Aku sudah lelah menghindar.
Itulah alasanku bertemu dengan Dara kemarin lusa, memberi taunya semua tentangku, bahkan menangis dipelukannya. Untuk option terakhir, aku tau aku sangat bodoh. Ah! Egoku terluka untuk beberapa hari karena itu! Aku bahkan tidak pernah melupakannya barang satu detik!
Tapi Dara lupa.
Dia bahkan tidak mengungkitku tentang itu. Tersenyum mengejek saja tidak. Apa dia hanya bersandiwara?
Oh, ayolah bung! Seorang pria menangis dipelukanmu, bahkan pria itu belum lama kau kenal? Itu hal terabsurd yang pernah aku tau. Tapi Dara menganggapnya seperti biasa saja. Aku akan gila bila terus menerus menghadapi sikap Dara.
"Ra.." Panggilku saat pelajaran pertama sudah selesai, dia hanya berdeham menjawabnya.
"Apa kau tidak berniat menggodaku tentang kejadian lusa?" Tanyaku, dan aku tersadar bahwa sesungguhnya aku bodoh sekali. Dia memandangku sejenak, tidak lantas menanggapi pertanyaanku itu.
"Haruskah?" Tanyanya kembali, mata bulatnya menatapku lekat. Tidak ada tanda - tanda dia menuduhku bodoh dari wajahnya, tapi aku sadar dia sudah melakukan itu di dalam hatinya. Matanya yang tajam itu dihiasi bulu mata nan lentik dan alis tebal yang indah. Irisnya berwarna coklat indah dan dikelilingi warna putih bak susu yang bening.
Aku memalingkan pandanganku atasnya. Ah, mata itu kenapa cantik sekali.
"Apa nggak aneh kalau ada cowok yang nangis di dekatmu?"
"Nggak, mereka punya hak yang sama untuk itu,kok." Aku tertegun mendengar jawabannya.
"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Dara
Aku terdiam sekarang, aku juga nggak tau kenapa aku bertanya. Ah sial sekali! Kenapa aku selalu terlihat bodoh di depan Dara?
...
A
ku berjalan terus tanpa menghiraukan apapun, semenjak kak Hani pergi aku bahkan tidak benar benar mengerti hati seorang wanita, mama jatuh sakit karena terlalu terkejut atas perginya kak Hani secara tiba-tiba. Lalu aku menyadari orang yang aku sayang selanjutnya tidaklah seperti apa yang aku ingin sayangi. Wanita selalu saja naif dan bodoh!
"Rifqi tunggu! plis dengerin aku, aku sayang sama kamu, itu kenapa aku bertingkah seperti itu" teriaknya, yang sedari tadi mengikutiku, terus saja berteriak tanpa malu, walau pun aku tau dilorong ini hanya ada aku dan dia.
Aku sungguh marah, kesungguhanku membuatku memberhentikan langkahku, tetapi tak menoleh kearahnya. "Dengan cara seperti itu? memalukan!"
"Itu adalah cara satu satunya!"
"Tidak ada cara yang lebih baik?" tanyaku, kali ini aku menoleh ke arahnya. Wanita ini terus saja menangis, wajahnya merah dan air matanya selalu muncul di matanya
"Dengan membuat dia ketakutan? Apa kau tau? Kakakku mati bunuh diri karena seseorang wanita sepertimu! Menjambak, menjegal, melabrak! Apa kau benar benar wanita, San? Aku salah mengira kau wanita!"
Langkahku semakin mantap meninggalkan wanita itu. Sandra. Dia menangis di lorong sekolah. Sendirian.
...
"Aku benar, kamu beda Ra." Ucapku tanpa sadar. Lalu, buru - buru kutatap Dara, ingin tau bagaimana reaksinya. Ah sungguh! Apa aku benar - benar bodoh!!!!
Dara terdiam, sesekali matanya menatap ke arah lain, menghindar dari tatapanku. Terlihat jelas bahwa Dara sangat bingung, dan takut. Aku tidak tau kenapa dia terlihat takut, apa ada yang menakutkan atas apa yang aku ucapkan tadi?"Assalamualaikum.." Bu Sari, guru Ekonomi memasuki kelas, tanda kelas berikutnya akan dimulai.
...
Sedari tadi Dara hanya diam, semakin aku memperhatikannya semakin dia gelisah. Selama pelajaran berlangsung pun dia hanya menunduk memandangi bukunya, sesekali dia memandang bu Sari, mencoba memperhatikan apa yang beliau sampaikan, tapi aku tau dia sedang melamun.
"Ra?" bisikku, dia hanya meliriku sejenak tanpa menjawab panggilanku. Lalu, aku melihat tangannya bergerak ke arah buku dan menulis beberapa kata.
Aku lagi fokus belajar, Rif.
Lalu, aku meniru caranya dengan mencoret bukuku, menulis sebuah kalimat.
Kamu nggak papa kan?
Dia melirik bukuku dan menulis sesuatu di bukunya.
Ya. Sekarang diamlah!
Aku mendelik. Sialan. Sedari tadi aku menghawatirkannya, dia malah nyuruh aku buat diam. Ah dasar!
Tentang tadi jangan GR ya, aku cuman bilang kamu beda aja dari wanita lain, bukan berarti aku suka!
Tulisku lagi. Dara yang membacanya hanya mengacungkan jempol tanda dia juga mengetahui hal itu, tapi wajahnya terlihat lega. Sekarang Dara benar - benar lega sampai dia menghembuskan nafas panjang, lalu kembali memperhatikan bu Sari dengan tersenyum. Apa aku sebegitu buruk sampai dia senang saat aku tidak menyukainya? Oh astaga!
___________________________________________________
Yosh! Aku masih berjuang! Terimakasih untuk yang masih setia membaca!
lv❤

KAMU SEDANG MEMBACA
Kartu Pelangi
Teen FictionDara Praharja, remaja yang harus berpindah - pindah sekolah karena ayahnya yang harus berpindah tempat tugas. Andrian Rifqi, remaja yang tidak menyukai wanita dan sifat yang mereka miliki, bukan membenci wanita, dia hanya enggan untuk berhubungan de...