"Kenapa lo masih baik sama gue?"
"Sepertinya aku tak perlu menjawab pertanyaan mu. Kamu pasti sudah tahu jawabannya."
"Gue udah jahat sama lo. Gue udah menganggap lo sebagai musuh gue. Tapi, kenapa lo gak bisa benci sama gue Nin?"
"Itu semua bukan alasan yang tepat untuk aku bisa benci sama kamu. Aku gak bisa memaksa hatiku untuk membencimu Gino."
"Tapi, lo harus benci gue. Lo gak pantes berbuat baik ke gue lagi. Lo harus melupakan gue Nin!"
Percakapan kita semakin serius. Sampai-sampai kita tak sadar kalau kita sudah berdiri sejak tadi dan jarak kita semakin dekat.
"Kamu gak berhak memaksa aku buat melupakan kamu,Gino! Sekarang aku tanya sama kamu. Kenapa setelah kita putus kamu menganggap ku seperti orang asing. Kamu seperti tak mengenal ku sama sekali. Kenapa?"
"Gue melakukan itu, karena gue ingin lo lupain gue! Gue ingin lo benci gue!"
"Kalau itu tujuan kamu, kamu salah! Cara apapun gak akan bisa membuat aku membencimu,Gino!"
"Kenapa? Kenapa lo gak bisa benci gue? Lo yang putusin gue dulu, berarti lo bisa benci gue!"
"Aku udah pernah bilang, itu semua bukan keinginan ku! Kalau saja dulu sikap mu tidak selalu menyakiti aku, aku tidak akan melakukan itu!"
"Salahku? Kamu yang salah? Kenapa kamu gak bisa nerima aku apa adanya? Kalau kamu memang tidak suka dengan sikap ku, seharusnya kamu bisa merubah sikap ku menjadi lebih baik lagi bukan malah memutusakan ku. Dan kamu juga meghancurkan hubunganku dengan Amel!"
"Aku salah? Kalau begitu kita sama-sama salah dalam hal ini! Tentang Amel, bagaimana mungkin aku membiarkan orang yang masih aku sayang berpacaran dengan orang lain, terlebih Amel itu kakak sepupu ku Gino! Kamu gak tahu bagaimana sakitnya melihat kamu bersama Amel waktu itu!"
"Kamu masih sayang padaku? Tidak mungkin. Kamu sendiri yang memutuskan hubungan kita. Seharusnya kamu sudah melupakan ku dengan mudah! Kamu harus melupakan ku kamu harus menghentikan semua ini!"
"Sebagai seorang cewek aku tahu mengungkapkan cinta terlebih dahulu itu tidak baik. Tapi, kali ini aku akan melakukanya. Gino, dengar ya sekali lagi! Memutuskan mu bukan kemauan ku sama sekali! Dan aku tidak akan pernah mau melupakan mu kenangan yang kamu beri oadaku terlalu indah. I love you I won't stop it, Gino!" Air mataku keluar tak beraturan. Aku menangis di hadapan Gino. Mungkin aku sudah tak pernah memikirkan perasaan maluku lagi jika aku sampai menangis di hadapan Gino. Badan ku seketika seperti ingin terjatuh. Gino pun juga merasakanya.
Kita tertunduk bersamaan.
"Ninda, kenapa harus begini sih! Kenapa kita memaksakan ego kita masing-masing. Sikap kekanak-kanakan ku yang menganggap mu musuh setelah kita putus itu salah! Aku salah Nin, aku salah!"
"Gino, kita berdua yang salah dalam hal ini, bukan hanya kamu saja. Sekarang aku tidak akan memaksamu lagi untuk tetap bersama ku dan membalas rasa cinta ku ini. Tapi, please Gino, jangan paksa aku menghentikan perasaan ini terhadapmu. Jangan paksaaku untuk melupakan mu!"
Gino, memegang tangan ku. Dia menyuruh ku untuk memandangnya. Tangan nya yang lembut penuh kasih sayang menghapus air mata yang membasahi pipi ku. Aku seperti sedang bermimpi!
"Ninda, aku sudah terlalu jahat padamu. Aku sudah membiarkan mu mengeluarkan air mata mu ini untuk cowok seperti ku. Aku sadar sikap ku selama ini tidak pantas ku lakukan. Aku minta maaf Nin. Ninda, aku sadar hanya kamu orang yang benar-benar tulus padaku. Kamu tidak pernah membalas semua perlakuan ku terhadapmu. Kamu orang yang selalu baik padaku. Awalnya, aku berpikir kalau aku pura-pura tak mengenalmu, pasti aku akan lebih mudah melupakanmu. Ternyata aku salah Nin! Jujur selama ini aku belum bisa melupakanmu sedikitpun! Aku masih ingat semua tentang kamu, senyum mu,perhatian mu,kebaikan, dan yang terpenting ketulusan hatimu terhadap ku. Aku masih ingat itu semua."
Gino meneruskan kata-kata nya. Dan aku masih tetap menatapnya.
"Ninda, sejujurnya aku juga tidak mau putus sama kamu dulu. Tapi, aku pikir kamu sudah tidak menyukaiku lagi. Mendekati Amel sejujurnya hanya caraku saja agar aku bisa tetap dekat dan masih bisa melihat wajahmu. Tetapi, dengan cara ku itu aku tambah membuat hatimu sakit. Aku minta maaf Nin. Ninda, sekarang kita hilangkan sifat egois kita masing-masing. Sekarang, aku berjanji tidak akan memaksamu untuk melupakanku lagi dan aku tidak akan memaksamu untuk menghentikan perasaanmu terhadap ku lagi. Sekarang aku akan memaksamu untuk tetap tulus mencintaiku. Aku akan memaksamu untuk tetap mempertahankan perasaanmu terhadapku karena..."
"Ninda, please don't stop it! Because I love you so much,. amore."
Aku menangis tak percaya jika Gino akan mengatakan hal itu. Aku tersenyum dengan air mata bahagia. Dan aku menjawab..
"I won't stop it! I'm still love you, amore."
Gino memeluk ku dan kita saling bertatap di temani sejuknya udara pagi pegunungan serta hangatnya sinar mentari yang seakan ikut tersenyum bersama ku dan Gino.
Selesai.

KAMU SEDANG MEMBACA
I Won't Stop It, Amore
Teen Fiction"Teriaklah. Keluarkan semua yang kau simpan dalam diam selama ini. Hati dan mulutmu sudah tak mampu menyimpanya lagi, terlalu lama. Terlalu dalam dan sakit." Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi tolong jangan paksa aku untuk menghentikan semua ini...