Dua: Menerima Keadaan

45 12 9
                                    

Jandrilia Melusina Moru.

Tak terasa sudah 16 tahun aku bernapas di tempat ini. Aku sudah mulai mengerti dan terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Tetapi satu hal yang tidak aku mengerti, Moru. Orang-orang memanggilku Moru. Aku tidak tahu apa arti namaku itu. Bukan hanya itu, bahkan aku tidak tahu siapa yang memberiku nama Jandrilia Melusina Moru. Ah, sudahlah. Memikirkan hal itu membuatku pusing rasanya.

***

Suara adzan subuh membangunkan ku dari tidur nyenyak ku. Aku bergegas keluar kamar dan mendapati Bunda sedang bersiap dengan mukena lusuh nya.

"Moru... Tolong bangunkan adik-adikmu. Suruh mereka berwudhu dan segera ke musholla" perintah Bunda.

"Baiklah Bunda, akan aku bangunkan mereka" jawabku dengan mata yang masih sangat minim.

Ah, ya. Aku melupakan sesuatu. Seseorang yang aku panggil Bunda tadi adalah orang yang mengasuh ku sejak kecil. Mungkin beliau juga yang memberikan nama untuk ku, tapi entahlah aku tidak pernah bertanya soal itu. Satu lagi, yang dimaksud Bunda adik-adikku adalah mereka yang bernasib sama sepertiku. Sama dalam arti mereka tidak tahu siapakah mereka sebenarnya.

Sejak kecil aku sudah berada di balai penampungan anak-anak ini. Kami semua sudah layaknya keluarga. Saling menyayangi dan membantu jika ada yang butuh bantuan.

Bunda sangat berjasa dalam hidupku. Mungkin salah satu alasan ku masih bertahan di tempat ini adalah Bunda. Bundalah yang mengajarkan ku apa arti hidup yang sebenarnya. Dan Bunda pula yang mengenalkan ku pada tuhan ku, Allah. Aku tidak tahu bagaimana jika seandainya Bunda tidak hadir di hidup ku ini. Tapi beruntunglah karena itu hanya sebatas kata seandainya.

Aku sangat menyayangi Bunda. Tetapi ku rasa hidupku kurang sempurna tanpa mengenal orang tua yang melahirkanku. Bukannya aku tak menerima keadaan. Aku menerima keadaan ini. Bahkan sangat menerima. Hanya saja jika seandainya orang tua ku juga hadir di sini mungkin aku akan merasa lebih sempurna.

Teruntuk orang yang melahirkanku

Aku hanya ingin merengkuhmu.
Aku hanya ingin berbicara dan menatap binar matamu.
Adakah engkau tahu?


To Be Continue

RevolusiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang