"Nggak, gue yakin banget kalo barusan dia motret elu, Win!" kata Selva bersikeras.
"Gue yakin seratus persen, cuy!" timpal Airin.
Windy tak habis pikir. Teman-temannya ini pandai sekali membuatnya tersipu.
"Ah, ngaco kalian. Nggak mungkin lah," elak Windy.
Cewek itu benar-benar salah tingkah. Wajahnya memerah, memanas. Tak terbayangkan jika Bagus benar-benar memotretnya. Ah, rasanya dia ingin berteriak histeris. Akan tetapi, sebisa mungkin Windy mengontrol emosinya. Walaupun hatinya sudah bergejolak bahagia dan tak dapat membendung rasa senangnya.
Bayangkan saja, dalam dua hari berturut-turut, cewek itu berada dan bernapas di tempat yang sama dengan Muhammad Bagus Abqari. Ini benar-benar langka. Selama dua semester dia lewati di Universitas Rajawali, kedatangan Bagus ke kafetaria utama kampus ini dapat dihitung dengan jari. Jarang sekali. Rasanya Windy dijatuhi jackpot karena pertemuan itu.
Hal yang tak biasa ini benar-benar mengejutkan bagi Windy. Sepertinya tak cukup dengan apa yang dia alami kemarin, siang ini pun teman-temannya berkata bahwa cowok itu memperhatikan Windy. Bahkan memotretnya.
Namun, Windiana tidak ingin besar kepala. Cewek itu tahu benar bahwa Bagus tak pernah mengingatnya. Jika cowok pujaan hatinya itu mengenalinya, mana mungkin Bagus tak menyapa dirinya saat berpapasan atau bertatapan dengannya seperti kemarin? Jadi, Windy tetap percaya pada prasangka bahwa Bagus benar-benar telah lupa dengan kejadian itu.
Windy tentu saja kecewa. Dia tak dapat mengindahkan rasa itu. Bagaimana bisa cowok itu dengan mudah melupakan aksi heroiknya untuk menyelamatkan Windy? Sedangkan Windy sendiri takkan pernah dapat menghapuskan memori itu. Sampai kapanpun. Kejadian itu bisa saja menghancurkan masa depannya jika Bagus tak muncul.
Lagi-lagi, apa yang dikatakan Airin dan Selva adalah kebenaran. Yang Windy rasakan hanyalah sepihak saja. Kasihan sekali. Maka dari itu, Windy lebih memilih menjadi orang yang denial. Menghindari kenyataan yang ada, walaupun akan menimbulkan rasa sedih di hati. Daripada dia menjadi orang yang terlalu menggantung angan setinggi langit. Windy lebih memilih untuk menolak semuanya meski tak dapat memungkiri bahwa hatinya terlanjur berbunga-bunga. Apalagi Selva dan Airin benar-benar meyakinkan Windy bahwa cowok itu memberi perhatian padanya. Walaupun tak ada bukti konkret.
"Gue yakin, seyakin-yakinnya kalo itu cowok barusan motret elu!" Selva memamerkan dua jarinya menjadi huruf V pada Windy.
"Idem! Gue juga!" Airin tak kalah yakin.
Windy masih menggelengkan kepalanya. Rambutnya yang terurai indah bergoyang-goyang mengikuti gerakannya.
Diam-diam, Windy melirik ke arah cowok yang duduk di seberang sana. Cowok yang dituduh teman-temannya telah memotret dirinya. Cowok bernama Bagus itu masih di sana. Mengotak-atik kameranya. Wajahnya nampak sangat serius. Entah kemana perginya senyuman beberapa saat lalu. Tanpa sadar, Windy menghela napas.
Ah, menyerah sajalah. Jangan dengarkan omong-kosong yang diteriakkan oleh Selva dan Airin tentang cowok itu. Semua tidak terbukti. Semua tidak benar.
"Win, lewat, Win! Dia keluar, Win!" Selva dengan semangat membenturkan sikunya pada lengan Windy.
Cewek itu refleks menoleh pada Selva, lalu mengikuti arah mata dua sahabatnya itu tertuju. Benar saja, Bagus dengan tas kamera yang menggantung di bahunya itu pun lewat di hadapannya. Berjalan santai tanpa beban. Menuju ke arah parkiran, tak peduli beberapa mata memperhatikannya.
Windy terkekeh. Menertawakan kebodohannya. Untuk apa terbawa perasaan hanya karena mendengar spekulasi aneh dua temannya tentang Bagus? Jika memang benar dia memotret dan menaruh perhatian pada Windy, setidaknya cowok itu akan tersenyum atau menyapanya. Mungkin sebuah senyuman ramah akan memberikan efek manis. Akan tetapi, semua itu tidak pernah terjadi. Jangan harap Bagus menyapanya, melihat keberadaan Windy saja tidak. Menyedihkan sekali.

KAMU SEDANG MEMBACA
TIKUNGAN BAGUS
Teen FictionTergiur oleh iming-iming yang Dion tawarkan, tanpa pikir panjang Bagus menerima pekerjaan sampingan yang diberikan sahabatnya itu. Sekalian mengisi waktu luang dan memenuhi keinginannya untuk menambah koleksi dan tetek-bengek fotografinya. Bagus har...