Empat : Tentang Waktu

28 4 2
                                    

Suara tawa terdengar jelas ditelingaku saat memasuki ruang kelasku. Tidak. Mereka tidak menertawakanku. Memang sudah kebiasaan mereka saling melempar candaan di pagi hari seperti ini. Ah, ya. Aku sudah kelas 3 SMP. Jangan beranggapan sekolah ini hanya untuk anak SD saja, disini juga ada Sekolah Menengah Pertama atau yang biasa disebut SMP dan mungkin kebanyakan orang menyebutnya dengan masa putih-biru. Namun jangan sekali-kali menyebut Putih-Biru di hadapan teman-temanku, mereka tidak akan mengerti bahwa Putih-Biru adalah sebutan untuk masa SMP karena seperti yang sudah ku jelaskan sebelumnya bahwa sekolahku tidak mengenal yang namanya seragam.

Di kelasku hanya ada 11 orang yang terdiri dari 9 orang siswa dan 2 orang siswi. Kelasku memang dominan siswa dan mungkin kelas yang lain juga. Mengapa demikian? Tak usah ditanya. Seperti yang ku jelaskan sebelumnya, tempat ini sangat menutup diri terhadap peradaban sehingga penduduk ditempat ini berpikir bahwa yang pantas mendapat pendidikan hanya anak laki-laki.

Aku? Mengapa aku masih bisa mendapat pendidikan? Yah, semua tak lepas dari campur tangan Bunda. Semua anak yang tinggal di Balai Penampungan akan disekolahkan oleh Bunda. Baik laki-laki maupun perempuan.

"Perempuan juga harus sekolah. Sekarang sudah zamannya emansipasi wanita" itu kata Bunda.

***

Bugh...
Hampir saja sebuah bola mengenai kepalaku. Aku sangat tidak suka dengan benda itu dan semua teman sekelas ku sudah tahu akan hal itu, tetapi mereka masih saja bermain bola didekatku.
Ku edarkan pandanganku 'dari mana asal bola ini?' Batinku. Mataku menelusuri setiap inci ruang kelas ini. Dan....

"Jadi kalian yang sengaja melempar bola ini ke arahku" kesalku. Sesaat kemudian aku mendengar gelak tawa yang membuatku semakin kesal.

"Minta maaflah pada Moru, Danar!" ucap Neni ketus. Neni adalah satu-satunya teman perempuanku di kelas ini. Neni juga sama sepertiku. Tinggal di Balai Penampungan.

"Untuk apa aku meminta maaf padanya, aku tidak sengaja melakukannya" bantah Danar.

"Sudahlah Nen, lebih baik kita belajar saja. Biarkan dia bermain sesuka hatinya" ucapku ketus.

Aku tahu tidak akan ada yang bisa memerintah Danar karena ia memang sangat keras kepala. Mungkin karena ia adalah anak dari pak Jono yang notabene nya adalah sosok yang sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalku.

Pak Jono bukan orang perpendidikan. Ia dihormati karena ia adalah orang yang bijak. Ia biasa menengahi konflik yang terjadi antar penduduk di tempat ini.


***

Ting... Ting... Ting...
Suara lonceng tua disekolahku sudah berbunyi, pertanda kegiatan sekolah akan dimulai.

Tak lama kemudian Bu Titi masuk dengan membawa tumpukan buku. Seperti biasa, Bu Titi akan mengejar pelajaran sejarah yang sangat membosankan bagiku. Aku tak habis pikir dengan pelajaran yang dijelaskan oleh Bu Titi, kata Bu Titi manusia berasal dari kera, monyet dan apalah itu yang sejenis dengannya. Tapi kata Bunda manusia pertama adalah Nabi Adam. Lalu mana yang harus ku percaya? Pertanyaan itu selalu muncul disaat pelajaran Bu Titi dimulai yang membuat aku tidak konsentrasi pada pelajaran ini. Tapi yaa... Sudahlah! Mungkin suatu saat aku akan menemukan jawabannya.

Entah kapan saat itu akan tiba, tapi aku yakin waktu akan terus berjalan dan aku akan segera menemukan jawaban atas semua pertanyaanku. Tak terkecuali tentang orang tuaku.



To Be Continue

RevolusiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang