Angel Kim and Devil Han

485 66 11
                                    

Suasana diantara mereka sangat canggung saat ini, ketika [Name] hanya diam di depan Jumin sambil meminum tehnya. Mereka hanya ditinggal berdua di restoran itu beberapa saat setelah perkenalan singkat antara pemuda itu dengan orang tuanya.

Dan sekarang, Jumin lebih memilih sibuk dengan handphonenya saat [Name] masih mencoba menganalisa pemuda itu.

'Ini bukan mimpi, tetapi bagaimana mungkin Jumin berada di dunia nyata? Lagipula, bukankah Mystic Messenger itu hanya permainan? Dan itu semua hanya mimpi kan?!'

"Mau sampai kapan kau menatapku seperti itu," perkataan Jumin membuat [Name] hampir menyemburkan teh yang ada di tangannya.

"Uh, maaf... a-aku hanya penasaran dengan apa yang membuatmu asik dengan handphone itu," [Name] mencoba tertawa dan mengusap mulutnya. Ia menghela napas dan menatap Jumin yang masih tidak melihatnya dan tidak tertarik dengan pertanyaannya.

"Aku tidak perlu menjawabnya bukan," itu yang dikatakan Jumin, yang sukses membuat dadamu tertohok. Oke, seharusnya ia mengerti jika Trust Fund Kid sepertinya tidak tertarik dengan perjodohan. Bahkan gadis secantik Glam Chou tidak membuatnya tertarik walau gadis itu menyebalkan, "kau mau apa?"

"Eh?"

"Kau hanya ingin meminta sesuatu bukan makanya menungguku memperhatikanmu? Aku akan membelikannya kalau setelah itu kau menjauh," rasanya cangkir di tangannya bisa retak karena tekanan yang dibuat oleh [Name]. Empat persimpangan berkedut, tampak berada di atas kepalanya yang masih tersenyum menatap Jumin.

"Hanya karena kau selalu dijodohkan dengan gadis seperti itu, bukan berarti aku juga seperti itu," [Name] meletakkan dengan kasar cangkir di tangannya dan menatap Jumin dengan tatapan tajam yang bahkan membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya dari HP untuk pertama kalinya, "maaf saja, tetapi aku juga tidak pernah mau dijodohkan seperti ini. Dasar Trust Fund Kid!"

...

Jumin menatap balik [Name] dengan mata membulat, sementara [Name] yang menyadari apa yang ia katakan tadi tersentak sendiri. Oke, ia malah kelepasan memanggil Jumin dengan panggilan yang sering disebutkan Zen.

"Lalu, apa maumu?"

"Hm? Kalau bukan karena ayah dan ibuku tentu saja aku tidak akan menerima perjodohan ini," [Name] menghela napas dan tampak menenangkan dirinya lagi, "aku tidak tahu apa yang kuinginkan. Aku bahkan tidak sadar sepenuhnya saat ayah dan ibu membawaku ke Seoul dan akan mengenalkanku dengan calon tunangan yang tidak pernah kukenal..."

'Yang terakhir bohong sih...'

"Aku bahkan merasa bingung dengan perubahan dunia ini setelah aku bangun dari koma. Aku hanya ingin hidup bebas dengan--" perkataan dari [Name] terputus begitu saja saat ia bahkan tidak bisa melanjutkannya. Mulutnya seolah ingin mengatakan sesuatu, saat bayangan seseorang tampak lewat begitu saja di dalam pikirannya, 'huh? Dengan siapa? Apa yang kupikirkan...?'

"Sudah selesai?" [Name] menatap Jumin yang mematikan handphonenya dan menatap [Name], "dan untukku. Aku hanya setuju dengan pertemuan ini karena dengan cara ini aku bisa berkumpul dengan yang lainnya. Kalau memang benar kau hanya ingin membahagiakan ayah dan ibumu, kurasa itu akan memudahkanku. Kita tidak perlu bertemu, dan kita tidak perlu dekat satu sama lainnya."

...

"Aku akan mengantarkanmu ke kamar, ini sudah sore dan kurasa kau masih lelah dengan perjalanan itu," [Name] masih diam dengan mulut membuka. Ia tahu kalau Jumin terlihat menyebalkan di permainan Mystic Messenger, namun ia tidak tahu kalau ia akan semenyebalkan ini.

"Aku bisa pulang sendiri, terima kasih Mr. Han!"

[Name] mengambil tas tangannya di atas meja dan berbalik meninggalkan Jumin yang masih berdiri di tempatnya melihat [Name] yang menjauh. Matanya beralih pada ponselnya lagi saat sebuah nama tertera di layarnya yang membuatnya menghela napas dan mengangkatnya.

Hello StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang