-ngaku sebagai Alvin", jelas intan panjang lebar.

Aku pun terdiam mendengar asumsi Intan.

"Bisa jadi sih, lo inget ga temennya yang namanya Arya ? Dia kan pernah negor lo pas di kantin dan senyum-senyum sendiri gitu. Sedangkan Alvin cuma diem aja", Julia pun menambahkan dengan antusiasnya.

Aku pun semakin ragu bahwa yang tadi malam mengirimiku pesan adalah Alvin. Apa benar itu bukan Alvin ? Atau jangan-jangan itu Arya yang sengaja memakai nama Alvin ? Bagaimana kalau itu beneran Arya ? Cowok yang sengak dan merasa paling ganteng satu sekolah. Euuhhh, semoga bukan.

----------------------------------------------------------

Sepulang sekolah aku dan anak-anak pasti nongkrong dulu di kantin. Aku melihat kak Adi sedang menuju ke arahku dan langsung bergabung dengan kami.

"hari ini ekskul de?", tanyanya sembari mengelap keringatnya sehabis bermain futsal.

"Lo bau banget si ka, sono duduknya jauhan ih", ucapku sambil menutup hidung tanpa menjawab pertanyaannya dan bergeser.

Tapi Adi dengan sengaja justru semakinn mendekat kepadaku dan melemparkan handuk yang ia gunakan tadi ke arahku. Sontak aku langsung berteriak dan berdiri namun aku kehilangan keseimbangan sehingga malah terjatuh menimpa Adi. Dia pun pura-pura meringis sambil memegangi badanku yang menimpanya.

"Ughhh kena keringat lo yang asem ka. Bau dehh gue. Uekkkk"

"Yaelah de, bilang aja lo emang pengen gue peluk. Sini sini gue seneng kok", ucapnya sambil tertawa menggodaku. Yang lain pun ikut tertawa melihat kejadian tersebut.

"Gak lucu! Bau asem, bau matahari, ughh", ucapku kesal sembari mengelap bekas-bekas keringatnya yang menempel padaku tadi.

Tanpa aku sadari ada Alvin, Arya dan teman-temannya yang lain sedang menuju ke arah kantin dan melihat kejadian tadi. Aku pun beradu pandang dengan Alvin. Dan lagi-lagi ia menatapku tanpa ekspresi. Justru malah Arya yang bertingkah caper. Oh God, jangan sampai apa yang intan katakan benar bahwa yang mengirimiku pesan seolah-olah sedang PDKT denganku adalah Arya.

"Hoy de!", adi setengah berteriak padaku sambil menarik tanganku yang membuatku mengalihkan pandangan dari Alvin.

"iya apaan ?"

"Lo ekskul apa nggak hari ini?", tanyanya lagi sambil mengoyang-goyangkan tanganku yang ia pegang.

Sontak aku langsung melepaskanya dan menjawab, "enggak kok. Emang kenapa?"

"nonton yuk, lo pulang sekarang dan ntar gw jemput. Gw juga mau balik dulu, mau mandi. Atau lo mau langsung jalan aja ?"

"Ogah, lu bau banget. Sono pulang. Jemput gw jam 4 ya."

"oke siap princess!" dan ia berlalu di hadapanku.

Disudut sebelah sana, Alvin masih memperhatikanku tanpa ekspresi.

---------------------------------------------------------

PROMISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang