Bel pulang sekolah berbunyi, aku pun membereskan semua barang yang ada di meja ku dan memasukkanya ke dalam ransel ku. Sebelum pulang aku harus membersihkan kelas dulu karena, Oh Tuhan aku lupa hari ini aku ada dalam jadwal piket kelas.
"Eh lo! Piket dulu sana maen pulang aja!" Gino memintaku piket dengan sangat ketus.
"Iya Gin, ini juga mau piket kok." jawabku berusaha tak membalas sikapnya yang acuh.
"Kalo ruang kelas ini belum bersih, lo gak boleh pulang dulu!" sambil menunjuk salah satu bagian dalam ruang kelas ini.
Gino, langsung meninggalkanku sendiri di kelas, dan aku langsung mengambil sapu untuk membersihkan ruangan yang lumayan kotor ini.
Saat aku keluar dari kelas yang sudah ku buat bersih seperti semula, aku melihat Gino yang sedang berbicara dengan kakak sepupuku, Amel.
Amel adalah kakak sepupu ku, tapi dia seumuran denganku dan dia bersekolah di tempat yang sama denganku dan Gino. Amel memang ku minta untuk menunggu ku di balkon depan kelasku karena, aku harus membersihkan kelas terlebih dulu. Tapi, ada yang aneh dengan sikap Gino terhadap Amel.
"Mel, ayo pulang! Aku sudah selesai piket." ajak ku sambil menarik tangan Amel.
"Oo iya Nin. Gino, aku sama Ninda pulang dulu ya."
"Iya mel. Hati-hati" jawab Gino dengan ekspresi dan suara yang sangat lembut seperti saat Gino dan aku masih dalam tahap pdkt.
Astaga! Hatiku berkata kalau Gino dan Amel sedang pdkt dalam arti mereka bisa jadi akan berpacaran. Ya Tuhan bagaimana bisa mantan pacarku yang belum ada satu minggu putus dengan ku sekarang, dia bisa jadi akan berpacaran dengan kakak sepupuku sendiri?
Aku makin yakin kalau mereka berdua akan berpacaran, karena setelah ku dengar kata-kata Amel saat bercerita denganku.
"Nin, Gino itu anaknya manis banget ya. Dia itu cowok yang aku cari selama ini Nin." kata Amel dengan ekspresi yang sangat gembira menurutku
"Ha? Oo iya iya dia memang begitu. Memangnya kamu ada hubungan apa dengan Gino?" jawabku sedikit gelagapan. Karena aku tak mungkin memberitahu Amel bahwa Gino itu sebenarnya mantan pacar ku. Aku memang satu sekolah dengan Amel dan aku dekat dengan Amel tapi masalah pacar aku tak pernah sedikitpun bercerita dengan nya. Jadi, tak mungkin aku membuat pengakuan bahwa Gino adalah mantan pacarku, aku tak mau sama sekali menghilangkan kegembiraan yang tergambar di wajah Amel yang cantik itu.
"Gino dan aku itu lagi pdkt Nin. Gino bilang sehari sebelum kita berangkat liburan sekolah ke Gunung Bromo, dia akan mengungkapkan tentang semua perasaanya terhadapku."
Hatiku rasanya sakit, kakiku ingin berlari jauh sekali agar tak mendengar perkataan Amel itu. Air mataku masih berusaha kupenjarakan agar tak sedikitpun menetes membasahi pipiku. Aku tak tahu kenapa aku sesedih ini mendengar bahwa mereka benar-benar sedang dekat dan akan berpacaran. Padahal, aku sudah putus dengan Gino. Aku bukan lah siapa-siapa lagi baginya. Aku seharusnya tak cemburu seperti ini. Ya Tuhan,Cemburu? Aku cemburu? Apa aku masih menyimpan rasa terhadap Gino? Tanya ku dalam hati. Ya Tuhan bagaimana bisa, aku sendiri yang memutuskan Gino dan sekarang aku sendiri yang tidak bisa menerima jika Gino dekat dan akan berpacaran dengan kakak sepupuku sendiri?
"Di-dia pasti akan memintamu untuk jadi pacarnya, Mel. A-aku yakin" jawabku setelah lama aku terdiam.
"Aku pikir juga begitu Nin. Wah aku senang banget. Aku yakin Gino itu pasti benar-benar cinta padaku."
Aku hanya membalas pernyataan Amel dengan senyum yang sesungguhnya meng-isyaratkan bahwa aku sama sekali tidak rela Gino bersamanya.
-------
Aku duduk termenung di meja belajar ku. Memikirkan semua kejadian siang tadi. Dan sampai sekarang pun aku masih berusaha membuat diriku menerima semua kenyataan ini.
Sebenarnya, hatiku tambah merasa perih saat aku tahu kalau Gino akan menyatakan cinta ke Amel pada saat satu hari sebelum liburan sekolah ke Gunung Bromo. Karena, seharusnya hari itu aku dan Gino akan merayakan hari jadian kita yang ke tiga bulan.
"Nin, satu hari sebelum kita liburan sekolah, kamu inget gak hari itu hari apa?"
"Inget lah. Hari itu kan kita udah 3 bulan Gin"
"Ya tepat! Di hari itu aku bakalan ngasih something special buat kamu sayang. Pokoknya kamu pasti suka deh."
"Oiya yang bener? Kamu mau ngasih aku apa sih? Aku jadi penasaran."
"Udah pokoknya pas hari itu, kamu harus sama aku terus ya. Aku bakalan ngasih kamu sesuatu."
"Janji ya?"
"Iya sayang"
"Makasih ganteng ku"Percakapan itu terngiang lagi di otak ku. Sekarang, janji Gino sudahlah musnah tak akan terwujud. Di hari itu Gino akan menyatakan cinta ke Amel dan aku yakin itu.
Ya Tuhan, aku tak ingin seperti ini. Aku ingin melupakan Gino. Melupakan semua hal manis saat bersamanya. Melupakan semua kata-kata indah yang pernah keluar dari mulutnya untuk ku, dulu. Melupakan janji-janji yang takkan terwujud itu. Gino sekarang sudah membeci ku tanpa ku ketahui apa alasanya, ataukah mungkin gara-gara dia sedang mendekati Amel? Ah sudahlah, aku tak boleh memikirkan hal itu lagi.
Tak terasa jarum jam sudah menunjuk pukul sebelas malam, aku pun bersiap untuk tidur dan aku berharap saat bangun aku bisa melupakan semuanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Won't Stop It, Amore
Fiksi Remaja"Teriaklah. Keluarkan semua yang kau simpan dalam diam selama ini. Hati dan mulutmu sudah tak mampu menyimpanya lagi, terlalu lama. Terlalu dalam dan sakit." Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi tolong jangan paksa aku untuk menghentikan semua ini...