BAB III: New York, 1728

111 12 4
                                    

New York, 1728

Aku membuka mataku perlahan. Semua anggota tubuhku terasa sakit. Semalam, aku tertidur di atas perahu kayu. Aku tak bisa bergerak karena gelap. Yang aku tahu, hanyalah air dan perahu ini.

Aku menguap. Membasuh wajahku dengan air danau. Langit masih gelap, hanya saja semburat kuning sudah menyeruak di ungfu timur. Angin pagi tanpa polusi sangat dingin. Apalagi baju yang ku kenakan sangat pendek. Ck!

Aku membuka tas kecilku. Ku rogoh ponsel dengan penuh harapan. Kunyalakan layarnya. Dan sial! Disini tidak ada signal. Tempat macam apa ini?

Aku berusaha beranjak dari perahu ini, tapi ini tak semudah yang aku kira. Setiap aku berdiri, perahu ini selalu bergoyang. Untuk ketiga kalinya aku berusaha berdiri, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki. Ku urungkan niat berdiri tadi dan menatap sosok laki-laki yang berdiri tak jauh dari hadapanku.

Dia menatapku, tatapan yang cukup membuat aku bergidik ngeri. Memang, aku akui dia sedikit tampan. Akan tetapi pakaian yang dia kenakan jauh dari kata tampan. Jauh dari kata tren. Pakaian yang lusuh, yang seharusnya dijadikan kain lap saja.

Sebelum dia membalikkan badan, mungkin berencana pergi dari tempat ini, aku lantas berbicara dengan suara yang sedikit parau. "Bisa kau bantu aku?"

Ku lihat dia menyandarkan tombak yang ia pegang pada pohon yang menjadi pengikat tali perahu ini. Lalu dia menarik tali itu hingga ujung perahu ini menyentuh daratan. Tak ingin membuang waktu, aku segera turun. "Terimakasih."

Dia mengangguk dan bergegas untuk pergi. Ku lihat dia menyimpan tombak di pohon yang berbeda. Aku mengikuti langkah kakinya yang menginjak jalan setapak.

"Aku ikut dengan mu," kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku. Tapi aku tak bisa menyembunyikan raut wajahku yang sedikit khawatir.

"Kenapa?" tanyanya bingung.

Aku juga ikut bingung. Beberapa kali mulutku terbuka untuk mengucapkan sesuatu, namun kuurungkan kembali. Tiba-tiba dia menarik tanganku ke arah hutan. Entahlah, atau mungkin saja. Sebab, arah ini menuju pepohonan yang rindang.

*

Author POV

New York, 2017

"Andrew dan Callie mengelilingi rumah dengan raut wajah yang panik. "Rean! Kau dimana? Jangan bercanda!"

Callie merogoh ponselnya dan menelpon Shane sahabat Adreanna. "Hallo Shane? Apa kau bersama seli? Apa? Di rumah juga tidak ada. Ya! Cepat kamu kesini!" hanya itu yang terdengar dari mulut Callie yang bergetar.

Tak lama setelah itu Shane datang. "Kita harus segera mencari Rean!"

Andrew dan Callie mengangguk membenarkan.

"Aku akan menelpon teman-temannya. Sementara tante dan om mungkin bisa melapor kepada polisi" tambah Shane dengan raut wajah yang benar-benar khawatir.

Shane sibuk menelpon semua teman-teman Adreanna yang dia ketahui. Sementara itu Andrew dan Callie memberitahukan kepada pihak polisi bahwa anaknya sudah hilang sejak semalam. Akan tetapi, Andrew dan Callie meminta polisi menyembunyikan ini dari publik karena akan banyak kemungkinan-kemungkinan yang buruk nantinya.

"Persetan!" Shane mengacak rambutnya prustasi. "Tidak ada yang mengetahui kemana Rean!"

"Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan turun tangan untuk mencarinya" tambah shane lagi sambil berlalu menuju mobilnya.

Callie berlari ke lorong bawah tanah. Satu-satunya tempat yang belum ia datangi. Dan, betapa kagetnya dia menatap kain putih yang sudah tergeletak di bawah dan tak lagi menghalangi mesin waktu.

Callie menangis sejadi-jadinya dan langsung menghampiri Andrew.

Andrew berlari dan membuka laptopnya yang memperlihatkan cctv diruang bawah tanah. Terlihat disana Andreanna memasuki mesin waktu itu dan setelahnya terlihat ada lingkaran hitam.

"Kau melihatnya? Tidak mungkin kejadian itu terulang kembali dan kali ini adalah anak kita sendiri"

*

Gimana? udah dapet belum sih feelnya? jangan lupa voment ya

Oh jangan lupa juga baca Lathos di akun wfhnflh. dengan sudut pandang yang berbeda

tnxyuuu

LàthosTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang