Perubahan

2.3K 128 1
                                    

Ternyata hari ini bakal jadi hari yang panjaang buat gue.
Dira, bocah delapan tahun itu bener-bener gak mau belajar.
dia malah asik main sama mainan robot dan ultraman miliknya.

"Diraa, belajar dulu yuk!" Bujuk gue.
"Nggak mauu.. males. lebih asik main!" Dira cuma menoleh sekilas lalu kembali asik sama mainanya.
"Nanti kalo mau belajar, kakak kasih cokelat deh ya?" Belom habis bujukan gue.
"Nggakk.. baru kemarin kak David beliin Dira Tomblerone yang gede!"
Dira beranjak dari duduknya lalu berlari keliling ruangan sambil mengacungkan mainanya ke udara seolah mereka bisa terbang.
"Ngueeeng... Ultraman melaju mengejar sang robot jahat! Duaar!" Dira ngoceh sendiri dengan imajinasi khas anak-anak sementara gue di cuekin.

Gue masih muter otak lagi, gimana caranya supaya Dira mau belajar sampai tiba-tiba..

"Kak El, awaaasss!" Teriak Dira.
"Aadaoo!!" Ujar gue meringis.
sebuah potongan lego terlempar memukul kepala gue.
"Hahaha.. serangan ultraman-nya malah nyasar!" Sepertinya Dira seneng banget liat orang kesakitan.

Dira malah cengengesan lalu terdian beberapa detik memandangi topi gue.

"Eh, topi kakak bagus deh buat di jadiin benteng robot Dira!" Tiba-tiba Dira berlari dan mencabut begitu aja topi di kepala gue dan membawanya ke ujung ruangan.

Err..kalo gue punya anak kayak gini, udah gue gantung di tiang jemuran.

Rambut panjang gue yang digulung di topi, sekarang terurai sampai punggung.

"Diraa.. mainya nanti lagi ya. kita belajar sebentarr aja." Ujar gue penuh kesabaran.

tapi Dira bener-bener susah di bujuk.

"Sabar El.. baru juga hari pertama.." Hibur gue dalam hati.

Tiba-tiba David muncul dari lantai atas dengan earphone di telinganya.
sepertinya dia ngeliat kejadian ini, dimana Dira yang lagi asik main tanpa minat belajar.
"Dira.. kok kamu gak belajar sama kak El?" Sapanya.

"Dira lagi males ah. kak David, main sama Dira yuk." Dira menghampiri David lalu menarik ujung kaosnya.

Sejenak sebelah alis mata David terangkat. "Boleh," katanya singkat.
"Tapi Dav, Dira tu mesti belajar!" Protes gue.
David mandang gue sambil mengeryitkan kening.
"Ade gue lagi gak mood.. nanti aja deh belajarnya. yuk Dir, ke halaman."
"Eh, gue diminta kesini sama nyokap lo buat ngajarin Dira. sebagai kakak lo dukung ade lo, bukan malah nemenin main!" Gue menatap cowok di hadapan gue dengan kesal.
David diem aja lalu menunduk hingga kepalanya sejajar dengan Dira.
"Dira tau gak, bahasa inggrisnya kucing?"
"Cat." Jawab Dira polos.
"Good. kalo anjing?"
"Dog, kak."
"Tuh kan, ade gue udah pinter. besok aja deh belajarnya! yuk dek," David merangkul Dira pergi ke pintu kaca halaman belakang.
"Eh lo pikir bahasa inggris cuma..."
"Oh iya," Potong David.
"Jangan lupa beresin buku-bukunya sebelum pulang. gue gak suka liat yang berantakan,"

Sial, kayanya tu orang mau ngerjain gue!
'awas lo dav, gue bales lo ntar.' Gerutu gue dalem hati.

***

Panaaas...

Gue mengibaskan ujung kerah kemeja.
keringat udah membanjiri nyaris seluruh badan gue.
hari ini jalanan macet banget dan cuaca lagi panas-panasnya.

Gue memasuki kamar dengan lesu dan melempar tas ke sembarang tempat.

saat melewati cermin, langkah gue terhenti.
rambut kusut, muka kucel, baju basah karena keringet.

gue memandangi rambut gue yang makin panjang.
ini nih, salah satu penyebab kepala terasa panas.

Apa gue potong aja ya?

Tomboy? Yeah, That My Style!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang