[2]

32.1K 1.4K 75
                                        

Pagi harinya Zena terbangun dan mencari ponselnya. Kebiasaan Zena saat bangun adalah mencari ponsel. Setelah mendapatkan ponselnya di bawah bantal dengan cepat dia mengecek semua aplikasi.

Padahal Zena berharap ada pesan dari sahabat gilanya namun nihil. Zena sekarang hanya tinggal di apartementnya, kedua orang tuanya tinggal terpisah walaupun masih satu kota. Alasannya memilih tinggal di apartement adalah ingin hidup mandiri dan apartement ini dia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri.

Dengan cepat dia berjalan kearah kamar mandinya. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin memberitahu perihal kebahagiannya kepada sahabat lelaki satu-satunya Darrel.

Hanya butuh waktu lima belas menit untuknya menghabiskan waktu di kamar mandi dia merasa tidak seperti wanita lain yang menghabiskan waktunya berjam-jam di dalam toilet. Zena hanya mengenakan jeans, sweater dan stiletto kesayangannya tidak lupa sling bag untuk menaruh ponsel dan dompetnya.

Sekali lagi Zena memandangi cincin yang berada di jari manisnya, dia benar-benar senang setelah hampir tiga tahun berpacaran Theo, kekasihnya, berani melamarnya. Tentu berita ini di sambut hangat oleh keluarganya.

Zena melangkahkan kakinya memasuki Audi merah miliknya, jangan salah mobil ini juga ia beli dari hasil keringatnya sendiri.

To: Sahabat sinting

Gue harap saat gue sampe apartement lo bersih dari segala macam virus.

Sebelum ke apartement sahabatnya dia mampir ke supermarket sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak di tempat sahabatnya.

Tanpa basa-basi Zena menekan password apartement sahabatnya yang sudah dia hafal di luar kepalanya. Saat melewati ruang tamu matanya menangkap dress merah. Zena hanya geleng-geleng kepala dia sudah tahu.

Dia berjalan kearah kamar dan sudah siap menarik nafas dalam. "DARREL IVANDER GUE KASIH WAKTU 5 MENIT UNTUK NENDANG ITU CEWEK JANGAN SAMPE GUE MEREALISASIKAN RENCANA GUE BUAT NGEBOM APARTEMENT LO." Setelah lega berteriak di depan kamar sahabatnya. Tidak lama terdengar bunyi langkah kaki panik, mendengar itu Zena terkekeh. Zena langsung melangkahkan kakinya kearah dapur.

***

Panik.

Hanya satu kata, Darrel benar-benar langsung membangunkan wanita yang semalam tidur bersamanya Sahsi. "Bangun cepet terus pergi," ucap Darrel tegas.

Tapi, bukannya bangun Sahsi malah memeluk Darrel. Ini bukan pemandangan yang bagus di pagi harinya. "Pagi Darrel, aku masih capek." Sahsi mengucapkan dengan suara serak dan rendah.

Darrel dengan cepat menggelengkan kepala mengusir fikiran kotornya. Bukan waktu yang tepat memikirkan wanita di sampingnya, yang harus dia pikirkan adalah wanita di luar sana yang mempunyai rencana membom apartementnya, pikir Darrel.

"Cepet bangun sebelom gue seret dari sini." Kini Darrel mengucapkan dengan penuh penekanan dan perintah yang tidak bisa di bantah. Sahsi akhirnya bangun dan mendengus kesal. Dia melilitkan selimutnya dan mengambil pakaiannya di ruang tengah. Sebelum pergi dia mengecup bibir Darrel singkat.

Setelah wanita itu pergi Darrel mengusap dadanya. "DARREL CEPET MANDI SEBELOM LO GUE TENDANG DARI LANTAI TIGA PULUH!" teriak Zena dari bawah.

"YES MOM!" balas Darrel dengan berteriak juga.

"Astaga Nata, Nata, emak lo ngidam apa sampe suara lo ngalahin toak." Gumam Darrel sambil berjalan kearah kamar mandinya. Fyi, Darrel memanggil sahabatnya ini Nata.

Hampir tiga puluh menit Darrel menghabiskan waktunya di kamar mandi, dia sudah siap dengan pakaian kantornya. Saat dia melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 08:30, Darrel langsung menuju ruang makan.

"Pagi sahabatku tercinta," sapa Darrel saat melihat Zena sudah duduk di meja makan. Zena hanya mencibir ucapan sahabatnya.

Darrel sudah menikmati waffle buatan sahabatnya ini. "Gila lo yah Nat, niat banget sidak gue pagi-pagi gini." Gerutu Darrel.

Zena memutar matanya, "Rel, lo inget gak sih umur lo sekarang udah berapa?"

Mendengar itu Darrel terkekeh, "umur gue 24 dan umur lo 23, inget kan gue?" Darrel menaik turunkan alisnya.

Zena mengambil sendok dan mengetok kepala sahabatnya. "Gila lo Nat dari dulu sadis mulu."

"lagi yah lo mau sampe kapan sih ngilangin hobi lo yang gila itu?" tanya Zena.

"Oh, jadi ada acara apa nih ke sini?" Darrel berusaha mengalihkan pembicaraannya karena, dia yakin kalo meladeni ucapan sahabatnya bisa-bisa dia mendengar ceramah yang panjang lebar dan yang pasti belum tentu di dengarkan olehnya.

"Darrel gak usah ngalihin pembicaraan gue."

Kalo sudah begini Darrel menyerah, "ok, sampe gue bosen kali."

"Darrel astaga, jangan bilang lo mau kaya gini terus sampe punya lo impotensi atau sampe gue punya cucu. Terus lo kapan nyusul gue yang udah di lamar secara resmi sama Theo." Cerocos Zena.

Darrel mengernyitkan dahinya, "dilamar?" Darrel mengulang ucapan Zena.

Dengan wajah berseri Zena memeluk Darrel setelah itu dia duduk di pangkuan sahabatnya. Zena memamerkan jari manisnya pada sahabatnya. "Gue di lamar astaga berarti benar lagi gue nikah, punya suami dan punya anak yang lucu-lucu. Terus lo kapan nyusul gue buat nikah?"

Darrel memutar bola matanya malas. "Nikah artinya hidup dengan satu orang buat selamanya gue mana bisa lo tau sendiri tiap malem gue sering gonta-ganti pasangan mana bisa gue." Jelas Darrel.

Mendengar ucapan Darrel membuat Zena ingin mengebor isi kepala Darrel. "Mau sampe kapan sih lo berfikir kaya gitu, Rel, lo inget dong lo kan bakal tua siapa yang mau ngurusin lo?"

"Iya lo lah katanya sahabat gue." Darrel menampakkan senyum manisnya.

"Gue bakal punya suami Darrel." Kekeh Zena.

"Yah, suami lo harus nerima gue lah," ucap Darrel tidak mau kalah.

"Lagian gue juga bingung ama pemikiran lo yang gak bisa hidup dengan satu pasangan aja." Gerutu Zena.

"Gue juga binggung ama pemikiran lo yang mau aja nikah dan hidup dengan satu orang buat selamanya," ucap Darrel.

Zena hanya mendengus kesal. Sebenarnya dari tadi Darrel sudah menahannya. "Ok, sahabat cantikku bangun dari pangkuan gue sebelum lo gue terkam diatas meja makan sekarang juga." Perintah Darrel yang sudah tidak kuat menahannya.

Mendengar itu membuat Zena melotot dan dia bisa merasakan sesuatu milik Darrel. Dengan cepat Zena bangun. "DARREL!"

Hay, aku kembali nih jadi jangan lupa tinggalkan vote dan comment kalian💙❤👍👌✌

Teman Tapi Menikah (TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang