Rifqi : "Astaga! Pergilah Dara!"

56 6 1
                                    

Priiittttt.....

"Yang fokus dong Rif!"

"Kalau dihadang, oper dong!"

"Gafokus ya hari ini?"

"Kenapa sih Rif? Masalahmu buang dulu deh!"

Meski mereka semua berkata sembari menepuk bahuku tanda penyemangat, tetap saja yang aku dengar adalah keluhan.

Dan sumber datangnya keluhan ini adalah DARA!

Kenapa bisa Dara?

Karena, sedari tadi dia nongkrong difikiranku, menyebalkan bukan?

Ini semua karena pose sok imutnya tadi, dan dagdigdug kurang ajar itu!

"Rif, kamu kalau nggak fit, ganti aja ya? Masalahnya kamu dari tadi bikin salah terus!" Pak Karim menepuk bahuku, aku hanya bisa mengangguk.

"Oke deh, Rud kamu gantikan Rifqi." Rudi yang sedari tadi menonton dibangku cadangan hanya mengangguk, sesekali tersenyum lebar, girang.

Ah sialan! aku akhirnya melepas moment yang aku tunggu - tunggu ini karena Dara, dan pose kurang ajar itu. Sial!

....

Babak kedua selesai dengan 4 point tambahan untuk sekolahku. Membuat tim futsal sekolahku keluar sebagai pemenang. Tanpa aku!!

Tiba - tiba Yuda mendekatiku, raut wajahnya terlihat senang, tapi dia memaksa untuk tidak menampakkannya di depanku. Dia mungkin tak tau masalahku, tapi dia tau aku butuh hiburan, tentang ke tidak ikut sertaanku kali ini.

"Kenapa bisa gak fokus sih Rif?" Setengah mengeluh, dia memandangku, lalu meneguk air mineral yang sedari tadi dibawanya.

"Aku juga nggak tau. Tiba - tiba aku aneh, Yud"

Yuda nampak bingung atas jawabanku, raut wajahnya menginginkan aku untuk menjelasan tentang jawabanku tersebut. Tapi aku yang enggan bercerita hanya tersenyum kecut tanpa memandangnya balik, pandanganku ku fokuskan ke lapangan.

"Sepertinya, kamu harus mulai menyerah membatasi dirimu dengan wanita" Yuda menyeringai, lalu ikut menatap lapangan.

Sontak aku menatapnya, apakah dia tau masalahku? Batinku.

"Aku dulu teman sebangkumu, jangan kira aku orang lain dong!" Jawabnya, sembari menatapku lagi, lalu menonjok lenganku pelan.

Aku memalingkan pandanganku, kembali ke objek yang sedari tadi kujadikan tempat pelarian dari pandangan Yuda. Yudapun juga melakukan hal yang sama, bedanya dia menunjukkan raut kemenangan, karena berhasil menebak isi hatiku.

Lalu, Yuda bangkit dari tempat duduknya, membereskan semua barangnya termasuk memasukan air mineral dan handuk yang sedang nangkring di lehernya. Lalu dia menatapku, "Muka mu nggak enak dipandang, Rif." Ujarnya lalu pergi setelah tertawa begitu keras hingga mengundang banyak mata ke arahku.

Kulempar botol minumku yang sedari tadi sudah habis ke kepalanya, strike! dia menoleh ke arahku sembari memegangi kepalanya dan mengaduh, membuatnya kehilangan tawanya.

"Kenapa tega sekali?!" Teriaknya tak seberapa jauh, aku hanya mengendikan bahu.

"Ahhhsss!!! Sialan!!" Umpat Yuda. Aku hanya tertawa sedang Yuda tetap melanjutkan jalannya tanpa menurunkan tangan dari kepalanya yang sakit.

....

Wajahku kini tampak lelah. Tidak karena mencetak gol seperti biasanya, tapi karena memandang para pencetak gol di bangku cadangan. Ah! mengingatnya seperti menyayat diri sendiri!

Setelah mandi, kuputuskan untuk segera tidur. Aku lelah sekali! Dan aku rindu kasur ku!

Aku pun berbaring diatas tempat tidurku, mataku tidak langsung tertutup seperti biasanya, pandanganku terus terarah pada plafon berwarna putih di depanku. Lalu sekelibat bayangan Dara mampir lagi ke dalam fikiranku.


"maaf"

Aahhhh!!!! Apakah ini serius? Sedari tadi potongan kejadian Dara minta maaf dengan rambut yang di selipkan ke telinga terus ditayangkan di kepalaku. Ada apa sih? Bahkan kepalaku sendiri sekarang tak bisa ku kendalikan?

"Sialan!" umpatku, "Apa ini hari tersialku?"

Akhirnya kuputuskan bangkit dari tempat tidurku, tempat yang sedari tadi kurindu - rindu.

Tidur ternyata tidak membantu!

"Aku akan mencari udara segar saja."

Dan, berangkatlah aku ke sebuah tempat ngopi di pusat kota.

Sampailah aku di bangunan rumah jawa kuno. Inilah tempat ngopi andalanku untuk menghilangkan jengah. Tempat ngopi yang kelewat nyaman sehingga aku dan teman - teman sering menganggapnya rumah kedua.

Ku dudukkan pantat mungilku ke salah satu tempat duduk favorit ku. Lalu memesan satu gelas kopi jawa.

Setelah kopi jawa pesananku datang, aku segera menyesap kopiku ini. Jariku yang tidak sibuk, aku buat bergerak mengetik beberapa pesan agar teman - temanku menemaniku nimbrung disini, minum kopi sendiri tidaklah cukup menghilangkan Dara dari fikiranku.

Malah parahnya, Dara hadir dalam wujud asli, tepat didepanku..

__________________________________________________________

Ah, susah sekali menjadi Rifqi. Aku ingin membuat dia maskulin, didepan kalian. Aku berharap aku benar dengan keputusanku.

Dihadang inspirasi yang hilang, aku berharap part ini cukup dengan sedikitnya ide yang aku dapat.

Aku sangat butuh komentar dan kritik kalian.

Hai. Terima kasih masih tetap membaca

Kartu PelangiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang