Tiga: Bersyukur

29 7 3
                                    

Matahari sudah mulai menampakkan diri. Kicauan burung kembali terdengar, rumput-rumput sudah berembun membuat hawa dingin dipagi hari semakin kental.

Kegiatan pagiku masih biasa seperti pagi sebelumnya, membantu Bunda menyiapkan sarapan untuk kami semua.

"Bunda... Bunda" kali ini aku tidak melihat bunda di dapur

"Bunda kemana?" batinku

Tidak biasanya Bunda pergi dipagi hari seperti ini. Tanpa memberitahu kami pula.

"Mungkin Bunda sedang ada keperluan" Batinku.

Ku langkahkan lagi kaki ku ke dapur. Ternyata Bunda sudah menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak pagi ini. Bahan nya sudah lengkap, jadi kuputuskan untuk memasak sendiri pagi ini.

Sekitar tiga puluh menit aku berkutat dengan alat-alat dapur. Sebelum memberikan makanan ini pada adik-adikku, terlebih dahulu aku cicipi hasil karyaku ini.

"Hhmm... Lumayan" Gumamku.

Meski tak seenak masakan Bunda, Namun setidaknya adik-adikku tidak akan keracunan jika memakan makanan ini.

Ku lihat adik-adikku sudah rapi dan sudah bersiap di ruang makan. Ah, bukan ruang makan. Disini tidak ada bedanya mana ruang makan, mana ruang belajar, dan mana tempat tidur. Lebih tepatnya ini adalah ruang serba guna.

"Makanan siapp" teriakku sambil membawa makanan di tanganku.

"Horreeee" terlihat raut gembira diwajah adik-adikku saat mendengar kata 'makanan'.

Meski hanya sepiring nasi ditambah sayur rebung kami sangat bersyukur masih bisa makan. Apapun itu, jika masih bisa dimakan kata Bunda harus disyukuri.

Ah ya, Bunda. Sampai sekarang aku masih belum melihatnya. Kemana Bunda? mungkin urusan Bunda belum selesai, jadi ku putuskan untuk berangkat sekolah bersama adik-adikku.
Jangan bayangkan sekolah ku adalah sebuah gedung beratap yang mewah. Sekolah ku hanyalah gubuk reot yang terletak tidak jauh dari balai penampungan tempat aku tinggal. Sekolah ku berada di paling ujung tempat tinggal ku, bersebelahan dengan pantai sehingga kami dapat mencium aroma laut dari lubang-lubang dibangunan reot yang biasa disebut sekolah ini. Ah, ya. Satu lagi yang membedakan sekolahku dengan sekolah lain di kota adalah seragam. Sekolahku tidak mempunyai peraturan harus memakai seragam. Disini kami belajar menggunakan pakaian seadanya tanpa alas kaki pula.

Meski begitu, aku sangat bersyukur masih bisa belajar dan juga bermain disini.



To Be Continue

RevolusiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang