Selamat tinggal ?

754 14 2
                                    

Menurutku, pada dasarnya tak ada kata selamat tinggal yang seutuhnya. Seperti misalnya seorang anak yang pergi meninggalkan rumah untuk mengadu nasib, atau saat seorang anak pergi kerumah lain karena ia sudah memiliki kehidupan rumah tangga yang baru. Mereka saling mengucap kata selamat tinggal, mereka saling berpisah. Tetapi tetap saja pada akhirnya mereka akan kembali bukan? Entah hanya untuk berkunjung atau menetap kembali. Mereka tetap akan kembali dan bertemu.

Lalu bagaimana bila hati yang mencoba berpisah dari perasaan yang menyakitkan? Bagaimana dengan seseorang yang mencoba pergi dan melupakan kenangan pahitnya? Tetap saja, tidak ada kata selamat tinggal yang seutuhnya. Karena kita tau sesering apapun terucap kata selamat tinggal, kita tidak akan pernah bisa benar benar pergi jika hati kita masih tertinggal disana. Di tempat yang ingin kita tinggalkan.

Melupakan seseorang yang kita cintai bukan hal mudah tentunya, tetapi bagaimana jika dengan melupakannya adalah hal terbaik? bukan hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuknya. Mungkin kita hanya perlu merelakannya saja. Ya mengikhlaskan. Barangkali dengan begitu kita tidak lagi menghalangi jalan untuknya berbahagia dengan orang yang dapat membahagiakannya.
Dan berusaha untuk merelakan serta mengikhlaskan adalah sesuatu yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilakukan.

Berusaha untuk dua hal ini sama saja seperti mendaki sebuah gunung, semakin di daki semakin lelah kaki ini. Atau seperti kita ingin sekali berlari tapi kaki kita terjebak diatas lumpur. Ya seperti itulah, semakin ingin melupakan semakin sakit juga hati ini.
Sangat sulit untuk seorang amatiran mendaki sebuah gunung yang tinggi dan berbahaya, sulit untuk mencapai puncaknya. Tetapi selain tekad apalagi yang kita punya, karena di sisi lain untuk kembali pun tak mungkin jika sudah sejauh ini perjalanan.
Memang, untuk mencapai sesuatu yang indah itu harus dilalui dengan perjalanan yang tidak menyenangkan. Tetapi kita yakin, tidak ada usaha yang sia sia.

Dan saat kita berhasil mencapai puncaknya, ada rasa nikmat yang menghapus semua lelah dan sakit. Begitu pula dengan hati, saat kita berjuang penuh untuk melupakan seseorang, ada satu harapan. Semoga dengan semua perjalanan pahit ini kita bisa meninggalkan semua kesedihan dan kenangan yang tidak ingin kita kenang. semoga keindahan alam yang Allah ciptakan dan sejuknya udara diatas puncak gunung yang Ia segarkan menjadi obat penyembuh sakit dan lelah yang kita alami selagi mendaki. Begitupun semoga bisa menghapus dan membawa pergi semua kenangan yang selalu membuntuti dari awal perjalanan.

Sehingga saat kita kembali, yang tersisa hanya lah kenangan indah mengenai keindahan dipuncak gunung. Bukan sakit dan lelahnya kita saat berjuang mencapai puncak.
Saat kita kembali yang tersisa hanyalah kenangan manis yang pantas untuk dikenang saja dan kita dapat melanjutkan hidup seperti yang kita inginkan. Dan makna perpisahan tidak lagi selalu menyakitkan, karena saat kita kembali kita bisa bahagia dengan semua kenangan manis dan dengan melupakan semua kenangan pahit.

Wanita Beranjak DewasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang