Surat Terakhir

187 10 6
                                    

Untuk Langit,


Mungkin ini surat terakhir dan pertemuan terakhir kita -walau aku tidak pernah berharap begitu-. Tentang aku bercanda bahwa aku suka kamu sebenarnya memang bercanda. Aku memang suka kamu. Aku suka kamu sejak kelas 2. Aku suka kamu saat kamu tertawa. Aku suka mendengar nyanyian sumbangmu. Aku suka tarian anehmu. Tapi aku paling suka saat kau tersenyum padaku, tertawa bersamaku dan merajuk padaku. Oh ya, aku selalu suka saat namaku keluar dari bibirmu. 


Jika saja kamu tidak bersama bintang mungkin saja aku sudah menyatakan pada seluruh dunia bahwa kamulah lelaki yang sedang aku puja. Tapi kau sangat serasi dengan bintang -itu yang dikatakan orang, tapi bagiku tidak-, semoga kau bahagia. Aku harap aku bertemu denganmu lagi saat aku sudah menemukan langit yang lain.


Aku punya satu pesan untukmu : Ketika kau sedih, tataplah langit-dalam arti sebenarnya hehe-, tarik nafasmu, lalu tersenyumlah. Aku harap dalam satu detikmu menatap langit, kau mengingatku. Selamat berjuang.


Tertanda,

yang masih dan nanti pernah mencintaimu.

LANGITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang