air mata tiara

20 3 0
                                    

Akhirnya aku dan Karin mengakui segala hal yang telah kami lakukan dan benar saja keluarga kami sangat terpukul dan tidak bisa menerima semua ini, terutama orangtua kami.

Kami memang bersalah dan pantas untuk dihukum atas kesalahan yang telah kami lakukan. Kehilangan masa remaja, teman, sekolah, dan segala impian masa kecil kami, apakah ada hukuman yang lebih buruk dari ini semua. Kemarahan keluarga kami menjadi pelengkap hukuman yang harus kami jalani. Akhirnya keluarga kami setuju untuk menikahkan kami berdua, dengan syarat aku harus mampu membiayai hidup kami berdua tanpa mengharapkan untuk bergantung pada keluarga masing masing. Bahkan aku harus membiayai pernikahan kami dengan uang tabunganku sendiri. Ayahku berkata seorang pria adalah pemimpin bagi keluarga dan seorang pemimpin harus berani bertanggung jawab atas segala hal yang telah dia lakukan.
Sejak malam itu aku dan Karin bukan lagi sepasang remaja yang bisa bermain dan menghabiskan waktu di rumah pohon kami. Setiap malam aku bekerja sebagai penyanyi kafe untuk mengumpulkan uang, dan siang hari aku bekerja serabutan untuk biaya pernikahanku dan karin.
Setelah beberapa minggu, akhirnya tabunganku sudah cukup untuk membiayai pernikahan kami. Karin menolak untuk mengadakan pesta seperti yang diminta orangtuanya, karin hanya meminta pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga kami saja. Aku paham bahwa bukan pernikahan seperti ini yang diimpikan oleh karin. Impian sederhana setiap laki-laki adalah mempunyai pekerjaan yang mapan dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Begitupun setiap wanita, yang mereka inginkan adalah mempunyai suami yang sudah bekerja, punya penghasilan yang cukup, dan bukan seorang bocah yang bahkan belum menyelesaikan sekolahnya. Setiap wanita pasti menginginkan pesta mewah dihari pernikahannya, memakai gaun yang bersinar dengan tiara indah dikepala mereka dan menjadikan mereka ratu dalam semalam. Tapi apa yang telah aku berikan pada Karin, aku telah membuat dia menangis diatas tiaranya sendiri. Aku adalah bajingan yang telah merusak hidupnya.
...
Kami menikah saat usia kandungan karin baru dua bulan. Karin terlihat cantik dengan pakaian dan riasan yang sangat sederhana dihari dimana dia seharusnya menjadi wanita yang paling bahagia.
Karin terlihat kesulitan untuk duduk dengan kebaya yang cukup ketat karena perutnya yang mulai membesar, aku menuntunnya dan membantunya untuk duduk didepan penghulu. Entah bagaimana perasaan karin saat ini. Tanganku terasa sangat dingin dan bibirku bergetar saat laki laki itu menuntunku untuk membaca janji pernikahan, hingga akhirnya kalimat kalimat itu selesai aku baca, Karin hanya menundukkan kepalanya.
Setelah kami telah dinyatakan sah sebagai suami dan istri, aku dan Karin pindah dari rumah kami masing masing dan memutuskan untuk tinggal disebuah rumah kost sederhana yang kusewa dengan sisa uang tabunganku.
Karin terlihat lebih tenang dan menerima keadaan kami sekarang. Sekarang Karin adalah seorang ibu rumah tangga yang sedang mengandung dan aku adalah seorang kepala keluarga yang mempunyai seorang istri yang sedang hamil. Setiap malam aku bekerja sebagai penyanyi kafe dan siang harinya aku bekerja sebagai seorang pelayan toko. Semua ini aku lakukan untuk menyiapkan kelahiran anakku yang tak kan lama lagi. Kini kandungan Karin sudah memasuki bulan ketujuh, dan itu berarti Karin akan melahirkan dalam dua bulan kedepan. Sebisa mungkin aku menjaga Karin  dan anak dalam kandungannya.
....

Old String LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang