Happy reading!
.
.
.
."Entah karena apa. Terkadang semua itu membingungkan. Dengan melihatmu saja semua masalah seakan sedikit terlupakan dengan sendirinya."
●●●
Matahari mulai memancarkan sinarnya. Burung-burung kecil berkicau dengan lucunya. Pagi yang sangat cerah.
Gadis kecil itu masih saja bergelayut manja di atas kasurnya. Tak ada niatan dirinya untuk terlepas dari kasur empuk miliknya.
Kriiinggg!
Sudah ketiga kalinya jam wekernya kembali berbunyi. Kali ini jam itu berhasil membangunkan gadis yang terus saja bergerak ke sana ke sini mencari tempat yang nyaman untuk ia tidur.
Ia mengucek matanya perlahan. Lalu bangkit berdiri dan menuju kearah cermin di sudut kamarnya. Matanya, seakan menyiratkan bahwa ia baru saja menangis semalaman. Ia menghela nafasnya lalu dengan langkah pelan mengambil handuk miliknya dan pergi ke arah kamar mandi.
Tak sampai waktu 1 jam untuk dirinya membereskan semuanya. Ia mengambil tas biru laut miliknya.
Ia mengamati sekali lagi pakaian seragam yang ia gunakan. Dengan baju putih dan dasi bermotif kotak-kotak dan juga rok sepanjang lutut. Rambutnya ia ikat membentuk pony tail. Perfect! Sekarang ia siap untuk pergi.
Langkahnya terhenti saat berada di dua anak tangga terakhir. Ia melihat hanya sesosok wanita cantik sedang menyiapkan sarapan. Dimana ayahnya?
"Ma?" Panggilnya pelan. Wanita yang merasa dirinya terpanggil segera mengalihkan pandangannya ari aktivitas nya. Ia tersenyum tipis. Asya tau senyum itu tak menggambarkan kecerahan sama sekali.
"Iya Sya? Oh iya, duduk sini sarapan sama mama," Asya mengangguk lalu duduk di salah satu kursi meja makan.
"Papa mana?" Vira -Mama Asya- membeku. Ia terhenti dari aktivitasnya yang mengoleskan selai coklat ke atas roti miliknya.
Mencoba untuk bersikap biasa di depan anaknya. Ia kembali tersenyum meskipun dirinya kini bagai tersayat -sayat. Saat mengetahui suaminya itu pergi saja ke kantor tanpa pamit dan sarapan bersamanya.
"Papa udah pergi," Asya menghela nafas nya panjang saat mama nya itu izin untuk kebelakang sebentar. Dengan alasan ingin membuat segelas susu untuk dirinya.
Kenapa ini semua harus terjadi di kehidupannya? Asya bahkan ingin mengulang waktu kalau ia bisa. Ia ingin mengulangnya disaat ia masih dapat tertawa di ruang keluarga. Mendengar canda tawa kedua orang tuanya dan lain-lain sebagainya.
Ia menghentikan aktivitas makannya saat Vira kembali dari arah dapur menuju ruang makan. Meletakkan segelas susu putih di dekat Asya. Hanya setengah dari gelas tersebut yang Asya minum dan setelah nya ia pamit begitu saja.
Vira menghela nafasnya. Setetes kristal bening meluncur lagi dan lagi dari mata wanita itu. Ia hanya bisa menangis dalam diam di rumah nya.
•••
Asya berjalan di koridor dengan langkah gontai. Bagai di hantui kemana-mana pikiran Asya kini tidak fokus karna beberapa masalah yang ia pikirkan. Ayahnya pasti tidak pergi begitu saja. Ayahnya pasti semalam melarikan diri entah Asya tak tau kemana. Dan mamanya? Jangan tanya dari kamarnya saja ia masih bisa mendengar beberapa barang yang dilempar sana sini. Miris sekai hidup keluarga nya saat ini. Dimana semua orang dapat tertawa bersama keluarganya dan berkumpul layaknya keluarga harmonis. Tetapi, tidak untuk dirinya dan keluarganya. Tak ada damai dan selalu sunyi di rumahnya. Tanpa ada senda gurau.

KAMU SEDANG MEMBACA
Stay With Me
Teen FictionPernah ngerasain jatuh cinta? Pernah ngerasa capeknya berjuang? Pernah rasain berjuang sendiri? dengan cara apapun? Pernah berharap seseorang tetap bersamamu? pernah? Asya,gadis yang selalu ceria harus merasakan sakitnya berjuang sendirian ia ingin...