Weird,

555 26 0
                                    

Marchell

Aku menggandengnya menuju toilet sekolah. Cewek nerdy yang suka menyendiri.

Ini semua karena Darwin, cowok berambut keriting. Dia kembaranku, namun tidak identik. Dari rambut pun kami tidak sama, Aku lurus sementara Darwin keriting. Wajahku terlihat kebulean karena memang Aku ada darah blasteran, sementara Darwin lebih menunjukkan wajah Indonesia.

Darwin memang selalu memperhatikan gadis ini, Inka. Aku tahu namanya dari Darwin tentunya, tapi dia tidak memberitahuku darimana dia dapat.

Saat tadi aku menolongnya, Aku hanya alasan sedang latihan. Sebenarnya aku hanya tidak ingin pulang cepat. Jadi, Aku beralasan saja aku hanya bermain basket.

Sampai di depan toilet aku berhenti. Dan saat menoleh kebelakang aku sedikit terkejut melihat Inka yang sedang tersenyum-senyum sendiri.

"Kenapa lo senyum-senyum?" tanyaku heran sambil melepas genggamanku. Kulihat Inka tersadar dan sedikit salah tingkah
.
"Sorry," balasnya.

"Kepicut sama kegantengan gue ya?" ucapku percaya diri.

Dia hanya tertawa kecil, "Nggak juga. Cuman aneh aja."

"Apanya?"

"Lo ko mau deket-deket gue? Apa karena kasian ngeliat gue kaya gini?"

"Bukan kasian, tapi gue perduli." jawabku tenang. Aku memang perduli kepada siapapun. Jika aku mampu aku sanggup menolong mereka yang sedang kesusahan.

Dia terdiam dan menunduk lagi. Aku hanya memperhatikannya yang sedang tersenyum lagi. Selain tipe orang menyendiri ternyata dia suka senyum-senyum sendiri juga.

"Lo kenapa sih? Aneh banget," tanyaku yang membuat dia terkejut dan mendunga kearahku.

Inka hanya menggeleng.

"Lo bersihin dulu deh seragam lo, terus pake jaket gue aja." ucapku.

"Eh, Nggak usah," Dia menolak. "Kan udah gue bilang, gue mau langsung pulang aja."

Nih cewek keras kepala banget. Masa iya dia mau pulang dalam keadaan kaya gini? Apa dia tidak malu?

"Rumah lo dimana?"

"Di Komplek Jalan Magentha blok A."

"Ish, itu mah lumayan jauh, rumah gue aja lewatin komplek itu. Dan lo mau pulang dalam keadaan kaya gini?" tanyaku menyakinkan.

"Hmm.." Dia diam seolah berpikir.

"Yaudah cepet masuk kamar mandi, gue ambil jaket gue dulu."

"Tap--"

"Nggak usah ngebantah," potongku cepat dan menyuruhnya masuk. Dia mengangguk lemah dan masuk kedalam toilet. Sementara aku pergi keloker untuk mengambil jaket milikku.

Aku tidak berniat agar ia memakai jaketku, tapi entah kenapa mulutku langsung mengeluarkan kata-kata itu. Saat keluar dari loker aku tidak melihat Darwin disekitar lapangan. Aku merogoh tas ranselku dan mengambil ponsel.

Ada dua pesan baru disana. Kubuka, dan itu dari Darwin.

13:45
Darwin : Sorry, gue pulang duluan.

13:50
Darwin : Sekalian anterin dia pulang.

Aku menghela napas. Kalau memang Darwin menyukai Inka kenapa bukan dia saja yang melakukan semua ini? Dasar pengecut.

Aku memasukan ponselku kedalam tas, tidak ingin membalas pesan Darwin. Langsung saja aku ke toilet, siapa tahu dia sudah selesai.

Sampai di toilet aku melihat dia yang basah kuyup berdiri didepan toilet.

"Ngapain lo disini?" tanyaku heran.

"Lo lama banget, jaket lo mana?"

"Nih," jawabku sambil memberi jaket coklatku.

Dia masuk kembali, tak lama dia keluar.

"Kacamat lo berembun," ucapku sambil menunjukka kacamatnya yang berembun.

Dia melepasnya dan mengusapnya dengan tissue. Seketika aku terpanah saat melihat dia melepas kacamatanya. Manis.

"Kenapa?" tanyanya yang menyadarkanmu.

Aku menggeleng cepat, "Pulang yuk, gue anterin." ajakku.

"Nggak usah, sepeda gue gimana?"

"Gampang, nanti gue suruh supir gue bawa sepeda lo buat dibenerin." jawabku enteng.

Dia menggeleng, "Gue nggak mau repotin orang, lo kenapa jadi baik sama gue?"

"Kenapa tanya kaya gitu?"

"Gue takut kalau lo baik sama gue nanti gue dibully lagi,"

"Lo aneh banget sih jadi cewek! Udahlah nggak usah nolak rezeki kali."

"Tap--"

"Ikut gue. Gue anter pulang. Sekarang." potongku dengan nada tegas.

-

"Nih rumah lo?" tanyaku saat mobil berhenti disebuah rumah sederhana berwarna merah.

"Iya, thanks ya,"

"Iya," Aku mengangguk. "Lain kali lebih hati-hati aja sama si Ratu lebah itu."

Dia menoleh kearahku, "Kenapa ya dia kayak gitu? Lo tau?"

Aku mengernyit, "Nggak tau. Gue nggak suka ngurusin hal yang nggak penting."

Dia menghela napas, "Tapi kenapa dia nggak suka banget sama gue?"

"Mana gue tau,"

"Lo nggak bakal kaya dia kan?"

"Ya nggak lah, kan udah gue bilang gue bukan Raja lebah."

Cewek itu mengangguk lagi sambil tersenyum tipis. Kuakui Inka ini tidak terlalu buruk. Dia juga tidak terlalu cupu dengan penampilannya seperti ini. Mungkin dia memang kurang percaya diri saja.

"Kenapa lo liatain gue kaya gitu? Aneh ya gue,"

"Eh," Aku tersadar. "Nggak ko. Baru aja gue ngomong sama cewek kaya lo. Soalnya gue juga jarang liat lo disekolah."

Dia tertawa kecil, "Gue nggak begitu suka keramaian. Jadi gue lebih suka menyendiri aja."

"Kenapa gitu?"

"Entahlah," jawabnya sambil mengangkat bahu.

"Trauma akan sesuatu?"

"Hm..."

"Sorry, gue nggak maksud. Yaudah lupain aja." ucapku.

Dan kali ini entah kenapa suasana didalam mobil menjadi canggung. Aku mengangguk kepalaku yang tidak gatal. Kenap jadi salah tingkah seperti ini.

"Lo kenapa?" tanyanya.

Aku hanya menggeleng.

"Sekali lagi makasih ya, hm..."

"Marchell," ucapku, "Bisa panggil Marc."

Dia mengangguk. "Thanks, Marc."

"Sama-sama..."

"Inka," lanjutnya. Aku hanya mengangguk. Aku sudah tau namanya, tapi tidak mungkin kalau aku tiba-tiba memanggil namanya.

"Sekali lagi terimakasih ya, Marc." ucapnya dan Aku balas dengan anggukan. Dia keluar dari mobil dan melirikkku sebentar sebelum ia masuk kedalam rumah.

"You're weird,"

--
partnya pendek. semoga tdk mengecewakan.

btw, wellcome to 2017 🎉

Nerdy, I Wuf YouWhere stories live. Discover now